Pemerintah Kolombia menegaskan komitmennya untuk melipatgandakan operasi penumpasan kelompok bersenjata usai pangkalan militer diserang secara masif menggunakan kawanan pesawat nirawak (drone swarm). Serangan mematikan yang terjadi di pos militer El Trapiche, kota Ocana, Departemen Norte de Santander, tersebut menewaskan sedikitnya tiga tentara dan melukai empat prajurit lainnya.
Insiden berdarah ini menandai babak baru eskalasi konflik di negara Amerika Selatan tersebut, di mana kelompok pemberontak mulai mengadopsi taktik perang modern dengan memanfaatkan teknologi drone komersial yang dipersenjatai peledak untuk menggempur fasilitas militer negara.
Kronologi Serangan Kawanan Drone di Ocana
Berdasarkan laporan otoritas militer Kolombia, serangan udara terkoordinasi itu berlangsung pada Jumat malam waktu setempat. Kawanan drone berpeledak dilaporkan terbang rendah menyusup ke kawasan pangkalan militer sebelum menjatuhkan muatan bom ke barak-barak prajurit dan sejumlah fasilitas penting lainnya.
Sedikitnya 20 unit drone peledak dikerahkan dalam gelombang serangan mendadak tersebut. Ledakan beruntun langsung memicu baku tembak sengit antara pasukan pertahanan pangkalan dan milisi bersenjata di darat. Dua prajurit gugur seketika di lokasi kejadian, sementara satu korban lainnya mengembuskan napas terakhir saat menjalani perawatan darurat di fasilitas medis. Serpihan ledakan juga dilaporkan merusak satu unit helikopter milik Angkatan Udara Kolombia (FAC) yang terparkir di pangkalan.
"Pemerintah tidak akan mundur selangkah pun dalam menghadapi aksi terorisme ini. Kami akan meningkatkan operasi keamanan dan memburu para pelaku hingga tuntas demi melindungi kedaulatan negara," tegas otoritas kepresidenan Kolombia dalam pernyataan resminya.
Eskalasi Teror dan Tuduhan Terhadap Milisi ELN
Otoritas setempat menuding kelompok pemberontak sayap kiri, Tentara Pembebasan Nasional (Ejército de Liberación Nacional atau ELN), sebagai dalang utama di balik serangan terencana ini. Wilayah Norte de Santander selama bertahun-tahun memang menjadi salah satu basis operasi ELN serta jalur perebutan rute perdagangan gelap di perbatasan.
Serangan ini memperpanjang rentetan gelombang kekerasan yang dinilai para analis sebagai salah satu periode paling berdarah di Kolombia dalam satu dekade terakhir. Beberapa insiden besar yang terjadi dalam kurun waktu berdekatan meliputi:
- Serangan Bom Mobil di Timur Laut: Ledakan mobil مفaltuk di luar kantor polisi yang menewaskan seorang warga sipil dan melukai 11 orang lainnya.
- Ledakan Markas Polisi di Cucuta: Serangan bom pada Agustus lalu yang melukai 11 petugas kepolisian serta menewaskan seekor anjing pelacak unit K-9.
- Serangan Drone Pangkalan El Trapiche: Gempuran kawanan drone terorganisir yang menewaskan tiga prajurit Angkatan Darat.
Presiden Kolombia, Abelardo de la Espriella, menyatakan bahwa eskalasi taktik tempur kelompok bersenjata ini menuntut modernisasi sistem pertahanan udara jarak pendek militer guna menangkis ancaman serangan berbasis drone di masa depan.
Comments (0)