Kisah Wagino, 25 Tahun Berjualan Buku di Kawasan Dipatiukur Kini Harus Rela Tergusur

Bandung - Di tengah gemuruh suara alat berat yang meruntuhkan bangunan-bangunan liar di sepanjang Jalan Dipatiukur dan Jalan Singaperbangsa, Kota Bandung, pada Rabu (24/6/2026), seorang pria lanjut u

Jul 06, 2026 - 13:55
0 0
Kisah Wagino, 25 Tahun Berjualan Buku di Kawasan Dipatiukur Kini Harus Rela Tergusur

Bandung - Di tengah gemuruh suara alat berat yang meruntuhkan bangunan-bangunan liar di sepanjang Jalan Dipatiukur dan Jalan Singaperbangsa, Kota Bandung, pada Rabu (24/6/2026), seorang pria lanjut usia tampak masih bergeming. Dengan tenang, ia terus merapikan tumpukan buku di kios kayunya yang telah lapuk dimakan usia. Pria itu bernama Wagino. Selama seperempat abad, tepatnya 25 tahun, kakek berusia 64 tahun ini menyambung hidup dari lapak buku sederhana yang bertengger di atas trotoar kawasan Dipatiukur. Kini, ia hanya bisa pasrah menyaksikan tempatnya mencari rezeki itu siap-siap rata dengan tanah.

Berdasarkan laporan media kami di lapangan, suasana di lokasi penertiban terlihat kontras antara kebisingan mesin dan keheningan para pedagang yang terdampak. Di antara puluhan bangunan semi permanen yang disegel dan dirobohkan petugas Satpol PP, kios buku Wagino menjadi salah satu pemandangan yang paling menyedot perhatian. Ribuan buku, mulai dari novel lawas, buku pelajaran bekas, hingga majalah-majalah tua, masih berjajar rapi di rak-rak kayu yang mulai miring. Wagino, dengan tangan yang mulai bergetar, sesekali membersihkan debu dari sampul buku kesayangannya, seolah enggan meninggalkan kenangan panjang yang telah menjadi bagian dari hidupnya.

"Saya sudah jualan di sini sejak 2001, Pak. Ini bukan sekadar tempat jualan, ini rumah kedua," ujar Wagino dengan suara lirih saat ditemui tim liputan media kami di sela-sela proses pembongkaran. Matanya menerawang, mengingat masa-masa awal ia merintis usaha tersebut. Baginya, trotoar di depan kompleks pertokoan itu bukan sekadar ruang publik yang kini dikembalikan fungsinya oleh pemerintah, melainkan saksi bisu perjuangannya menyekolahkan anak hingga ke jenjang perguruan tinggi.

Dari Rintisan Hingga Saksi Sejarah Jalan Dipatiukur

Kisah Wagino bermula dari sebuah meja kecil dan beberapa dus buku koleksi pribadi. Kala itu, kawasan Dipatiukur belum sepadat sekarang. Ia memilih berjualan buku karena kecintaannya pada literasi, meski ia sendiri tidak mengenyam pendidikan tinggi. Lambat laun, lapaknya berkembang. Pelanggan tetapnya bukan hanya mahasiswa dari kampus-kampus ternama di sekitarnya, tetapi juga para kolektor dan pencinta buku langka. Wagino dikenal ramah dan sering memberikan harga miring kepada mahasiswa yang kepepet dana. Tak jarang, ia menjadi tempat curhat bagi para pembeli yang singgah. Trotoar itu bukan hanya pusat transaksi jual beli, melainkan ruang interaksi sosial yang kental dengan aroma kertas dan tinta.

"Ini bukan sekadar tempat jualan, ini rumah kedua saya."

Namun, roda waktu terus berputar. Penertiban yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Bandung kali ini merupakan bagian dari upaya penataan kawasan dan pengembalian fungsi trotoar bagi pejalan kaki. Media kami mencatat, setidaknya ada 63 bangunan liar yang dibongkar dalam operasi besar-besaran tersebut. Meski begitu, bagi Wagino dan pedagang lainnya, surat peringatan yang telah berulang kali dilayangkan tak lantas membuat mereka siap kehilangan sumber penghidupan. Wagino tahu aturan harus ditegakkan, namun ia tak kuasa menahan kesedihan. Ratusan buku masih belum sempat ia kemas. Sebagian mungkin akan berakhir di loakan karena tak punya tempat penyimpanan yang memadai.

Saat matahari mulai meninggi, Wagino akhirnya membereskan dagangannya dengan gerakan pelan. Ia sesekali menyeka peluh yang bercampur dengan rasa haru. Lapak yang telah menghidupi keluarganya itu akan menjadi kenangan yang tergerus modernisasi dan penertiban kota. Kini, harapan Wagino hanya satu: semoga masih ada sudut kecil yang ramah baginya untuk terus berbagi ilmu lewat buku-buku tua yang setia menemaninya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
tasya-kamila

Reporter Teknologi. Reporter teknologi terkini dan rilis produk.

Comments (0)

User