Menbud Fadli Zon Serukan Perlindungan Lukisan Tertua Dunia di Goa Liangkobori
MUNA, SULAWESI TENGGARA — Menteri Kebudayaan Fadli Zon pagi ini langsung turun ke lapangan menyerukan gerakan nasional menjaga lukisan gua tertua dunia di kawasan Goa Liangkobori. Seruan disampaikan...
MUNA, SULAWESI TENGGARA — Menteri Kebudayaan Fadli Zon pagi ini langsung turun ke lapangan menyerukan gerakan nasional menjaga lukisan gua tertua dunia di kawasan Goa Liangkobori. Seruan disampaikan di depan puluhan warga dan pemangku kepentingan, menekankan status genting warisan arkais tersebut yang terus terancam oleh faktor alam dan kelalaian manusia.
Status Darurat Cagar Budaya Kelas Dunia
Goa Liangkobori selama ini menyimpan panel lukisan yang diperkirakan berusia lebih dari 45.500 tahun—karya seni figuratif paling awal yang pernah ditemukan arkeolog di muka Bumi. Gambar babi rusa endemik Sulawesi serta stensil tangan manusia purba yang menempel di dinding batu gamping kini berada dalam kondisi kritis. Hasil pemantauan terbaru menunjukkan pengelupasan pigmen mineral semakin cepat, dipicu oleh perubahan kelembapan dan paparan sinar matahari langsung akibat runtuhnya sebagian tudung karst.
Menteri Fadli Zon menegaskan bahwa status cagar budaya nasional yang disandang oleh kompleks Liangkobori harus diikuti dengan langkah perlindungan yang lebih konkret. "Kita tidak boleh kehilangan halaman pertama buku sejarah umat manusia," ujarnya di sela peninjauan. Ia meminta pemerintah daerah segera merevisi rencana tata ruang wilayah agar zona penyangga di sekitar mulut gua diperluas, dan akses wisata diatur lebih ketat.
Ancaman Vandalisme dan Desakan Anggaran
Selain degradasi alami, situs ini juga menghadapi risiko vandalisme. Beberapa panel di bagian rendah menunjukkan goresan modern yang meresahkan peneliti. Menteri menyerukan patroli harian oleh komunitas adat setempat dan pemasangan sistem pemantauan elektronik yang terhubung langsung ke pusat komando Badan Pelestarian Kebudayaan.
Rencana pengajuan anggaran khusus senilai Rp 45 miliar untuk pembangunan kanopi protektif dan laboratorium konservasi mini di Liangkobori dipastikan masuk dalam prioritas Kementerian Kebudayaan. Dana itu juga akan digunakan untuk mendigitalisasi seluruh kontur lukisan dengan metode LiDAR 3D, memudahkan pemantauan perubahan dan rekonstruksi virtual andai terjadi kerusakan permanen.
Keterlibatan Masyarakat Lokal Jadi Kunci
Fadli Zon menggarisbawahi bahwa strategi pelestarian tidak bisa hanya bertumpu pada aparat pusat. "Masyarakat adat adalah penjaga pertama. Saat ini sudah terbentuk Kelompok Sadar Wisata yang dibekali pelatihan konservasi dasar, tapi mereka butuh insentif jangka panjang," jelasnya. Pemerintah menjanjikan skema bagi hasil dari tiket wisata berbasis konservasi yang akan disalurkan langsung ke rekening kelompok penjaga situs.
Ketua Tim Arkeolog Universitas Halu Oleo, yang turut mendampingi kunjungan menteri, mengungkapkan bahwa penelitian di Liangkobori masih menyisakan banyak misteri. "Ada indikasi kuat adanya lapisan budaya lebih tua di bawah lantai gua. Setiap sentimeter tanah di sini berpotensi mengubah buku teks sejarah Asia Tenggara," ungkapnya. Oleh karena itu, seluruh aktivitas di zona inti harus steril dari aktivitas yang dapat mengganggu stratigrafi.
Dengan siaga darurat yang kini diberlakukan, seluruh pihak berharap lukisan tertua dunia itu dapat terus bercerita kepada generasi mendatang. Kementerian Kebudayaan berkomitmen memantau setiap perkembangan di Liangkobori secara rutin dan akan memberikan laporan berkala kepada publik.
Baca juga:
Comments (0)