Mentan Amran Dorong Pertanian Modern PM-AAS: Pendapatan Petani Naik Tiga Kali Lipat

JAKARTA — Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengebut implementasi sistem Pertanian Modern PM-AAS, terobosan agresif yang diklaim mampu melejitkan produ

Jul 09, 2026 - 17:40
0 0
Mentan Amran Dorong Pertanian Modern PM-AAS: Pendapatan Petani Naik Tiga Kali Lipat

JAKARTA — Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengebut implementasi sistem Pertanian Modern PM-AAS, terobosan agresif yang diklaim mampu melejitkan produktivitas sekaligus melipatgandakan pendapatan petani hingga tiga kali lipat. Langkah cepat ini menjadi strategi kunci pemerintah memangkas ketergantungan impor pangan dan menggenjot kesejahteraan produsen di akar rumput.

Banting Setir dari Cara Konvensional

PM-AAS bukan program subsidi biasa. Skema ini merombak total pola tanam petani dari hulu ke hilir melalui paket teknologi terintegrasi: benih unggul bersertifikat, irigasi presisi, mekanisasi alat mesin pertanian, hingga pendampingan intensif oleh penyuluh ahli. Semua intervensi dijalankan serentak untuk memangkas biaya produksi sekaligus mendongkrak output per hektare.

Hasil uji coba di beberapa sentra padi utama menunjukkan lonjakan signifikan:

  • Produktivitas naik 40–60% dibanding metode tanam konvensional
  • Biaya produksi turun 35% berkat efisiensi air dan pupuk
  • Pendapatan bersih petani melonjak hingga tiga kali lipat — dari rata-rata Rp5 juta menjadi Rp15 juta per hektare per musim tanam

“Kita tidak bisa lagi pakai cara lama. PM-AAS menyatukan benih top, air dikontrol, traktor masuk, dan petani didampingi penuh. Sekali panen, bedanya langsung kelihatan,” ujar Amran dalam keterangan resmi, Kamis.

“Sekarang petani bisa tersenyum. Biaya turun, hasil naik, pendapatan melejit. Ini revolusi yang kami percepat.”

Akselerasi di Sentra Produksi

Kementerian Pertanian menargetkan perluasan PM-AAS ke 500 ribu hektare lahan padi pada tahun ini, naik drastis dari 150 ribu hektare tahun lalu. Fokus awal di 10 provinsi lumbung pangan: Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Sulawesi Selatan, Sumatera Selatan, Lampung, Sumatera Utara, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Selatan, dan Aceh.

Setiap klaster akan dilengkapi:

  • Brigade Alsintan — traktor, transplanter, combine harvester yang dikelola kelompok tani
  • Smart irrigation — sensor kelembaban tanah dan jadwal irigasi berbasis data
  • Posko penyuluhan digital — petani bisa konsultasi real-time via aplikasi
  • Akses KUR syariah — pembiayaan tanpa bunga untuk modal tanam

Pendekatan ini langsung menyasar masalah klasik: kelangkaan pupuk, irigasi tidak terkelola, dan alat berat yang hanya bisa diakses segelintir petani besar. Dengan model korporasi petani, skala ekonomi tercipta dan rantai pasok diperpendek.

Dampak Langsung ke Dompet Petani

Data sementara dari lahan percontohan di Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan, menunjukkan rata-rata pendapatan petani padi melonjak dari Rp5,2 juta menjadi Rp15,6 juta per hektare dalam satu musim. Angka itu sudah memperhitungkan seluruh biaya produksi yang turun drastis karena penggunaan pupuk organik dan irigasi efisien.

“Dulu kami was-was tiap tanam. Sekarang ada kepastian. Panen melimpah, biaya rendah, hasil bersih bisa buat sekolah anak dan perbaiki rumah,” kata H. Mansyur, ketua kelompok tani di Pinrang yang sudah menerapkan PM-AAS secara penuh.

Keberhasilan ini mendorong percepatan replikasi. Mentan Amran menginstruksikan seluruh dinas pertanian provinsi untuk menyiapkan lahan dan kelompok tani penerima manfaat dalam 90 hari ke depan. Target ambisius: Indonesia bebas impor beras pada 2026 dan pendapatan petani minimal dua kali lipat rata-rata nasional.

Langkah Berani di Tengah Tekanan Pangan Global

Akselerasi PM-AAS juga menjadi respons terhadap guncangan pangan dunia akibat perubahan iklim dan ketegangan geopolitik. Dengan sistem ini, Indonesia berharap tidak lagi bergantung pada impor yang rentan fluktuasi harga dan ketersediaan.

“Ketahanan pangan adalah kedaulatan bangsa. Kami tidak mau petani terus menjadi korban kebijakan masa lalu. Sekarang waktunya petani naik kelas,” tegas Amran.

Program ini akan dipantau ketat melalui dashboard digital yang merekam real-time luas tanam, fase pertumbuhan, estimasi panen, hingga serapan pasar. Transparansi data menjadi kunci untuk memastikan intervensi pemerintah tepat sasaran dan tepat waktu.

Dengan akselerasi penuh, PM-AAS diharapkan menjadi model transformasi pertanian nasional yang menyejahterakan petani, bukan sekadar menambah stok pangan di gudang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User