Menhan Jerman Tunjuk Trump Sebagai Biang Kerok Penutupan Selat Hormuz, Desak Jalur Minyak Segera Dibuka

Berlin - Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali memanas seiring penutupan Selat Hormuz oleh Iran. Dalam perkembangan terbaru, Menteri Pertahanan Jerman, Boris Pistorius, secara terbuka melontarka

Jul 08, 2026 - 00:09
0 0
Menhan Jerman Tunjuk Trump Sebagai Biang Kerok Penutupan Selat Hormuz, Desak Jalur Minyak Segera Dibuka

Berlin - Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali memanas seiring penutupan Selat Hormuz oleh Iran. Dalam perkembangan terbaru, Menteri Pertahanan Jerman, Boris Pistorius, secara terbuka melontarkan kritik pedas yang menuding Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, sebagai pihak yang paling bertanggung jawab atas krisis maritim tersebut. Pernyataan ini menandai keretakan diplomasi transatlantik yang semakin dalam terkait eskalasi militer di Teluk Persia.

Dalam sebuah wawancara eksklusif dengan stasiun televisi lokal Jerman, ARD, Pistorius tidak menggunakan bahasa diplomatik untuk menggambarkan situasi tersebut. Berdasarkan laporan yang dihimpun media kami pada Senin (22/6/2026), Pistorius mengibaratkan kebijakan Washington sebagai sumbat yang memperparah penyempitan jalur logistik energi dunia.

"Pada akhirnya, sumbat di leher botol Selat Hormuz didorong masuk oleh Donald Trump, bukan oleh kami, tetapi kami memiliki kepentingan untuk membukanya kembali,"

Pernyataan ini merujuk langsung pada dampak operasi militer skala besar yang dilancarkan AS dan Israel. Seperti diketahui, Selat Hormuz secara efektif lumpuh total sejak perang destruktif berkecamuk pada 28 Februari lalu. Serangan gabungan AS-Israel terhadap infrastruktur vital Iran telah memicu respons balasan dari Teheran berupa blokade di perairan strategis tersebut. Langkah Iran ini dianggap sebagai ‘sumbat’ yang menghentikan hampir seperlima pasokan minyak global.

Dampak Serius pada Pasokan Energi Global

Pistorius menekankan bahwa meskipun Jerman dan Eropa tidak menjadi pemicu konflik, merekalah yang kini paling merasakan dampak ekonominya. Selat Hormuz merupakan jalur arteri bagi transportasi minyak dan gas alam cair (LNG). Penutupan jalur ini telah menyebabkan lonjakan harga energi yang signifikan di pasar Eropa, mengancam stabilitas industri dan rumah tangga di tengah upaya pemulihan ekonomi.

Menteri Pertahanan Jerman tersebut menyerukan agar tekanan internasional segera difokuskan untuk membuka kembali akses pelayaran. Ia menegaskan bahwa Berlin memiliki kepentingan vital untuk memulihkan kebebasan navigasi di wilayah tersebut. Pernyataan Pistorius ini sekaligus membuka front diplomatik baru, di mana sekutu NATO secara eksplisit menyalahkan pendekatan agresif Trump sebagai akar dari bencana kemanusiaan dan ekonomi ini.

Eskalasi yang Dipicu Operasi Militer Februari

Krisis ini bermula dari serangan militer besar-besaran pada akhir Februari yang menargetkan sejumlah fasilitas nuklir dan militer Iran. Respons Iran yang cepat dengan menutup Selat Hormuz dinilai sebagai konsekuensi langsung dari langkah ofensif yang diambil tanpa konsultasi matang dengan sekutu Eropa. Kini, Berlin dan negara-negara Eropa lainnya terjebak dalam upaya menenangkan situasi sambil memperbaiki hubungan yang retak dengan Washington.

Para analis di Beritatercepat.com mencatat bahwa ini adalah pertama kalinya seorang pejabat tinggi pertahanan Jerman secara terbuka menampar kebijakan Gedung Putih dengan retorika setajam ini. Situasi ini menunjukkan isolasi diplomatik AS yang mulai terasa di tubuh aliansi tradisionalnya, sembari Iran terus memperkuat posisi tawarnya di jalur perairan paling krusial di planet ini. Kini, dunia menanti apakah desakan Berlin mampu membuka blokade yang telah mencekik jalur distribusi energi global tersebut.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
fitri-handayani

Reporter Lapangan. Reporter lapangan peristiwa terkini.

Comments (0)

User