Sep 17, 2026
Bali

Kemarau Panjang Landa Buleleng, Pasokan Air Tirta Hita Menyusut 20 Persen

Dampak musim kemarau tahun ini mulai dirasakan secara nyata di sektor ketersediaan air bersih di Kabupaten Buleleng, Bali. Perumda Air Minum Tirta Hita Bul

Kemarau Panjang Landa Buleleng, Pasokan Air Tirta Hita Menyusut 20 Persen

Dampak musim kemarau tahun ini mulai dirasakan secara nyata di sektor ketersediaan air bersih di Kabupaten Buleleng, Bali. Perumda Air Minum Tirta Hita Buleleng mencatat adanya penurunan debit air baku hingga menyentuh angka 20 persen sejak Agustus lalu. Kondisi ini dipicu oleh cuaca terik yang berkepanjangan serta intensitas curah hujan yang minim di wilayah tangkapan air pegunungan.

Direktur Utama Perumda Air Minum Tirta Hita Buleleng, I Made Lestariana, mengonfirmasi bahwa penyusutan volume air ini terdeteksi dari hasil evaluasi rutin di unit-unit produksi. Meskipun demikian, manajemen memastikan pasokan air bersih bagi pelanggan rumah tangga maupun komersial hingga kini masih dapat dipertahankan secara stabil.

"Penurunan debit air berdasarkan hasil monitoring dan evaluasi dari bagian produksi kami memang terjadi penurunan di kisaran 20 persen sejak Agustus kemarin. Karena ini musim kemaraunya masih berlangsung, pasti ada potensi penurunannya meningkat," ujar Lestariana.

Strategi Distribusi dan Antisipasi Beban Puncak

Menghadapi potensi menyusutnya debit air baku di wilayah hulu, Perumda Tirta Hita Buleleng langsung memberlakukan skema manajemen distribusi air secara terukur. Langkah mitigasi ini diambil demi menjaga pemerataan aliran air ke seluruh jaringan pipa transmisi dan distribusi, terutama ke kawasan permukiman padat penduduk.

Penyusutan debit air ini memberikan dampak langsung terhadap dinamika konsumsi masyarakat, khususnya pada periode beban puncak di pagi dan sore hari. Pada jam-jam sibuk tersebut, tekanan air berpotensi mengalami fluktuasi sehingga memerlukan pengelolaan tekanan jaringan yang presisi.

Untuk meminimalkan potensi gangguan pasokan ke pelanggan, Perumda Tirta Hita menerapkan sejumlah langkah teknis di lapangan, di antaranya:

  • Optimalisasi Pengaturan Tekanan: Mengatur katup distribusi secara berkala untuk menyeimbangkan tekanan air antarwilayah dataran rendah dan dataran tinggi.
  • Monitoring Rutin Sumber Air Hulu: Mengintensifkan pengawasan pada mata air dan sumur dalam guna memantau dinamika penurunan muka air tanah.
  • Pemeliharaan Jaringan Pipa: Mempercepat penanganan kebocoran pipa agar tidak ada volume air yang terbuang sia-sia selama masa krisis kemarau.
  • Imbauan Penghematan Air: Mendorong pelanggan untuk menampung air secara mandiri dan menggunakannya secara bijak serta proporsional.

Komparasi dengan Fenomena Kemarau El Nino

Lestariana menuturkan bahwa musim kemarau kali ini terasa jauh lebih terik dan menantang dibandingkan tahun sebelumnya. Namun demikian, situasi penurunan debit sebesar 20 persen ini dinilai belum mencapai titik paling ekstrem bila dibandingkan dengan peristiwa kemarau panjang akibat anomali iklim di masa lalu.

"Kondisi seperti sekarang ini sebenarnya pernah ada juga beberapa tahun yang lalu. Dahulu saat musim kemarau panjang atau badai El Nino, penurunan debit air bahkan bisa sampai 30 persen," imbuh Lestariana.

Perumda Tirta Hita Buleleng terus berkoordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) guna memantau perkembangan cuaca hulu. Masyarakat pun diimbau tetap tenang sembari mulai membiasakan pola konsumsi air yang efisien hingga musim penghujan tiba kembali.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS lina-marlina

Reporter Daerah. Koordinator jaringan kontributor di 34 provinsi.

Comments (0)

User