Longsor Maut Aberfan: 116 Anak Tewas, Britania Raya Berduka

Tanggal 21 Oktober 1966 menjadi hari paling kelam bagi desa kecil Aberfan di Wales Selatan. Sebuah bencana dahsyat terjadi saat tumpukan raksasa limbah tambang batu bara runtuh, mengubur hidup-hidup s...

Jul 12, 2026 - 07:58
0 0
Longsor Maut Aberfan: 116 Anak Tewas, Britania Raya Berduka

Tanggal 21 Oktober 1966 menjadi hari paling kelam bagi desa kecil Aberfan di Wales Selatan. Sebuah bencana dahsyat terjadi saat tumpukan raksasa limbah tambang batu bara runtuh, mengubur hidup-hidup sebuah sekolah beserta puluhan rumah di sekitarnya. Sebanyak 144 jiwa melayang dalam peristiwa tersebut, dengan 116 di antaranya adalah anak-anak yang tengah mengikuti pelajaran di Pantglas Junior School.

Longsoran yang terjadi sekitar pukul 9.15 pagi itu bergerak begitu cepat—hanya dalam hitungan menit—sehingga tak memberi waktu bagi para siswa maupun guru untuk menyelamatkan diri. Material hitam pekat berupa campuran batu, tanah, dan bubuk batu bara itu menghantam bagian depan sekolah dan beberapa deretan rumah di Moy Road. Tim penyelamat yang terdiri dari para penambang setempat segera dikerahkan, namun sebagian besar korban sudah tertimbun terlalu dalam.

Kronologi Tragedi

  • Longsoran berasal dari Spoil Tip No. 7—salah satu gundukan limbah tambang yang dibangun di atas mata air alami.
  • Hujan deras selama beberapa hari sebelumnya membuat struktur gundukan tidak stabil.
  • Sekitar pukul 9.15 pagi, lebih dari 40.000 meter kubik material longsor meluncur sejauh 700 meter ke bawah.
  • Sekolah Pantglas dan 20 rumah tertimbun dalam sekejap.
  • Operasi pencarian dan penyelamatan berlangsung selama berhari-hari, dipimpin langsung oleh para penambang yang menggali dengan tangan.

Skandal Kelalaian

Investigasi kemudian mengungkap bahwa pihak National Coal Board (NCB)—otoritas pertambangan saat itu—telah berulang kali mengabaikan peringatan tentang bahaya penumpukan limbah di atas sumber air. Warga dan pihak sekolah bahkan sempat melaporkan kondisi tersebut, tetapi tidak ada tindakan berarti. Tragedi ini menjadi tamparan keras bagi pemerintah Britania Raya yang selama ini menempatkan industri batu bara di atas keselamatan publik.

Dari 144 korban tewas, 116 adalah anak-anak berusia 7 hingga 10 tahun. Mereka sedang berada di dalam ruang kelas ketika dinding lumpur hitam masuk menerobos jendela. Sebagian besar guru juga ikut terkubur, hanya segelintir yang selamat dari keganasan longsor.

Perubahan Regulasi

Bencana Aberfan memicu revisi total terhadap Undang-Undang Tambang dan Penggalian di Inggris. Prosedur penumpukan limbah tambang diatur secara ketat, inspeksi berkala diwajibkan, dan tanggung jawab perusahaan diperluas. Pemerintah juga membentuk Mines and Quarries Inspectorate yang lebih independen untuk mencegah terulangnya musibah serupa.

Dana kompensasi sebesar £150.000—yang ironisnya dipotong dari dana bantuan publik—memperlihatkan betapa birokrasi pun turut memperpanjang luka para keluarga korban. Namun warisan terpenting dari Aberfan adalah pelajaran bahwa bisnis tidak boleh berkuasa di atas hak hidup warga biasa.

Hingga kini, nama Aberfan tetap dikenang sebagai pengingat pahit bahwa pembangunan yang mengabaikan keselamatan warga akan berujung pada malapetaka. Monumen dan taman peringatan berdiri di lokasi bekas sekolah, sementara ribuan warga Britania setiap tahunnya masih meneteskan air mata untuk para bocah yang tak sempat pulang ke pelukan orang tua mereka.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User