Menteri PPPA Serukan Skrining Anemia untuk Generasi Unggul
JAKARTA — Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi menyerukan akselerasi program skrining dan edukasi pencegahan anemia pada remaja putri sebagai fondasi utama mencip...
JAKARTA — Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi menyerukan akselerasi program skrining dan edukasi pencegahan anemia pada remaja putri sebagai fondasi utama menciptakan generasi unggul Indonesia.
Pernyataan ini disampaikan dalam rapat koordinasi yang menekankan bahwa anemia tidak hanya soal kesehatan, melainkan ancaman serius bagi kualitas sumber daya manusia masa depan. “Remaja putri hari ini adalah ibu masa depan. Jika mereka anemia, generasi berikutnya berisiko lahir dalam kondisi stunting,” tegas Arifah.
Mengapa Anemia Jadi Prioritas?
Data Kementerian Kesehatan menunjukkan prevalensi anemia pada remaja putri usia 15-24 tahun mencapai 32 persen pada 2023. Artinya, satu dari tiga remaja putri berisiko mengalami gangguan pertumbuhan, penurunan konsentrasi belajar, dan komplikasi kehamilan di kemudian hari.
Anemia defisiensi besi pada remaja putri berkaitan langsung dengan tingginya angka kematian ibu dan bayi berat lahir rendah. “Kalau kita serius menyongsong Indonesia Emas 2045, maka investasi paling strategis adalah memastikan setiap remaja putri bebas anemia,” ujar Arifah.
Strategi Skrining dan Edukasi Terintegrasi
Kementerian PPPA mendorong perluasan skrining hemoglobin di sekolah-sekolah dan puskesmas melalui kerja sama dengan Kementerian Kesehatan serta Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Program ini menargetkan pemeriksaan rutin bagi siswi SMP dan SMA setiap enam bulan sekali.
Tidak hanya skrining, edukasi gizi seimbang juga diintensifkan. Para remaja putri dibekali pengetahuan tentang pentingnya konsumsi makanan kaya zat besi, protein, dan vitamin C, serta rutin mengonsumsi tablet tambah darah (TTD). Kementerian PPPA juga akan menggandeng organisasi perempuan dan kader PKK untuk sosialisasi di tingkat komunitas.
“Skrining saja tidak cukup. Perubahan perilaku harus terjadi melalui edukasi yang masif. Kami ingin remaja putri sadar bahwa mengonsumsi TTD seminggu sekali adalah bagian dari gaya hidup sehat,” kata Arifah.
Menuju Generasi Unggul Bebas Stunting
Upaya ini merupakan bagian dari peta jalan penurunan stunting nasional. Anemia pada remaja putri menjadi faktor hulu yang sering terabaikan. Tanpa intervensi tegas, rantai malnutrisi antargenerasi akan terus berulang.
Pemerintah menargetkan seluruh kabupaten/kota memiliki program skrining anemia remaja terintegrasi pada 2026. Dukungan anggaran daerah dan kemitraan dengan swasta diharapkan mempercepat pemerataan layanan hingga pelosok.
“Ini perjuangan bersama. Generasi unggul tidak lahir begitu saja, tapi dipersiapkan sejak dini, bahkan sebelum seorang perempuan mengandung. Skrining anemia adalah langkah kecil dengan dampak raksasa,” tutup Arifah.
Baca juga:
Comments (0)