Jenal Mengais Rezeki dari Sampah Jakarta, Usaha Berkembang Berkat KUR BRI
Beritatercepat.com, Jakarta – Deretan motor pengangkut sampah mengular panjang di sepanjang jalan menuju Tempat Penampungan Sementara (TPS) Rawajati, Jakarta Selatan. Puluhan petugas penarik samp
Beritatercepat.com, Jakarta – Deretan motor pengangkut sampah mengular panjang di sepanjang jalan menuju Tempat Penampungan Sementara (TPS) Rawajati, Jakarta Selatan. Puluhan petugas penarik sampah tampak duduk di trotoar, menunggu giliran menurunkan muatan yang telah mereka kumpulkan sejak subuh dari permukiman warga. Bau menyengat langsung menusuk begitu kendaraan berbelok dari Jalan Raya Kalibata menuju TPS Rawajati. Siang itu, antrean terasa lebih panjang dari biasanya, mengular hingga mendekati Stasiun Duren Kalibata.
Di antara antrean itu, duduk seorang pria bernama Jenal Abidin. Wajahnya tenang meski kendaraannya berada jauh di urutan belakang. “Kalau datang lebih siang begini, antreannya memang panjang. Tapi saya sudah terbiasa,” ujarnya kepada Beritatercepat.com di sela penantian. Bagi sebagian orang, membayangkan hidup dari sampah mungkin terasa berat. Namun, bagi Jenal, sampah justru menjadi pintu rezeki yang terus berkembang—terutama sejak ia berani mengambil langkah besar dengan memanfaatkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari BRI.
Awal Mula Menimba Rezeki dari Tumpukan Sampah
Jenal memulai usahanya lebih dari delapan tahun silam sebagai pemulung yang berkeliling dengan gerobak dorong sederhana. Setiap hari, ia menyisir gang-gang sempit di sekitar Kalibata dan Pancoran, mengumpulkan kardus, botol plastik, dan barang bekas lainnya. Pendapatan hariannya tak lebih dari cukup untuk makan keluarga. “Dulu hasilnya paling untuk beli beras dan lauk seadanya,” kenangnya.
Melihat potensi pengumpulan sampah yang cukup besar di permukiman padat, Jenal lantas beralih menjadi penarik sampah mandiri yang melayani puluhan rumah tangga. Ia membeli motor roda tiga bekas untuk memperluas jangkauan, namun modal terbatas membuat usahanya sulit berkembang. Sampai akhirnya, seorang teman sesama pengepul menyarankannya mengajukan KUR BRI. “Awalnya ragu, tapi setelah tanya-tanya ke bank, ternyata prosesnya mudah dan bunganya ringan,” tuturnya.
“Saya ambil KUR BRI Rp25 juta, langsung buat beli dua motor pengangkut yang lebih besar dan menyewa tempat penampungan sederhana. Sejak itu, usaha saya berubah total. Pendapatan naik tiga kali lipat, anak-anak bisa sekolah, dan saya bisa pekerjakan tiga tetangga. Sampah yang dulu saya kumpulkan sendiri, sekarang saya kelola bersama.” — Jenal Abidin, pengusaha pengelola sampah
Usaha Berkembang dan Peran KUR BRI
Kini, Jenal tidak hanya mengandalkan pengumpulan sampah dari rumah-rumah warga. Ia telah memiliki sebuah lapak pemilahan kecil di dekat kediamannya, tempat sampah-sampah yang masuk dipisahkan berdasarkan jenis: plastik, kertas, logam, dan kaca. Sampah organik pun diolah menjadi kompos yang dijual ke sejumlah penghobi tanaman. Dengan dua armada motor roda tiga dan empat orang pekerja, ia mampu mengumpulkan dan mengelola 500–700 kilogram sampah per hari.
Peningkatan skala usaha ini membawa dampak ekonomi langsung bagi lingkungan sekitar. Kini, warga yang terlibat dalam proses pengumpulan dan pemilahan mendapatkan penghasilan tetap Rp2,5–Rp3 juta per bulan—jauh lebih baik ketimbang mengandalkan pemulungan tunggal yang tidak menentu. “Setiap hari saya keliling ke rumah warga, ambil sampah mereka, terus kami pilih di lapak. Yang masih bernilai dijual ke pengepul besar,” jelas Jenal.
Program KUR BRI yang diaksesnya tergolong KUR Mikro, dengan plafon maksimal hingga Rp50 juta dan bunga rendah. Menurut data internal BRI, sektor pengelolaan sampah dan daur ulang mulai dilirik sebagai segmen yang prospektif karena menyentuh dua aspek sekaligus: ekonomi rakyat dan keberlanjutan lingkungan. Jenal adalah salah satu contoh nyata dari ribuan penerima KUR yang berhasil mentransformasi usaha informal menjadi bisnis yang lebih terstruktur.
Kendati demikian, tantangan tetap ada. Antrean panjang di TPS Rawajati menjadi kendala rutin yang memakan waktu. Jenal berharap pemerintah daerah dapat menambah kapasitas TPS atau menyediakan tempat pengolahan sampah terpadu yang lebih besar. “Kalau TPS lebih lancar, kami bisa makin cepat beroperasi dan sampah tidak menumpuk di jalanan,” harapnya.
Pengalaman Jenal menjadi bukti bahwa sampah, yang kerap dipandang sebelah mata, dapat menjadi sumber mata pencaharian yang berkelanjutan jika dikelola dengan serius. Dengan dukungan akses permodalan seperti KUR BRI, para pemulung dan penarik sampah memiliki kesempatan untuk naik kelas. Bagi Jenal sendiri, yang kini mampu menyekolahkan dua anaknya hingga jenjang SMA, bau menyengat dari tumpukan sampah telah berganti menjadi aroma keuntungan dan masa depan yang lebih cerah.
Comments (0)