Malioboro Full Pedestrian 24 Jam, Pedagang Minta Parkir Disiapkan
Rencana Pemda DIY memberlakukan kawasan Malioboro sebagai area full pedestrian 24 jam mulai November 2026 langsung memicu reaksi keras dari kalangan pedaga
Rencana Pemda DIY memberlakukan kawasan Malioboro sebagai area full pedestrian 24 jam mulai November 2026 langsung memicu reaksi keras dari kalangan pedagang. Mereka menuntut jaminan kesiapan infrastruktur parkir sebelum kebijakan itu digulirkan. Slamet Santoso, perwakilan pedagang Teras Malioboro, menegaskan bahwa kondisi parkir saat ini masih jauh dari kata layak untuk menopang kawasan bebas kendaraan sepenuhnya. "Masalah transportasi yang saya sampaikan masih belum bisa memenuhi atau infrastruktur terkait dengan masalah parkiran," ujarnya, Senin (6/7/2026). Ketiadaan parkir memadai dikhawatirkan justru membuat wisatawan enggan datang—bukan makin nyaman, tapi malah kabur.
Analisis Infrastruktur vs Ambisi Kebijakan
Kebijakan full pedestrian sejatinya bukan barang baru bagi Malioboro. Kawasan ini sudah menjalani penataan bertahap sejak 2022 dengan pembatasan jam kendaraan. Namun lompatan ke 24 jam penuh dinilai terlalu agresif tanpa fondasi transportasi pendukung yang solid. Data di lapangan menunjukkan:
- Kapasitas parkir: Hingga Juli 2026, kantung parkir eksisting (Abu Bakar Ali, Malioboro Mall, area utara) hanya mampu menampung sekitar 1.200 kendaraan, sementara kunjungan wisatawan harian puncak mencapai 15.000–20.000 orang.
- Shuttle dan feeder: Rencana armada feeder listrik dari parkir terpusat ke kawasan baru menyentuh 30% kesiapan operasional, berdasarkan pantauan komunitas transportasi lokal.
- Dampak ekonomi: Survei internal Paguyuban Teras Malioboro mencatat 65% pedagang khawatir omset turun jika akses kendaraan ditutup total tanpa solusi parkir jelas.
| Aspek | Kondisi Saat Ini (Juli 2026) | Kebutuhan untuk Full Pedestrian 24 Jam |
|---|---|---|
| Kantung Parkir | 5 lokasi, kapasitas ~1.200 kendaraan | Minimal 8–10 lokasi, kapasitas 3.000+ kendaraan |
| Armada Feeder | 15 unit (30% siap) | 50 unit dengan headway 5 menit |
| Sosialisasi Pedagang | Baru 1 kali pertemuan informal | Simulasi operasional dan kompensasi transisi |
"Pemerintah harus realistis. Full pedestrian tanpa parkir memadai hanya akan memindahkan Malioboro dari pusat wisata ke titik macet baru di sekitarnya," tegas pengamat tata kota dari UGM, Dr. Arif Wicaksono. Ia menyarankan pendekatan bertahap: full pedestrian malam hari dulu (pukul 20.00–05.00) sebelum ekspansi ke 24 jam.
Langkah yang Bisa Diambil
Pemda DIY sebenarnya sudah menyiapkan tiga skenario mitigasi, namun belum ada yang final. Pendekatan paling masuk akal: mengintegrasikan parkir eksisting dengan sistem park-and-ride berbasis aplikasi, plus insentif bagi wisatawan yang menggunakan feeder. Tanpa itu, kekhawatiran pedagang bukan sekadar panik—melainkan sinyal awal kegagalan kebijakan.
Comments (0)