Kisah Andika, Generasi Sandwich Lulusan SMK yang Berburu Kerja di Job Fair Jakarta Barat
Jakarta - Sorot lampu ruangan job fair di kantor Kecamatan Tamansari, Jakarta Barat, menyinari wajah-wajah penuh harap para pencari kerja. Di antara ratusan pelamar yang datang silih berganti, ada so
Jakarta - Sorot lampu ruangan job fair di kantor Kecamatan Tamansari, Jakarta Barat, menyinari wajah-wajah penuh harap para pencari kerja. Di antara ratusan pelamar yang datang silih berganti, ada sosok Andika, seorang pemuda 19 tahun yang menyimpan cerita pilu di balik map lamaran yang ia genggam erat.
Warga Jelambar itu bukan sekadar lulusan baru yang antusias mencari pengalaman. Ia kini memikul tanggung jawab besar sebagai tulang punggung keluarga di usia yang terbilang sangat muda. Statusnya sebagai bagian dari generasi sandwich memaksanya untuk segera melepaskan seragam putih abu-abu dan beralih mengenakan kemeja formal demi menghidupi keluarga.
Orang Tua Sakit, Tanggung Jawab Berpindah
Berdasarkan pantauan media kami di lokasi pada Kamis (25/6/2026), Andika tampak serius mengikuti setiap sesi walk-in interview. Di balik raut wajahnya yang tenang, tersimpan tekanan ekonomi yang tidak ringan. Ia bercerita, cobaan itu datang tepat setelah ia menyelesaikan pendidikannya di bangku SMK.
"Jujur orang tua saya beberapa bulan terakhir, habis saya luluslah, udah mulai sakit Bang. Mulai susah kalau kerja. Makanya saya sekarang ya fokus cari kerja aja," jelas Andika saat ditemui awak media kami.
Kondisi kesehatan orang tuanya yang menurun drastis membuat roda ekonomi keluarga mendadak goyah. Sebagai anak yang baru saja menamatkan pendidikan menengah kejuruan, Andika tidak punya banyak pilihan. Mimpinya untuk mungkin melanjutkan studi atau menikmati masa transisi dari remaja ke dewasa harus terkubur dalam-dalam. Realita pahit memaksanya untuk segera mengambil alih kendali finansial rumah tangga.
Berburu Lowongan Lewat Job Fair
Jakarta Job Fair yang digelar di kantor Kecamatan Tamansari menjadi salah satu lokasi berburu lowongan yang strategis bagi Andika. Di sana, ia mencoba peruntungan melamar ke berbagai perusahaan yang membuka posisi sesuai kompetensi kejuruannya.
Menariknya, Andika mengaku masih sedikit beruntung karena biaya kesehatan orang tuanya tertutupi oleh program jaminan kesehatan nasional. Meski demikian, beban terberat justru berada pada biaya operasional sehari-hari yang tidak bisa ditunda. Listrik harus tetap menyala, meja makan harus tetap terisi, dan berbagai kebutuhan pokok lainnya tak bisa dikompromikan.
"Sebenarnya kalau obat atau ke klinik itu aman, ada BPJS. Nah ini tinggal bayarin (kebutuhan) rumahnya ajalah, kayak listrik, makan, yang gitu-gitu," sambungnya.
Fenomena yang dialami Andika ini menjadi potret nyata dari kerasnya realita bagi generasi sandwich muda di perkotaan. Mereka adalah kelompok usia produktif yang tidak hanya harus membiayai hidup sendiri, tetapi juga bertanggung jawab penuh terhadap kelangsungan hidup orang tua serta keluarganya di saat kondisi fisik sang kepala keluarga mulai melemah.
Dalam suasana job fair yang ramai oleh para pencari kerja lainnya, Andika terus berkeliling dari satu stan ke stan lainnya. Ia berharap, di tengah ketatnya persaingan bursa kerja, ada satu perusahaan yang bersedia menerimanya. Bukan sekadar ingin memperoleh pengalaman kerja, melainkan untuk memastikan bahwa di rumahnya, lampu-lampu tetap bisa dinyalakan dan orang tuanya bisa hidup dengan layak di masa senja.
Kegigihan pemuda seperti Andika ini menjadi cambuk semangat bagi banyak pencari kerja lain di lokasi. Sebab mencari kerja bagi lulusan baru seringkali identik dengan mencari jati diri atau uang saku tambahan. Namun bagi Andika, lembar surat lamaran yang ia kirimkan adalah tumpuan harapan untuk menyelamatkan perekonomian keluarganya dari keterpurukan.
Comments (0)