Keir Starmer Mundur: Akhir Pahit PM Paling Tidak Populer di Era Modern

London – Panggung politik Inggris kembali diguncang oleh drama kepemimpinan. Keir Starmer, yang hanya berselang kurang dari dua tahun setelah mengantarkan Partai Buruh ke puncak kejayaan, resmi men

Jul 08, 2026 - 00:07
0 0
Keir Starmer Mundur: Akhir Pahit PM Paling Tidak Populer di Era Modern

London – Panggung politik Inggris kembali diguncang oleh drama kepemimpinan. Keir Starmer, yang hanya berselang kurang dari dua tahun setelah mengantarkan Partai Buruh ke puncak kejayaan, resmi mengumumkan pengunduran dirinya pada Senin (22/6). Ironisnya, pria yang dahulu disambut sebagai pembawa angin segar setelah menghancurkan hegemoni Partai Konservatif itu kini justru melangkah keluar dari Downing Street dengan status sebagai salah satu perdana menteri paling tidak populer dalam sejarah modern Inggris.

Kemenangan telak Partai Buruh di tahun 2024 sempat dielu-elukan sebagai babak baru kebangkitan politik sayap kiri-tengah. Namun, berdasarkan laporan yang dihimpun media kami, periode singkat pemerintahan Starmer justru diwarnai oleh berbagai kebuntuan kebijakan domestik yang menggerus kepercayaan publik. Tingkat kepuasan terhadap kepemimpinannya merosot tajam ke titik terendah yang belum pernah terjadi dalam beberapa dekade terakhir, memecahkan rekor ketidakpopuleran yang sebelumnya disandang oleh para pendahulunya.

Hormat Global, Ambyar di Dalam Negeri

Salah satu paradoks terbesar dari era Starmer adalah reputasinya di panggung internasional. Di mata para pemimpin dunia, ia dipandang sebagai negarawan pragmatis dan stabil, mampu menjaga wibawa Inggris dalam isu-isu global seperti konflik geopolitik dan krisis iklim. Namun, di dalam negeri, persepsi itu seolah tidak berarti. Publik justru menilainya gagal mengatasi persoalan krusial yang menyentuh dapur rakyat, seperti krisis biaya hidup yang tak kunjung teratasi, tekanan pada layanan kesehatan publik (NHS), serta polemik kebijakan imigrasi yang kontroversial.

Situasi ini menempatkan Starmer dalam posisi paradoks: dihormati di forum-forum elite internasional, tetapi ditolak oleh konstituennya sendiri. Tekanan dari internal partai dan desakan publik yang kian masif akhirnya memaksa sang perdana menteri untuk menyadari bahwa ia telah kehilangan mandat sosial untuk melanjutkan pemerintahan.

"Momen Paling Membanggakan"

Dalam pidato pengunduran dirinya yang diliputi suasana haru, Starmer menyebut jabatan Perdana Menteri sebagai pencapaian tertinggi dalam hidupnya. Meski begitu, ia mengaku menerima takdir politiknya tanpa perlawanan.

"Menjadi perdana menteri adalah momen paling membanggakan dalam hidup saya. Namun, saya juga menerima bahwa saya harus pergi dengan lapang dada,"

ujarnya di hadapan media yang disiarkan langsung dari Downing Street.

Dengan mundurnya Starmer, krisis konstitusional kini membayangi Partai Buruh. Partai yang baru saja merasakan manisnya kemenangan telak itu kini harus segera memutar otak mencari penerus yang mampu menyelamatkan elektabilitas mereka menjelang potensi pemilu dini. Sementara itu, pihak oposisi menilai kehancuran pemerintahan Starmer sebagai bukti nyata gagalnya janji manis perubahan yang dikampanyekan dua tahun silam.

Pasar keuangan dan para analis politik dari berbagai lembaga survei di Inggris memperkirakan bahwa transisi kekuasaan ini akan memicu periode ketidakpastian baru. Pertanyaan besarnya kini bukan hanya siapa yang akan menggantikan Starmer, melainkan apakah trajektori kemunduran ini akan membuka jalan bagi kebangkitan kembali kekuatan politik lain yang selama ini terpinggirkan. Sejarah mencatat, era Starmer berakhir bukan karena kekalahan di bilik suara, melainkan karena rapuhnya kepercayaan di dalam negeri sendiri.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
pandu-rangga

Editor Ekonomi. Editor ekonomi breaking dan update pasar terkini.

Comments (0)

User