JPO Tendean Dibongkar, Warga Kesulitan Cari Jalur Penyeberang Aman
Kawasan Jalan Tendean, Jakarta Selatan, kini menyimpan cerita kontras dalam satu malam. Beberapa jam setelah alat berat merobohkan Jembatan Penyeberangan O
Kawasan Jalan Tendean, Jakarta Selatan, kini menyimpan cerita kontras dalam satu malam. Beberapa jam setelah alat berat merobohkan Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) yang telah menjadi bagian dari rutinitas warga selama bertahun-tahun, kendaraan kembali melaju kencang di ruas jalan yang sebelumnya menjadi lautan kemacetan. Namun di balik kelancaran arus lalu lintas itu, terdapat kekosongan yang mengganggu: warga pejalan kaki kini kehilangan jalur aman untuk menyeberang.
Pembongkaran JPO Tendean yang dilakukan pada malam hari memang berhasil mengembalikan kapasitas jalan secara maksimal. Polisi lalu lintas yang berjaga di titik-titik strategis melaporkan bahwa arus kendaraan dari arah Mampang menuju Casablanca maupun sebaliknya sudah mengalir normal sejak subuh. Namun, keputusan teknis ini meninggalkan dampak sosial yang signifikan bagi masyarakat sekitar, terutama bagi pelajar, pekerja kantoran, dan pedagang yang setiap harinya bergantung pada fasilitas tersebut untuk menyeberang dengan selamat.
Jejak Pembongkaran di Tengah Malam
Detik-detik pembongkaran JPO Tendean berlangsung dramatis. Dari informasi yang berhasil dihimpun, alat berat jenis crawler crane dan cutting torch mulai beroperasi sejak pukul 22.00 WIB. Proses pembongkaran yang memakan waktu sekitar delapan jam tersebut sempat membuat ruas jalan utama macet total hingga mengular hingga lima kilometer ke berbagai arah. Banyak pengendara yang terjebak dalam antrean panjang mengeluhkan kurangnya informasi awal mengenai jadwal penutupan jalan.
Satu hal yang menarik perhatian adalah bagaimana struktur baja tersebut runtuh berkeping-keping di atas aspal, membubarkan jejak sejarahnya sebagai penghubung antara kawasan hunian padat di Mampang Prapatan dengan pusat aktivitas komersial di sepanjang Jalan Tendean. Beberapa warga yang menyaksikan pembongkaran dari kejauhan mengaku merasa sedih sekaligus bingung. “JPO ini sudah seperti teman setiap pagi. Tiba-tiba hilang, rasanya aneh sekali menatap jalan yang kosong,” ujar seorang warga yang tinggal di Gang Mawar, tidak jauh dari lokasi.
Dari Kemacetan ke Keheningan yang Menyesakkan
Pagi harinya, suasana berubah total. Kemacetan yang menggigit habis-habisan tengah malam sirna begitu saja, digantikan oleh kecepatan kendaraan yang kembali normal. Akan tetapi, keheningan di trotoar justru terasa menyesakkan. Warga yang biasanya turun dari halte bus atau bajaj di sisi utara jalan kini terlihat bingung mencari celah untuk menyeberang ke arah selatan.
“Saya tunggu hampir 15 menit baru bisa nekat nyebrang. Mobil dari kiri kanan terus melaju kencang, tidak ada zebra cross yang jelas, apalagi pelican crossing. Dulu tinggal naik tangga JPO, sekarang kami seperti main petak umpet dengan maut,” keluh Siti Aminah, 42 tahun, seorang penjual kue keliling yang rutin melintas di Jalan Tendean setiap pagi.
Keluhan serupa juga datang dari kalangan pelajar. Roni, siswa kelas 11 salah satu sekolah menengah di kawasan Tebet, mengaku harus berjalan 400 meter lebih jauh mencari titik penyeberangan lain yang dianggap lebih aman, yaitu di dekat lampu lalu lintas. Namun, lintasan itu pun tidak memiliki fasilitas pejalan kaki yang memadai. “Saya dan teman-teman sering telat masuk sekolah gara-gara harus muter jauh hanya untuk nyebrang. Kalau buru-buru, ya terpaksa nyelonong dan berdoa,” katanya dengan nada pasrah.
