Menteri Fadli Zon Ajak Warga Jaga Lukisan Prasejarah Liangkabori
MUNA, SULAWESI TENGGARA — Menteri Kebudayaan Fadli Zon pada Jumat (25/4) mendatangi langsung Situs Liangkabori, tepatnya ceruk Liang Metanduno, untuk mengedukasi warga sekitar tentang pentingnya men...
MUNA, SULAWESI TENGGARA — Menteri Kebudayaan Fadli Zon pada Jumat (25/4) mendatangi langsung Situs Liangkabori, tepatnya ceruk Liang Metanduno, untuk mengedukasi warga sekitar tentang pentingnya menjaga lukisan cadas purba yang menjadi warisan dunia. Kunjungan ini adalah bagian dari safari budaya Menbud di Sulawesi Tenggara guna menyorot situs-situs yang rentan rusak akibat minimnya pemahaman konservasi.
Di hadapan puluhan warga Desa Metanduno, ia menekankan bahwa kawasan karst itu menyimpan puluhan panel gambar manusia, hewan, dan simbol geometris yang menurut penelitian berusia setidaknya 40.000 tahun. Lukisan ini diyakini sebagai salah satu yang tertua di dunia, bahkan melampaui usia temuan serupa di Eropa.
Kekayaan Purba di Ambang Kerusakan
Meski bernilai tinggi, situs ini terancam oleh vandalisme, sentuhan tangan telanjang, pengelupasan pigmen akibat ulah pengunjung tak bertanggung jawab, serta erosi alami. “Kita tidak ingin kehilangan jejak peradaban nenek moyang hanya karena ketidaktahuan,” tegas Fadli Zon. Ia mencontohkan bahwa lampu kilat, percikan air, dan gesekan langsung mampu mengikis pigmen purba berbahan oker alami dalam hitungan bulan. “Setiap goresan adalah pesan lintas zaman. Kalau kita abai, sains dan sejarah kehilangan bab penting evolusi manusia,” ucapnya di depan panel “perahu”, motif khas yang hanya ditemukan di Muna.
Edukasi dan Pemberdayaan Warga
Za kunjungan itu, Menbud mengumumkan tiga langkah konkret yang akan segera dieksekusi:
- Papan informasi dwibahasa yang dipasang di setiap titik masuk situs
- Pelatihan kelompok sadar wisata cagar budaya untuk pemuda lokal
- Digitasi 3D seluruh panel lukisan guna keperluan ilmiah dan mitigasi kerusakan
Warga setempat, di bawah bimbingan Balai Pelestarian Kebudayaan, akan dilibatkan sebagai pemandu resmi. “Mereka yang paling paham medan dan sejarah lisan. Tinggal kita bekali wawasan konservasi, maka mereka akan menjadi benteng terkuat perlindungan situs,” kata Fadli Zon. Ia juga menyebut bahwa situs Liangkabori saat ini masuk dalam daftar sementara Warisan Dunia UNESCO.
Sinergi Lindungi Warisan Dunia
Pengakuan global itu, menurut Fadli Zon, harus menjadi cambuk agar pemerintah daerah dan pusat lebih serius mengalokasikan anggaran perlindungan. “Jangan sampai setelah diakui, malah rusak karena tidak siap dikelola,” pesannya. Ia mengakhiri kunjungan dengan mengajak seluruh elemen—dari camat hingga pemilik kebun—untuk bersama-sama menjaga situs itu. “Kalau bukan kita, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi?” pungkasnya, disambut tepuk tangan warga yang berjanji membentuk jadwal ronda situs setiap akhir pekan. Lukisan cadas ini bukan sekadar gambar; ia adalah perpustakaan visual manusia prasejarah yang harus diwariskan tanpa cacat ke generasi mendatang.
Comments (0)