Kanker Paru Bajak Saraf Nyeri Lumpuhkan Sistem Imun

PARA ilmuwan baru saja menguak strategi licik kanker paru-paru dalam melumpuhkan pertahanan alami tubuh. Temuan yang dipublikasikan di jurnal Cell pada pertengahan Mei ini mengungkap mekanisme baru ya...

Jul 13, 2026 - 11:41
0 0

PARA ilmuwan baru saja menguak strategi licik kanker paru-paru dalam melumpuhkan pertahanan alami tubuh. Temuan yang dipublikasikan di jurnal Cell pada pertengahan Mei ini mengungkap mekanisme baru yang mengubah arah riset imunoterapi.

Penelitian bertajuk “Nociceptive innervation limits tertiary lymphoid structures to promote lung cancer” itu membongkar bagaimana tumor memanfaatkan saraf nyeri untuk menekan pusat komando imun. Hasilnya langsung memicu diskusi global karena menjelaskan resistensi kanker paru terhadap pengobatan modern.

Latar Belakang Genting

Kanker paru masih menjadi pembunuh nomor satu di dunia, mencetak 1,8 juta kematian per tahun. Imunoterapi memang merevolusi pengobatan, tetapi hanya 20–30 persen pasien yang merespons. Teka-teki resistensi itu kini mulai terpecahkan: tumor punya cara canggih mematikan senjata utama tubuh.

Struktur limfoid tersier (TLS) adalah kumpulan sel imun yang terbentuk di dekat jaringan kanker. TLS berfungsi seperti barak militer tempat limfosit T dan B berlatih dan melancarkan serangan terkoordinasi. Tanpa TLS, sistem imun kehilangan arah dan daya serang.

Mekanisme Baru yang Terungkap

Tim internasional menemukan bahwa sel kanker paru mengaktifkan saraf nosiseptif — serabut yang biasanya mengirim sinyal nyeri — untuk membatasi pembentukan TLS. Tumor secara efektif “membajak” sirkuit saraf guna menciptakan lingkungan yang tidak bersahabat bagi sel imun.

Eksperimen pada tikus menunjukkan bahwa menghambat sinyal saraf nosiseptif meningkatkan kepadatan TLS hingga tiga kali lipat dan memperlambat pertumbuhan tumor secara signifikan. Analisis sampel dari 150 pasien juga memperlihatkan korelasi terbalik: semakin padat persarafan nosiseptif, semakin minim TLS yang ditemukan.

Mekanisme molekulernya melibatkan pelepasan zat tertentu oleh saraf yang mengubah perilaku sel imun di sekitar tumor. Ini adalah bukti langsung pertama bahwa sistem saraf tepi bisa menjadi musuh tersembunyi dalam perang melawan kanker.

Fakta Kunci

  • Saraf nosiseptif membatasi jumlah dan fungsi TLS di jaringan paru yang terkena kanker.
  • Pada model hewan, blokade sinyal saraf mampu mengembalikan pembentukan TLS dan menekan perkembangan tumor.
  • Data pasien manusia mengonfirmasi bahwa semakin tinggi aktivitas saraf tersebut, semakin buruk prognosis dan respons imunoterapi.
  • Peneliti utama menekankan bahwa temuan ini menjelaskan mengapa inhibitor pos pemeriksaan imun sering gagal pada kanker paru stadium lanjut.
  • Studi dipublikasikan di jurnal Cell edisi pertengahan Mei, menjadi sorotan utama komunitas onkologi global.

Implikasi Terapi dan Langkah Selanjutnya

“Kami sangat antusias karena ini membuka jalur terapi yang sama sekali baru,” ujar profesor yang memimpin riset. Dalam uji praklinis, kombinasi obat penghambat saraf dan imunoterapi menghasilkan respons yang jauh lebih kuat dibandingkan imunoterapi saja.

Tim kini menyiapkan uji klinis fase awal pada manusia. Jika berhasil, pendekatan ini akan menjadi terobosan besar bagi pasien kanker paru yang selama ini tidak merespons pengobatan standar. Evakuasi konsep lama dan beralih ke strategi ganda — melumpuhkan sabotase saraf sambil mengaktifkan kembali sistem imun — bisa mengubah lanskap terapi kanker dalam beberapa tahun ke depan.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
tasya-kamila

Social Media Editor. Mengelola distribusi breaking news lintas platform.

Comments (0)

User