Risiko di Aspal yang Ramai
Kehilangan JPO Tendean bukan sekadar soal ketidaknyamanan, melainkan ancaman keselamatan yang nyata. Data dari Komite Nasional Keselamatan Lalu Lintas mencatat bahwa pejalan kaki menyumbang sekitar 25 persen dari total korban kecelakaan lalu lintas di Jakarta dalam kurun waktu enam bulan terakhir. Sebagian besar insiden terjadi saat menyeberang jalan arteri primer yang tidak dilengkapi fasilitas penyeberangan memadai.
Ahli transportasi dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Dr. Bima Sakti, menekankan bahwa penutupan atau pembongkaran JPO harus disertai dengan alternatif yang jelas. “JPO dibangun bukan hanya untuk estetika, tapi untuk mengurangi konflik antara kendaraan dan pejalan kaki. Jika dihilangkan tanpa pengganti yang memadai, maka kita justru menciptakan zona berbahaya baru di tengah kota,” jelasnya.
Beberapa warga telah mencoba beradaptasi dengan cara membentuk kelompok kecil saat menyeberang. Mereka akan berkumpul di tepi jalan hingga jumlahnya cukup banyak, lalu menyeberang bersama-sama dengan harapan kendaraan akan melambat. Namun, strategi ini sangat bergantung pada keberanian dan keberuntungan, bukan pada aturan lalu lintas yang menjamin keselamatan.
| Fasilitas Sebelum | Kondisi Saat Ini |
|---|---|
| JPO Tendean tersedia 24 jam | Tidak ada fasilitas penyeberangan |
| Waktu menyeberang kurang dari 2 menit | Waktu menyeberang bisa lebih dari 15 menit |
| Risiko kecelakaan rendah | Risiko kecelakaan meningkat signifikan |
| Akses bagi lansia dan difabel via tangga/lift | Tidak ada akses khusus pejalan kaki |
Mencari Solusi di Tengah Kebingungan
Hingga kini, belum ada kejelasan resmi dari pemerintah daerah mengenai rencana pengganti JPO Tendean. Sejumlah warga berharap agar pembangunan fasilitas baru segera dilakukan, atau minimal dibangun zebra cross dengan pelican crossing yang dilengkapi lampu penyeberang. “Kami bukan menolak pembongkaran jika memang sudah tidak layak. Tapi tolong, jangan biarkan kami seperti ini terlalu lama. Nyawa manusia lebih mahal daripada kelancaran kendaraan,” tutup Siti Aminah dengan suara bergetar.
Sementara itu, Dinas Bina Marga DKI Jakarta dikabarkan masih melakukan kajian teknis terkait pembangunan infrastruktur pengganti. Namun, waktu tunggu yang tidak pasti menjadi momok tersendiri bagi ribuan orang yang setiap harinya harus merangkak menyeberangi salah satu jalan paling sibuk di Jakarta Selatan itu.
Persoalan JPO Tendean menjadi cerminan klasik dari dinamika pembangunan kota: di satu sisi ada target efisiensi lalu lintas, di sisi lain ada hak dasar pejalan kaki untuk berpindah tempat dengan aman. Sebelum solusi permanen ditemukan, warga Jalan Tendean tak punya pilihan lain selain meneruskan pertaruhan mereka setiap kali kaki melangkah ke aspal yang kini terasa semakin luas dan menakutkan.
[SOCIAL_TWEET]: JPO Tendean sudah lenyap. Warga kini terpaksa bertaruh nyawa menyeberang di jalan arteri sibuk. Di mana prioritas keselamatan pejalan kaki? #JPOTendean #JakartaSelatan #PejalanKaki [SOCIAL_TG]: 🚨 JPO Tendean resmi dibongkar! Warga Jakarta Selatan kini kesulitan menyeberang. Ada yang harus jalan 400 meter lebih jauh, ada yang nekat nyebrang karena buru-buru. Kapan fasilitas pengganti dibangun? Baca selengkapnya 👇
Comments (0)