PT Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi mencatat peningkatan signifikan dalam kelancaran dan ketertiban distribusi Bahan Bakar Minyak (BBM) di Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Berdasarkan pemantauan dan evaluasi lapangan terbaru, lebih dari 35 Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) atau menyentuh angka 80 persen dari total SPBU di kota tersebut kini beroperasi dalam kondisi yang jauh lebih kondusif dan teratur.
Sebelumnya, beberapa titik pengisian BBM di Makassar sempat diwarnai penumpukan antrean panjang kendaraan yang mengular hingga ke jalan raya. Situasi tersebut sempat memicu kemacetan serta kecemasan warga terhadap ketersediaan BBM bersubsidi, seperti Biosolar dan Pertalite. Namun, melalui intervensi manajemen yang agresif dan kolaborasi lintas sektor, dinamika tersebut berhasil dikendalikan secara efektif.
"Kami terus mengoptimalkan pengawasan serta ketepatan suplai harian agar masyarakat tidak lagi merasa cemas. Pencapaian 80 persen SPBU yang kondusif di Makassar ini adalah hasil dari integrasi sistem digitalisasi dan penertiban lapangan secara konsisten," ungkap perwakilan manajemen Pertamina Patra Niaga.
Kronologi Pelaksanaan Penertiban Layanan BBM di Makassar
Untuk mencapai tingkat pemulihan hingga 80 persen tersebut, Pertamina menerapkan serangkaian langkah terstruktur secara bertahap sejak awal bulan ini:
- Evaluasi Rantai Logistik: Tim operasional melakukan audit ketat terhadap alur pengiriman dari Integrated Terminal Makassar menuju SPBU guna mencegah kelangkaan stok akibat keterlambatan armada armada mobil tangki.
- Pengetatan Verifikasi QR Code: Pemberlakuan kewajiban penggunaan QR Code Subsidi Tepat diperketat bagi pengguna roda empat yang membeli Biosolar dan Pertalite guna menekan aksi penyalahgunaan.
- Operasi Penertiban Gabungan: Pertamina bekerja sama dengan Polrestabes Makassar dan Polda Sulawesi Selatan untuk merazia kendaraan bermotor dengan tangki modifikasi (pelangsir) di sekitar area SPBU.
- Penebalan Pasokan Harian: Mempertebal alokasi BBM harian hingga 10 sampai 15 persen di lokasi-lokasi SPBU yang berada pada jalur utama kemacetan kota.
Analisis Efektivitas Intervensi Layanan SPBU
Penguraian antrean di mayoritas SPBU Makassar membuktikan bahwa kombinasi penegakan aturan dan keandalan pasokan efektif memulihkan stabilitas pasar. Menurut pengamat kebijakan publik lokal, "Langkah tegas dalam menertibkan pelangsir BBM serta digitalisasi transaksi melalui QR Code merupakan kunci utama dalam mengembalikan hak masyarakat yang memang berhak menerima subsidi."
Berikut adalah tabel perbandingan indikator operasional layanan SPBU di Kota Makassar sebelum dan sesudah digelarnya intervensi penertiban oleh Pertamina:
| Indikator Operasional | Sebelum Intervensi | Kondisi Saat Ini |
|---|---|---|
| Persentase SPBU Kondusif | 30% - 40% | 80% (Lebih dari 35 SPBU) |
| Rata-rata Waktu Tunggu Antrean | 45 - 60 Menit | 10 - 15 Menit |
| Tingkat Kepatuhan QR Code | Sekitar 65% | Mencapai 95% |
| Indikasi Aksi Pelangsir | Tinggi di Banyak SPBU | Ditekan Sangat Minimal |
Langkah Lanjutan Menjaga Stabilitas Pasokan
Meskipun 80 persen SPBU telah beroperasi dengan lancar, Pertamina Patra Niaga menegaskan tidak akan mengendurkan pengawasan. Sisa 20 persen SPBU yang masih mencatatkan antrean pada jam-jam sibuk terus mendapatkan pendampingan khusus, baik melalui penambahan petugas posko maupun percepatan ritase pengiriman BBM.
Pertamina mengimbau kepada seluruh masyarakat di Makassar agar tetap membeli BBM sesuai kebutuhan normal dan tidak melakukan pembelian berlebih (panic buying). Stok BBM nasional dipastikan dalam posisi sangat aman. Apabila masyarakat menemukan dugaan pelanggaran atau kecurangan di SPBU, warga diminta aktif melapor melalui Call Center Pertamina 135.
Comments (0)