Samarinda — Bazar Murah Pemkot Samarinda Diserbu, Seragam dan Buku Tulis Ludes
SAMARINDA — Gelombang warga memadati Pasar Merdeka sejak Rabu dini hari. Bazar murah kebutuhan sekolah yang digelar Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Samarin
SAMARINDA — Gelombang warga memadati Pasar Merdeka sejak Rabu dini hari. Bazar murah kebutuhan sekolah yang digelar Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Samarinda langsung diserbu dalam waktu kurang dari tiga jam. Seragam putih-biru, buku tulis, tas, hingga sepatu ludes tak bersisa. Para orang tua rela antre panjang demi mendapatkan harga separuh dari pasaran. Bazar ini menjadi angin segar di tengah lonjakan biaya perlengkapan sekolah menjelang tahun ajaran baru.
Pantauan di lokasi, sejak pukul 06.00 WITA, ratusan warga sudah membentuk barisan. Banyak di antaranya datang dari kecamatan pinggiran. Ketika gerbang dibuka pukul 08.00, laju pembeli sulit dikendalikan. Stok seragam SD dan SMP yang disediakan 2.000 setel habis dalam 90 menit pertama. Buku tulis 10.000 eksemplar ludes sebelum pukul 11.00. Total transaksi harian bazar ini diperkirakan menembus Rp300 juta.
Kepala Disdag Samarinda, Andi Harun, tampak memantau langsung. Ia menjelaskan bahwa bazar ini adalah bagian dari program pengendalian inflasi daerah.
“Kami menyasar kebutuhan pokok pendidikan. Seragam, buku, dan alat tulis adalah komponen pengeluaran yang naik signifikan menjelang tahun ajaran. Bazar ini memangkas margin pedagang, memberikan akses langsung dari produsen ke warga,” ujar Andi Harun.
Bazar ini tidak hanya menyediakan perlengkapan sekolah. Disdag juga menggandeng distributor alat tulis lokal, konveksi seragam, serta penerbit buku. Hasilnya, harga jual ditekan rata-rata 40-60 persen dari harga ritel. Sepasang seragam SD dijual Rp45.000 dari harga normal Rp90.000; satu pak buku tulis isi 10 hanya Rp18.000; dan sepatu sekolah dilepas Rp60.000 per pasang.
Antusiasme Ibu-Ibu dan Siasat Belanja
Di tengah kerumunan, sejumlah ibu rumah tangga tampak membawa catatan belanja. Yanti (38), warga Sungai Kunjang, mengaku menyiapkan anggaran Rp300.000 untuk tiga anaknya. “Kalau beli di toko biasa, segitu cuma dapat seragam dan sepatu satu anak. Di sini, saya bisa beli tiga stel seragam, buku, tas, dan sisir. Bener-bener ringan,” katanya.
“Saya sengaja datang pagi-pagi. Takut kehabisan. Tahun lalu saya telat, seragam sudah kosong. Kali ini saya bawa suami buat bantu bawa barang,” timpal Farida, warga Samarinda Ilir.
Antrean panjang juga terjadi di meja pembayaran elektronik. Disdag menerapkan sistem pembayaran cashless untuk mengurangi antrean tunai. Meski sempat mengalami kendala server, transaksi tetap berjalan lancar setelah penambahan titik akses Wi-Fi oleh Dinas Komunikasi dan Informatika.
Poin Kunci Bazar Murah Disdag Samarinda
- Lokasi & Waktu: Pasar Merdeka, Rabu–Kamis, pukul 08.00–16.00 WITA.
- Kuantitas Produk: 2.000 setel seragam, 10.000 eks. buku tulis, 1.500 pasang sepatu, dan 3.000 paket alat tulis.
- Harga Rata-Rata Diskon: 40–60% di bawah harga pasar.
- Target Pengunjung: 5.000 keluarga prasejahtera, dibuktikan dengan kartu keluarga penerima manfaat (KKPM).
- Omzet Harian: Capai Rp300 juta, seluruhnya dikembalikan untuk pengadaan bazar berikutnya.
- Sistem Pembayaran: QRIS dan kartu e-money, tanpa transaksi tunai.
Dampak Langsung bagi Orang Tua
Berdasarkan data Disdag, pengeluaran rata-rata per anak untuk perlengkapan sekolah tahun ajaran baru menyentuh Rp750.000. Dengan memanfaatkan bazar, pengeluaran itu turun menjadi Rp350.000–Rp400.000. Selisih ini cukup berarti bagi rumah tangga dengan pendapatan harian. Disdag memproyeksikan bazar serupa akan digelar secara bergilir di tiga pasar tradisional lain hingga akhir bulan.
“Bazar ini bukan seremonial. Kami evaluasi setiap jam. Kalau ada keluhan stok, kami langsung hubungi pemasok cadangan. Prinsip kami: stok harus cukup, antrean harus bergerak, dan harga harus transparan,” tegas Andi Harun.
Keberhasilan bazar ini juga memicu respons positif dari DPRD Samarinda. Ketua Komisi II, Rahmawati, menyatakan siap mendukung alokasi anggaran tambahan agar frekuensi bazar ditingkatkan menjadi dua kali dalam setahun. “Kita ingin orang tua tidak lagi berutang untuk membeli seragam anak,” ujarnya singkat saat meninjau lokasi bersama wali kota.
Hingga berita ini diturunkan, Disdag memastikan akan menambah 500 paket alat tulis dan 300 pasang sepatu pada hari kedua. Warga diimbau membawa dokumen KKPM agar proses verifikasi lebih cepat. Pemerintah Kota Samarinda menargetkan 60 persen keluarga sasaran dapat terlayani sebelum masa orientasi sekolah dimulai pekan depan.
Comments (0)