Protes Wartawan Malang Raya: Presiden Diminta Tarik Ucapan Londo Ireng

MALANG, DETIK INI JUGA — Ratusan jurnalis yang tergabung dalam empat organisasi pers besar di Malang Raya memadati Bundaran Tugu, Senin pagi (27/7/2026), dalam aksi damai mengecam keras pernyataan P...

Jul 27, 2026 - 23:22
0 0
Protes Wartawan Malang Raya: Presiden Diminta Tarik Ucapan Londo Ireng

MALANG, DETIK INI JUGA — Ratusan jurnalis yang tergabung dalam empat organisasi pers besar di Malang Raya memadati Bundaran Tugu, Senin pagi (27/7/2026), dalam aksi damai mengecam keras pernyataan Presiden mengenai “Londo Ireng”. Massa membawa spanduk dan poster bertuliskan penolakan terhadap ujaran yang dinilai merendahkan profesi wartawan.

Kronologi Aksi

Aksi dimulai pukul 09.00 WIB. Perwakilan PWI Malang Raya, AJI Malang, IJTI Korda Malang, dan PFI Malang bergantian menyampaikan orasi di atas mobil komando. Mereka memprotes pernyataan Presiden yang dilontarkan dua hari sebelumnya dalam sebuah acara kenegaraan. Istilah “Londo Ireng”—yang secara harfiah berarti “Belanda Hitam” dalam dialek lokal—dinilai menstigma kerja jurnalistik investigasi sebagai tindakan kolonial dan tidak beretika.

Tuntutan Utama

Dalam pernyataan sikap yang dibacakan di depan massa, para jurnalis menekankan tiga tuntutan mendesak:

  • Presiden menarik kembali ucapan secara terbuka dan menyampaikan permintaan maaf kepada seluruh insan pers.
  • Pemerintah menjamin keamanan jurnalis di lapangan, terutama yang tengah menangani laporan investigasi.
  • Dewan Pers segera merespons dengan mengeluarkan sikap resmi yang memperkuat perlindungan terhadap wartawan dari intimidasi verbal.

Salah satu orator, Ketua PWI Malang Raya, menegaskan bahwa pernyataan Presiden bukan sekadar selip lidah. “Ini berpotensi mempersilakan kekerasan terhadap wartawan, karena dianggap musuh yang harus dilawan,” ujarnya. Suasana aksi tetap tertib, dikawal puluhan personel kepolisian yang berjaga di sekitar taman.

Respons Dewan Pers

Hingga berita ini diturunkan, Dewan Pers belum mengeluarkan pernyataan resmi. Namun, sumber internal menyebutkan bahwa rapat pimpinan tengah berlangsung secara tertutup. Sejumlah anggota Dewan Pers dikabarkan akan melakukan audiensi dengan pihak Istana dalam waktu 1x24 jam.

Dampak pada Kerja Jurnalistik

Puluhan jurnalis peserta aksi mengaku mengalami kekhawatiran pasca-pernyataan itu. “Klien sumber kami jadi takut bicara. Mereka mengira kami adalah ‘Londo Ireng’ yang dimaksud Presiden,” ujar seorang jurnalis investigasi. Solidaritas ini juga diikuti oleh jaringan jurnalis di kota lain. Aksi serupa direncanakan di Surabaya dan Jakarta besok.

Pagi ini, tanda tangan dukungan terus mengalir dari akademisi, aktivis, dan masyarakat sipil. Satu hal pasti: profesi wartawan menolak disamakan dengan penjajah. Aksi di Bundaran Tugu menjadi titik temu empat organisasi pers yang jarang bersatu—semua demi kehormatan kerja pers.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User