JAKARTA — Rupiah Tembus Rp18.000, Airlangga Klaim Fundamental Ekonomi Solid

Nilai tukar rupiah kembali menyentuh level psikologis Rp18.000 per dolar AS, memicu gelombang kekhawatiran di pasar keuangan. Namun, Menteri Koordinator Bi

Jul 10, 2026 - 20:35
0 0
JAKARTA — Rupiah Tembus Rp18.000, Airlangga Klaim Fundamental Ekonomi Solid

Nilai tukar rupiah kembali menyentuh level psikologis Rp18.000 per dolar AS, memicu gelombang kekhawatiran di pasar keuangan. Namun, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto langsung melontarkan pernyataan tegas: fundamental ekonomi Indonesia masih kokoh. Dalam pernyataan yang disampaikan siang tadi, Airlangga menolak narasi pesimistis dan meminta pelaku pasar melihat data makro secara utuh.

Pelemahan rupiah ini dipicu oleh derasnya aliran modal keluar menyusul ekspektasi bahwa bank sentral AS, The Fed, akan menunda pemangkasan suku bunga. Indeks dolar menguat tajam, menekan hampir seluruh mata uang negara berkembang. Tapi bagi Airlangga, episode pelemahan kali ini bukan sinyal krisis struktural, melainkan gejolak temporer yang bisa segera dinetralkan.

Poin Kunci: Mengapa Pemerintah Percaya Diri?

Berikut sejumlah faktor yang menjadi sandaran optimisme Airlangga:

  • Cadangan devisa solid: Cadangan devisa Indonesia masih di atas US$140 miliar, cukup untuk membiayai lebih dari 6 bulan impor dan berada jauh di atas standar kecukupan internasional. Ini menjadi bantalan utama saat rupiah tertekan.
  • Pertumbuhan ekonomi di atas 5%: Ekonomi Indonesia konsisten tumbuh di kisaran 5%—5,2% dalam lima kuartal terakhir. Sektor manufaktur dan konsumsi domestik tetap menjadi motor penggerak.
  • Inflasi terjaga rendah: Inflasi tahunan bertahan di bawah 3% dalam rentang target Bank Indonesia (2,5%±1%). Harga pangan dan energi tidak menunjukkan lonjakan liar.
  • Neraca perdagangan surplus: Indonesia mencatat surplus perdagangan selama puluhan bulan berturut-turut, memperkokoh posisi transaksi berjalan. Surplus ini didorong oleh ekspor komoditas hilirisasi yang tetap tinggi.
  • Suku bunga acuan masih tinggi: BI-rate di level 6% memberikan imbal hasil yang kompetitif bagi investor portofolio, yang diharapkan dapat menahan arus modal keluar lebih lanjut.

Pemerintah Tak Diam: Intervensi di Depan Mata

Airlangga menegaskan bahwa pemerintah dan Bank Indonesia terus berkoordinasi ketat. Strategi operasi moneter ganda—intervensi di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder—telah memasuki fase siaga penuh. Selain itu, pemerintah akan mempercepat implementasi kebijakan Devisa Hasil Ekspor (DHE) yang mewajibkan eksportir menempatkan sebagian besar valasnya di dalam negeri untuk menambah pasokan dolar di pasar domestik.

"Fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat. Ini bukan soal satu indikator tunggal. Kita melihat cadangan devisa yang besar, pertumbuhan yang solid, inflasi yang rendah, dan neraca perdagangan yang surplus. Pasar harus membaca data lengkap, bukan hanya pergerakan harian kurs," tegas Airlangga.

Sentimen Global Jadi Batu Sandungan Utama

Di luar kendali domestik, tekanan terhadap rupiah sebagian besar datang dari eksternal. Rilis data inflasi AS yang lebih tinggi dari perkiraan awal April membuat pasar merevisi probabilitas pemangkasan suku bunga The Fed dari 70% menjadi kurang dari 50%. Alhasil, indeks DXY melonjak ke atas 105, dan mata uang seperti won Korea, rupee India, serta baht Thailand ikut tertekan. Rupiah sebenarnya tidak sendiri, namun karena sensitivitas historisnya, pelemahan ke level 18.000 langsung membangkitkan trauma krisis 1998—meski struktur ekonomi kini jauh berbeda.

Ekonom senior dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Hendra Kusuma, mengingatkan bahwa meski fundamental kuat, sentimen negatif bisa memicu aksi spekulatif. "Investor saat ini bergerak dengan prinsip risk-off. Selama ada ketidakpastian suku bunga global, rupiah akan tetap volatile. Tapi kepanikan tidak diperlukan karena cadangan devisa dan koordinasi fiskal-moneter kita solid," ujarnya dalam wawancara terpisah.

Apa Artinya Bagi Anda?

Untuk masyarakat umum, pelemahan rupiah dapat berdampak pada kenaikan harga barang impor, mulai dari gadget hingga obat-obatan. Namun karena sebagian besar kebutuhan pokok dipenuhi dari produksi dalam negeri, tekanan inflasi diperkirakan masih bisa dikendalikan. Importir dan pelaku usaha berorientasi ekspor justru bisa menikmati keuntungan selisih kurs yang lebih besar.

Airlangga meminta dunia usaha tetap tenang dan tidak melakukan aksi borong dolar yang justru memperburuk situasi. Bank Indonesia pun siap menambah pasokan valas melalui Term Deposit (TD) valas dengan suku bunga menarik untuk meredam permintaan spekulatif.

Pasar kini menantikan rilis data neraca perdagangan dan cadangan devisa terbaru yang akan keluar minggu depan. Jika angkanya tetap positif, ada harapan rupiah bisa kembali menguat ke kisaran Rp17.500—Rp17.800 dalam jangka menengah. Hingga berita ini diturunkan, rupiah di pasar spot berada di Rp17.980 per dolar AS setelah sempat menyentuh titik tertinggi harian di Rp18.020.

[SOCIAL_TWEET]: Rupiah kembali tembus Rp18.000/USD. Menko Airlangga angkat bicara: fundamental ekonomi kokoh, cadangan devisa tebal, pertumbuhan terjaga. Pemerintah dan BI siaga intervensi. #Rupiah #EkonomiIndonesia #Stabilitas [SOCIAL_FB]: Rupiah menyentuh level psikologis Rp18.000 lagi. Tapi Menko Perekonomian Airlangga Hartarto meminta masyarakat tak panik—fundamental ekonomi kita masih kuat. Apa saja buktinya? Klik untuk penjelasan lengkap! [SOCIAL_TG]: 🚨 Rupiah kembali di 18rb/USD! Tenang, kata Airlangga fundamental kita oke: cadangan devisa >US$140M, inflasi rendah, surplus dagang. Simak detailnya 👇 [SOCIAL_THREADS]: Rupiah sentuh 18rb lagi, guys. Tapi Pak Airlangga bilang jangan gundah, ekonomi kita masih solid banget. Serius, datanya oke semua. Yang penting jangan panik, ya. [TAGS]: Rupiah, Airlangga Hartarto, Nilai Tukar, Fundamental Ekonomi, Stabilitas Ekonomi

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User