Megawati Resmikan Monumen Peringatan 30 Tahun Tragedi Kudatuli
JAKARTA – Dalam sebuah upacara yang sarat emosi dan simbolisme, Megawati Soekarnoputri pagi tadi meresmikan Monumen Kudatuli, tepat tiga dekade setelah tragedi politik 27 Juli 1996 mengguncang Indon...
JAKARTA – Dalam sebuah upacara yang sarat emosi dan simbolisme, Megawati Soekarnoputri pagi tadi meresmikan Monumen Kudatuli, tepat tiga dekade setelah tragedi politik 27 Juli 1996 mengguncang Indonesia. Monumen ini berdiri kokoh di bekas kantor DPP PDI yang diserbu, menandai perjalanan panjang perjuangan demokrasi.
Upacara yang Dihadiri Ratusan Pelayat
Ratusan orang memenuhi area monumen sejak pagi. Mereka terdiri dari simpatisan partai, keluarga korban, aktivis 98, serta tokoh-tokoh reformasi. Banyak yang mengenakan pakaian serba hitam, sebagian membawa foto anggota keluarga yang hilang atau tewas dalam kerusuhan tersebut. Suasana hening berubah menjadi isak tangis saat nama-nama korban dibacakan dalam prosesi “Mengenang Pahlawan Demokrasi”.
Megawati tiba puluhan menit lalu dengan pengawalan ketat. Ia langsung menuju prasasti dan melakukan penandatanganan peresmian. Monumen setinggi delapan meter itu menampilkan patung tangan terkepal yang mematahkan belenggu, simbol perlawanan terhadap tirani. Di sekelilingnya terdapat 27 tiang bendera yang melambangkan tanggal kejadian, serta lempengan marmer hitam berisi kronologi peristiwa.
Pesan Tegas Megawati: Jangan Lupakan Sejarah
Dalam pidato singkatnya, Megawati yang saat itu menjabat Ketua Umum PDI dan menjadi korban langsung dari upaya kudeta partai oleh rezim Orde Baru, menyampaikan bahwa monumen ini adalah kado bagi seluruh rakyat Indonesia. “Ini bukan milik partai, ini milik bangsa. Karena dari titik inilah gerakan reformasi menemukan momentumnya,” tegasnya. Ia juga menyinggung bahwa banyak pihak mencoba merevisi atau menghilangkan narasi kelam masa lalu, dan pendirian monumen ini menjadi jawaban bahwa ingatan kolektif tidak bisa ditawar.
Acara turut dihadiri oleh sejumlah menteri, gubernur, dan para wali kota. Puan Maharani, yang juga hadir, terlihat mendampingi ibunya sepanjang prosesi. Keluarga besar korban diberikan tempat khusus di barisan depan, sebagai bentuk penghormatan.
Kronologi Singkat Tragedi Kudatuli
Untuk menyegarkan ingatan publik, 27 Juli 1996 adalah hari ketika kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro 58, Jakarta, diserbu oleh massa pro-pemerintah yang didukung aparat keamanan. Serangan brutal itu menyebabkan puluhan orang tewas dan ratusan luka-luka. Beberapa aktivis hilang secara misterius. Peristiwa ini memicu kemarahan nasional, menjadi katalis bagi gerakan mahasiswa, buruh, dan rakyat yang akhirnya melengserkan Presiden Soeharto pada 1998.
Lokasi monumen kini menjadi bagian dari kawasan cagar budaya yang dilindungi pemerintah daerah. Pengunjung dapat mengakses museum mini yang memutar dokumenter, menampilkan foto-foto asli, dan mendengarkan testimoni para penyintas. Setiap tanggal 27 Juli, akan digelar peringatan rutin dengan diskusi publik dan pementasan teaterikal.
UPDATE: Beberapa menit lalu, arus lalu lintas di Jalan Diponegoro sudah kembali normal setelah sempat dialihkan selama dua jam. Polisi masih bersiaga di sekitar lokasi untuk mengantisipasi kerumunan.
Comments (0)