Kondisi Terkini TPA Jatiwaringin Usai Kebakaran Panjang Tangerang - Hampir sepekan berlalu sejak titik api pertama muncul di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang, namun sisa-sisa kebakaran masih jelas terlihat. Asap putih tipis terus mengepul dari tumpukan sampah yang terbakar, menciptakan kabut yang menyelimuti kawasan tersebut dan sekitarnya.
Berdasarkan laporan tim Beritatercepat.com di lapangan, bau menyengat dari material sampah yang terbakar masih sangat terasa hingga jarak ratusan meter. Meskipun petugas pemadam kebakaran telah bek
Berdasarkan laporan tim Beritatercepat.com di lapangan, bau menyengat dari material sampah yang terbakar masih sangat terasa hingga jarak ratusan meter. Meskipun petugas pemadam kebakaran telah bekerja keras selama berhari-hari, titik api di bagian dalam gunungan sampah sulit dijangkau dan terus menyulutkan asap.
"Ini memang karakteristik kebakaran di TPA. Api bisa bertahan di dalam tumpukan sampah yang padat. Kami masih terus melakukan pemadaman dan pendinginan," jelas Kurniawan, Kepala Bidang Pemadam Kebakaran Kabupaten Tangerang, saat dihubungi Beritatercepat.com, Kamis (6/7/2023).
Kebakaran yang dilaporkan terjadi sejak 30 Juni ini sempat meluas dan menghanguskan area seluas kurang lebih dua hektare dari total luas TPA yang mencapai belasan hektare. Beruntungnya, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini, namun kerugian material masih dalam penghitungan pihak terkait.
Petugas gabungan dari Dinas Pemadam Kebakaran Kabupaten Tangerang, dibantu oleh relawan dan warga sekitar, masih berjaga di lokasi untuk mengantisipasi perluasan api. Proses pemadaman dilakukan secara bertahap dengan teknik pemisahan sampah yang belum terbakar serta penyemprotan air ke titik-titik yang masih mengeluarkan asap.
Pemerintah daerah setempat juga telah mengimbau masyarakat yang tinggal tidak jauh dari TPA untuk tetap waspada terhadap dampak asap bagi kesehatan. Beberapa warga di Desa Jatiwaringin dan sekitarnya mengeluhkan gangguan pernapasan ringan akibat paparan asap yang terus-menerus dalam beberapa hari terakhir.
Pemulung Tetap Bertahan Demi Hidup
Di tengah kondisi yang masih berbahaya dan tidak sehat, sekelompok pemulung tetap beraktivitas di sekitar TPA. Mereka tampak berusaha mengumpulkan bahan-bahan yang masih bisa dijual, seperti logam, plastik, dan kaca yang selamat dari kobaran api.
Mulyadi (42), salah satu pemulung yang sudah belasan tahun menggantungkan hidupnya dari sampah TPA Jatiwaringin, mengaku tidak memiliki pilihan lain. "Kalau tidak kerja, anak istri mau makan apa? Asap begini sudah biasa buat kami. Tahu risikonya, tapi kebutuhan lebih penting," ucapnya saat ditemui Beritatercepat.com di tengah sisa-sisa sampah yang masih berasap.
Sejumlah pemulung lainnya bernasib serupa. Mereka memilih bertahan karena tidak memiliki keterampilan atau pekerjaan alternatif. TPA Jatiwaringin selama ini menjadi sumber penghidupan bagi puluhan keluarga yang mengandalkan rongsokan dari sampah penduduk Tangerang dan sekitarnya.
"Kami khawatir juga sebenarnya, takut ada yang longsor karena api bisa bikin tumpukan sampah jadi keropos. Tapi ya gimana, uang tidak kenal bahaya," kata Surtini (38), pemulung perempuan yang sehari-hari mengumpulkan botol plastik dan kaleng bekas.
Meskipun aktivitas pengumpulan sampah dari luar oleh truk-truk pengangkut masih dibatasi, tidak sedikit pemulung yang nekat masuk ke area rawan untuk mendapatkan barang yang masih berharga. Pihak berwenang sebenarnya telah memasang garis pembatas di beberapa titik, namun keterbatasan personel membuat pengawasan sulit dilakukan selama 24 jam.
Beritatercepat.com mengamati, sebagian pemulung yang bertahan di lokasi tidak menggunakan pelindung diri yang memadai. Mereka hanya bermodalkan masker kain tipis atau bahkan beraktivitas tanpa penutup hidung sama sekali, berhadapan langsung dengan asap yang berpotensi mengandung zat berbahaya dari sampah yang terbakar.
Kepala Bidang Pengelolaan Sampah Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Tangerang mengaku sudah mengingatkan para pemulung untuk menjauhi area berbahaya, namun memahami bahwa desakan ekonomi menjadi alasan utama mereka tetap bekerja. Pihaknya berencana mendata pemulung yang terdampak langsung untuk diberikan bantuan sosial sementara selama proses pemulihan TPA berlangsung.
Sementara itu, investigasi penyebab kebakaran masih terus dilakukan. Dugaan sementara mengarah pada faktor alam, seperti suhu panas ekstrem yang memicu metana dari dalam tumpukan sampah, namun kemungkinan kelalaian manusia juga tidak dikesampingkan. Kepastian baru akan diumumkan setelah tim gabungan merampungkan penyelidikan mereka.
Comments (0)