Kenapa Sulit Keluar dari Hubungan Toksik? Dokter Ungkap Fakta Trauma Bonding

Jul 06, 2026 - 03:57
0 0
Kenapa Sulit Keluar dari Hubungan Toksik? Dokter Ungkap Fakta Trauma Bonding

Jakarta – Masyarakat kerap mempertanyakan mengapa korban hubungan toksik memilih bertahan meski mengalami penderitaan berkepanjangan. Orang-orang di sekitar sering beranggapan bahwa meninggalkan pasangan yang kasar adalah pilihan logis dan mudah. Namun realitanya, ada mekanisme psikologis kompleks yang membuat korban justru terjebak dalam lingkaran kekerasan. Spesialis kejiwaan mengungkap bahwa fenomena ini bukan semata soal lemahnya tekad, melainkan terkait erat dengan kondisi yang disebut trauma bonding.

Trauma Bonding dan Siklus Kekerasan

Menurut laporan yang dihimpun media kami, dr. Erickson Arthur S., Sp.KJ, spesialis kesehatan jiwa, menjelaskan bahwa trauma bonding adalah ikatan emosional yang terbentuk antara korban dan pelaku kekerasan akibat siklus kekerasan yang berulang. Siklus ini memiliki fase-fase yang membuat korban terperangkap dalam ilusi perbaikan hubungan.

“Yang pertama, sudah jelas ada kekerasan. Kekerasan yang terjadi bisa fisik, verbal, atau seksual. Memang itu pasti tidak nyaman. Tapi ternyata fasenya tidak sampai di situ,” ujar dr. Erick dalam keterangannya, Minggu (5/7/2026).

Ia menambahkan bahwa setelah fase kekerasan, pelaku biasanya akan memasuki fase penyesalan. Pelaku akan meminta maaf secara dramatis, menunjukkan penyesalan mendalam, dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya. Momen ini sering kali disertai dengan perilaku manis dan perhatian berlebihan yang membuat korban percaya bahwa pasangannya telah berubah. Fase “bulan madu” ini menjadi perangkap psikologis yang kuat karena memberikan harapan palsu kepada korban.

Ketegangan mulai terbangun kembali seiring waktu, dan tanpa disadari korban kembali menghadapi ledakan kekerasan. Siklus inilah yang terus berulang dan memperkuat ikatan trauma, sehingga korban semakin sulit memutuskan hubungan. Korban kerap terjebak dalam pemikiran bahwa mereka bisa “memperbaiki” pasangannya, atau merasa bersalah jika meninggalkan karena mengingat momen-momen baik yang pernah terjadi.

Di sisi lain, dr. Erickson juga menekankan bahwa trauma bonding bukanlah gejala kelemahan karakter. Ini adalah respons alami dari otak terhadap stres berat yang berkepanjangan. Dalam kondisi tertekan, otak melepaskan hormon oksitosin dan dopamin saat pelaku memberikan perhatian kembali, menciptakan ikatan adiktif yang mirip dengan ketergantungan zat. Hal ini menjelaskan mengapa korban sulit bergerak meski secara logis mereka sadar hubungan itu merugikan.

Bagi korban yang terjebak, dokter menyarankan untuk mencari bantuan profesional, baik melalui konseling maupun dukungan dari kelompok yang memahami siklus kekerasan. Memutus trauma bonding memerlukan waktu dan dukungan sistematis, bukan sekadar nasihat untuk “segera pergi”. Pemahaman dari lingkungan sekitar juga sangat penting agar korban tidak merasa dihakimi, melainkan didukung untuk keluar dari jeratan yang kompleks tersebut.

Mediasi kami juga merekomendasikan pembaca yang mengalami situasi serupa untuk membaca panduan lebih lanjut: “Saran Dokter Jiwa Saat Terjebak Hubungan Toksik dan Membahayakan,” sebagai langkah awal menjaga kesehatan mental dan fisik.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User