Monday, 24 August 2026 | 08:12 WIB

Kabut Asap Karhutla Lumpuhkan Aktivitas Nelayan di Natuna

Kabut asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan BARU SAJA menghentikan aktivitas melaut nelayan di Natuna, Kepulauan Riau. Jarak pandang di sejumlah titik perairan dikonfirmasi menyusu...

Aug 24, 2026 - 06:15
0 0
Kabut Asap Karhutla Lumpuhkan Aktivitas Nelayan di Natuna

Kabut asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan BARU SAJA menghentikan aktivitas melaut nelayan di Natuna, Kepulauan Riau. Jarak pandang di sejumlah titik perairan dikonfirmasi menyusut drastis dalam beberapa hari terakhir.

Para nelayan melaporkan kondisi laut nyaris tidak bisa terbaca dari kejauhan. Tanda-tanda navigasi sulit dikenali. Risiko tabrakan antar kapal pun meningkat signifikan di tengah situasi darurat ini.

Jarak Pandang Menyusut di Perairan Natuna

Kabut asap yang terbawa angin dari Kalimantan kini menyelimuti kawasan pesisir Natuna hampir tanpa jeda. Jarak pandang di perairan diperkirakan turun hingga di bawah satu kilometer pada jam-jam tertentu, jauh dari standar aman untuk kapal nelayan tradisional.

Saksi mata di dermaga menyebut langit tampak kelabu bahkan di siang hari. Bau asap tercium hingga ke permukiman pesisir. Kondisi ini membuat nelayan ragu membawa kapal keluar dari pelabuhan.

Natuna sendiri merupakan wilayah perbatasan yang strategis. Gangguan aktivitas ekonomi di kawasan ini ikut memengaruhi mata pencaharian masyarakat pulau terluar yang menggantungkan hidupnya pada laut.

Aktivitas Melaut Terhenti Sementara

Sebagian besar armada nelayan memilih bertahan di dermaga. Kapal-kapal kecil yang biasanya berangkat subuh kini terparkir rapat berjajar. Hanya sedikit kapal besar yang nekat melaut dengan peralatan navigasi lengkap.

Nelayan tradisional menjadi kelompok paling terdampak. Mereka mengandalkan penglihatan langsung dan tanda alam untuk bernavigasi. Tanpa jarak pandang yang jelas, risiko tersesat dan kecelakaan laut meningkat drastis.

Otoritas setempat mengingatkan setiap kapal memasang lampu navigasi sepanjang waktu. Komunikasi radio antar kapal juga dianjurkan lebih sering untuk menghindari tabrakan di tengah kabut tebal.

Gelombang Kerugian Ekonomi

Setiap hari tanpa melaut berarti pendapatan hilang bagi ratusan keluarga nelayan. Hasil tangkapan dipastikan menurun drastis. Harga ikan segar di pasar lokal pun berpotensi naik menyusul berkurangnya pasokan dari laut.

Para nelayan mengaku belum bisa memastikan kapan aktivitas kembali normal. Semua bergantung pada arah angin dan upaya pemadaman karhutla di Kalimantan.

Sebagian nelayan mulai beralih ke pekerjaan sampingan. Ada yang memperbaiki jaring, ada pula yang menggarap kebun di sekitar rumah untuk menutup kekosongan pendapatan harian.

Ancaman Ganda bagi Kesehatan

Kabut asap tidak hanya mengganggu aktivitas melaut. Kualitas udara di kawasan pesisir ikut memburuk. Nelayan yang tetap beraktivitas di dermaga mulai mengeluhkan mata perih, batuk, dan gangguan pernapasan ringan.

Pemerintah daerah diimbau menyiagakan layanan kesehatan. Masker dan alat pelindung diri menjadi kebutuhan mendesak bagi warga pesisir yang tetap beraktivitas di luar ruangan.

Sekolah di pesisir mulai mengurangi aktivitas luar ruangan. Anak-anak diimbau memakai masker saat berangkat dan pulang sekolah untuk mencegah gangguan pernapasan.

Perkembangan Penanganan Karhutla

Upaya pemadaman di titik-titik api Kalimantan masih terus berlangsung. Tim gabungan dikerahkan untuk mengendalikan api. Namun, asap lintas wilayah diperkirakan masih menyelimuti Natuna selama angin bertiup dari arah barat laut.

Pemantauan satelit menunjukkan sejumlah titik panas masih terdeteksi di Kalimantan. Sebaran asap diprediksi bertahan selama beberapa hari ke depan hingga upaya pemadaman membuahkan hasil.

Otoritas setempat diminta meningkatkan pemantauan kualitas udara. Informasi berkala kepada nelayan menjadi krusial agar keputusan melaut didasarkan pada data, bukan sekadar perkiraan.

Sementara itu, para nelayan Natuna hanya bisa menunggu dan berharap. Cuaca bersahabat dan angin berbalik arah menjadi satu-satunya harapan agar laut kembali terbuka dan mata pencaharian mereka pulih.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
lina-marlina

Reporter Daerah. Koordinator jaringan kontributor di 34 provinsi.

Comments (0)

User