NEW YORK — Harga Minyak Mentah Naik Hampir 3% Pascaserangan AS ke Iran

Lantai bursa komoditas global berguncang pada sesi perdagangan Senin waktu setempat. Harga minyak mentah melonjak tajam, mencatatkan kenaikan hampir 3% han

Jul 08, 2026 - 17:05
0 0

Lantai bursa komoditas global berguncang pada sesi perdagangan Senin waktu setempat. Harga minyak mentah melonjak tajam, mencatatkan kenaikan hampir 3% hanya dalam hitungan jam. Pemicunya adalah eskalasi dramatis di Timur Tengah: serangan militer langsung Amerika Serikat terhadap target-target strategis di Iran. Keputusan Washington ini sontak menyulut kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan minyak mentah global yang masih sangat bergantung pada stabilitas kawasan Teluk.

Trader dan analis energi langsung memasang mode siaga tinggi. Layar monitor di ruang perdagangan New York dan London berubah menjadi lautan merah—bukan karena kerugian, melainkan karena grafik harga yang meroket vertikal. Ini bukan sekadar reaksi teknikal; ini adalah refleks ketakutan akan perang energi terbuka.

Kronologi Gempuran: Hormuz Memanas

Menurut laporan yang dihimpun detikFinance, serangan AS bukanlah operasi kecil. Militer Amerika dilaporkan menghantam beberapa fasilitas yang diduga menjadi basis operasi yang mengancam jalur pelayaran di Selat Hormuz. Selat ini adalah salah satu choke point paling kritis di dunia; hampir seperlima dari total konsumsi minyak global melewati jalur ini setiap hari.

Sebagai respons langsung, harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) langsung meroket menyentuh level tertinggi dalam beberapa pekan terakhir. Tak mau ketinggalan, patokan global Brent juga melesat sejalan. Tekanan ini diperkuat oleh sentimen bahwa pasokan dari Iran, yang telah kembali menggeliat dalam dua tahun terakhir, bisa kembali terisolasi total.

OPEC+ Ambil Jalan Berlawanan

Menariknya, lompatan harga akibat panasnya geopolitik ini terjadi di tengah manuver berlawanan dari aliansi OPEC+. Di saat pasokan terancam, aliansi produsen minyak pimpinan Arab Saudi dan Rusia itu justru kembali melanjutkan kebijakan normalisasi dengan menaikkan volume produksi. Langkah yang biasanya bersifat "mendinginkan" harga ini seolah tak berdaya melawan dominasi narasi perang.

"Pasar saat ini tidak peduli dengan tambahan barel dari OPEC+. Fokus utama pelaku pasar sepenuhnya tersedot ke Selat Hormuz dan seberapa besar kapasitas ekspor Iran yang benar-benar lumpuh," ujar seorang analis senior komoditas yang enggan disebutkan namanya.

Kebijakan OPEC+ yang biasanya menjadi rem alami bagi harga kini kehilangan tuahnya. Sentimen ketakutan (fear premium) jauh lebih perkasa dibanding fundamental penawaran-permintaan jangka pendek.

Efek Domino Global: FTSE 100 Tergelincir

Guncangan minyak ini tak hanya berhenti di komoditas. Pasar modal global ikut terseret. Indeks FTSE 100 di London dilaporkan tergelincir, menandai hari perdagangan yang suram karena investor mulai memperhitungkan ulang risiko portofolio mereka. Lonjakan biaya energi adalah mimpi buruk bagi emiten maskapai penerbangan dan manufaktur.

Sementara itu, di dalam negeri, dinamika harga berjalan dua arah. Harga minyak mentah yang naik hingga 3% ini kontras dengan nasib batu bara. Komoditas andalan Indonesia itu justru mencatatkan koreksi tipis sebesar 0,31%, menunjukkan bahwa efek perang Teluk tidak merata ke semua sektor energi fosil.

Washington Cabut Izin Ekspor

Pukulan paling telak bagi Teheran adalah keputusan sepihak Gedung Putih yang mencabut izin ekspor minyak Iran. Kebijakan ini adalah buntut langsung dari ketegangan di Selat Hormuz. Dengan dicabutnya izin tersebut, upaya Iran untuk kembali menjadi pemain utama di pasar minyak dunia praktis terhenti. Langkah ini semakin memperketat suplai global dan berpotensi membuat premium geopolitik bertahan lebih lama di harga minyak.

"Ini bukan lagi perang bayangan. Dengan pencabutan izin ini, AS ingin memastikan bahwa tidak ada satu sen pun pendapatan minyak yang mengalir ke Teheran, dan pasar harus siap dengan realita suplai yang lebih ketat," jelas pengamat hubungan internasional dalam sebuah diskusi.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User