MEDAN — Puluhan mahasiswa Universitas Darma Agung (UDA) kembali turun ke jalan pada Jumat (28/8/2026), menggelar aksi protes di depan gerbang kampus di Jalan Dr TD Pardede, Medan. Aksi ini merupakan lanjutan dari serangkaian protes sebelumnya, menyusul pencabutan akreditasi yang menimpa kampus tersebut. Para mahasiswa menuntut kepastian mengenai kelanjutan pendidikan mereka, termasuk dipermudahnya proses perpindahan ke perguruan tinggi lain.
Akreditasi Dicabut, Mahasiswa Resah
Pencabutan akreditasi Universitas Darma Agung menjadi pukulan telak bagi civitas akademika. Bagi mahasiswa, status akreditasi bukan sekadar formalitas: ijazah, kelulusan, hingga prospek kerja mereka menjadi dipertaruhkan. Keresahan itu memuncak ketika kabar pencabutan akreditasi menyebar, sehingga sejumlah mahasiswa memilih menyuarakan protes secara langsung di depan kampus.
Sebelum aksi Jumat itu, mahasiswa telah menyampaikan aspirasi dan meminta kepastian mengenai kelanjutan studi. Namun, menurut mereka, tidak ada jawaban meyakinkan dari pihak universitas. Kegelisahan pun kian besar karena banyak mahasiswa berbondong-bondong ingin pindah kampus demi menjamin masa depan akademik mereka.
Kronologi Kejadian
- Kabar pencabutan akreditasi menyebar — Mahasiswa mulai saling bertanya dan mencari kepastian mengenai status kampus serta kelanjutan perkuliahan mereka.
- Mahasiswa menyuarakan keresahan — Gelombang protes pertama muncul. Mahasiswa meminta pihak universitas menjelaskan langkah penyelamatan pendidikan ribuan mahasiswa.
- Tidak ada kepastian dari kampus — Jawaban yang dinilai mengambang membuat mahasiswa semakin frustrasi. Sebagian mulai menyiapkan berkas untuk pindah ke perguruan tinggi lain.
- Aksi Jumat (28/8/2026) — Puluhan mahasiswa kembali berunjuk rasa di depan kampus di Jalan Dr TD Pardede, Medan, menuntut kejelasan arah kebijakan universitas.
- Rektor disebut mengancam DO — Alih-alih meredakan situasi, pimpinan kampus justru disebut mengancam akan mendrop out (DO) mahasiswa yang memilih pindah kampus.
Tuntutan Mahasiswa
Dalam aksinya, para mahasiswa menyampaikan sejumlah tuntutan kepada pihak universitas:
- Kejelasan status akreditasi universitas dan seluruh program studi;
- Jaminan kelanjutan pendidikan bagi seluruh mahasiswa yang masih terdaftar;
- Kemudahan proses perpindahan bagi mahasiswa yang ingin pindah ke kampus lain tanpa hambatan administratif;
- Perintisan program studi asal (prodi asal) agar nilai dan masa studi mahasiswa tidak hilang;
- Transparansi atas langkah pemulihan yang sedang diupayakan universitas.
"Kami hanya ingin belajar dengan tenang. Kalau akreditasi sudah dicabut, kami butuh kepastian, bukan ancaman," ujar salah satu perwakilan mahasiswa dalam aksi itu.
Ancaman DO Perkeruh Suasana
Alih-alih meredakan situasi, kabar bahwa rektor mengancam akan mendrop out mahasiswa yang berencana pindah kampus justru memperkeruh keadaan. Ancaman itu dinilai mahasiswa sebagai bentuk pembiaran atas nasib mereka. "Nasib kami sudah tergantung, malah diancam DO. Kami bukan mau kabur, kami hanya ingin hak kami dijamin," kata mahasiswa lain yang ikut beraksi.
Praktik yang dinilai menghalang-halangi mahasiswa pindah itu, tambah mereka, justru berpotensi merugikan mahasiswa sendiri. Sejumlah mahasiswa mengaku sudah mengantre surat keterangan aktif kuliah dan transkrip nilai sebagai syarat pendaftaran di kampus tujuan, namun prosesnya berjalan lambat sehingga mereka khawatir kehilangan kesempatan daftar ulang di perguruan tinggi lain.
Masa Depan Pendidikan Dipertaruhkan
Bagi mahasiswa semester akhir, persoalan ini semakin mendesak. Mereka mengkhawatirkan penulisan skripsi, sidang, wisuda, hingga penerbitan ijazah ikut terganjal oleh status akreditasi kampus. Sementara mahasiswa semester awal merasa dirugikan karena memilih UDA saat status kampus masih baik, jauh sebelum masalah akreditasi muncul.
Orang tua mahasiswa pun turut merasakan kegelisahan ini. Sebagian dari mereka mengaku telah mengeluarkan biaya pendidikan yang tidak sedikit kini berisiko hilang percuma jika status kampus tidak kunjung pulih dan anak-anaknya tidak mendapat jalan keluar yang jelas.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada penjelasan resmi lanjutan dari Universitas Darma Agung mengenai langkah pemulihan akreditasi maupun mekanisme perlindungan bagi mahasiswa yang ingin pindah. Mahasiswa berjanji aksi akan terus berlanjut selama tuntutan mereka belum dijawab. Kepastian pendidikan, tegas mereka, tidak bisa ditawar.
Comments (0)