Mendagri Resmi Tutup Puncak HUT ke-46 Dekranas Nasional
JAKARTA — Menteri Dalam Negeri (Mendagri) secara resmi menutup seluruh rangkaian peringatan 46 tahun Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) dalam sebuah seremoni puncak yang digelar di Balai Sidang Jak...
JAKARTA — Menteri Dalam Negeri (Mendagri) secara resmi menutup seluruh rangkaian peringatan 46 tahun Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) dalam sebuah seremoni puncak yang digelar di Balai Sidang Jakarta, pekan ini. Penutupan tersebut menandai akhir dari rangkaian kegiatan yang telah berlangsung lebih dari sebulan, menyorot geliat dan ketangguhan industri kerajinan Tanah Air.
Panggung Kreativitas dari Seluruh Penjuru
Sejak awal April, Dekranas menggelar berbagai kegiatan strategis meliputi pameran kerajinan unggulan dari 34 provinsi, kompetisi desain kontemporer berbasis kearifan lokal, serta seminar nasional yang mempertemukan perajin dengan pelaku e-commerce dan investor. Lebih dari 2.500 produk kerajinan dipamerkan, mulai dari tenun ikat Nusa Tenggara Timur, ukiran kayu Jepara, batik kontemporer, anyaman purun Kalimantan, hingga perhiasan mutiara Maluku.
Acara ini menjadi etalase nyata bahwa sektor kerajinan bukan sekadar warisan budaya, melainkan motor penggerak ekonomi yang menyerap lebih dari 18 juta tenaga kerja di seluruh Indonesia. Para perajin mendapatkan akses langsung ke pembeli global, program pendampingan desain, dan fasilitasi sertifikasi hak kekayaan intelektual.
Dekranas: Pilar Ekonomi Kreatif yang Tak Lekang Waktu
Dalam sambutannya, Mendagri menekankan bahwa di usia 46 tahun, Dekranas harus bertransformasi menjadi katalisator inovasi. “Kita tidak boleh hanya mengandalkan motif klasik. Perajin harus berani berkolaborasi dengan desainer muda untuk menciptakan produk yang relevan dengan pasar global tanpa kehilangan identitas,” ujarnya. Pernyataan ini disambut antusias oleh ratusan perajin yang hadir.
Mendagri juga menyoroti pentingnya sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan Dekranas untuk membuka akses permodalan, pelatihan digital marketing, serta perlindungan indikasi geografis. Anggaran pendampingan UMKM berbasis kerajinan tahun ini ditingkatkan, sejalan dengan arahan Presiden untuk menjadikan desa sebagai pusat produksi kerajinan ekspor.
Ketua Umum Dekranas menambahkan, pihaknya akan segera meluncurkan platform marketplace khusus produk artisan bersertifikat. “Kami ingin memutus rantai tengkulak. Perajin harus bisa langsung menjual karyanya ke konsumen akhir di dalam dan luar negeri dengan harga yang adil,” tegasnya.
Penghargaan dan Harapan Baru
Puncak acara ditutup dengan pemberian Dekranas Award kepada tiga kategori: Inovasi Material Daur Ulang, Desain Terbaik Pasar Ekspor, dan Pelestarian Teknik Tradisional. Karya pemenang akan diikutsertakan dalam misi dagang ke Milan Design Week tahun depan.
Peringatan kali ini menegaskan bahwa sektor kerajinan nasional sedang menuju era baru. Dengan dukungan kebijakan afirmatif, transformasi digital, dan regenerasi perajin muda, Dekranas optimistis nilai ekspor kerajinan Indonesia dapat menembus 1,5 miliar dolar AS dalam lima tahun ke depan. Seluruh rangkaian acara dinyatakan resmi ditutup, namun semangat untuk mengangkat martabat perajin Indonesia baru saja dimulai.
Baca juga:
Comments (0)