Prof Iris Beberkan Keampuhan Vaksin Flu Saat Pandemi Bergeser Endemi
JAKARTA — Di tengah transisi pandemi COVID-19 menuju endemi, perhatian terhadap penyakit pernapasan lain justru meningkat. Profesor Dr. dr. Iris Rengganis,
JAKARTA — Di tengah transisi pandemi COVID-19 menuju endemi, perhatian terhadap penyakit pernapasan lain justru meningkat. Profesor Dr. dr. Iris Rengganis, SpPD-KAI, konsultan alergi imunologi klinis, menegaskan bahwa vaksin influenza tetap menjadi tameng utama mencegah infeksi ganda yang berpotensi memperburuk kondisi kesehatan masyarakat. Dalam forum media yang digelar virtual, ia memaparkan bahwa cakupan vaksinasi influenza nasional masih jauh dari target minimal yang direkomendasikan WHO—yakni 75 persen populasi rentan—dan Indonesia saat ini baru mencapai sekitar 11 persen pada kelompok lansia serta penderita komorbid. "Kita sering lengah karena influenza dianggap penyakit musiman biasa, padahal angka kematian akibat flu musiman di Indonesia bisa menembus 4.500 kasus per tahun, dan sebagian besar sebenarnya bisa dicegah," ujar Prof Iris dengan nada mendesak.
Data dari Global Influenza Surveillance memperlihatkan tren mengkhawatirkan: setelah pelonggaran mobilitas pasca-pandemi, terjadi lonjakan kasus influenza tipe A dan B di wilayah perkotaan sebesar 37 persen dibandingkan periode yang sama dua tahun lalu. Prof Iris menyoroti bahwa situasi ini diperparah oleh menurunnya imunitas komunitas akibat pembatasan sosial berkepanjangan yang sempat menekan sirkulasi virus flu selama pandemi. "Sekarang adalah waktu yang tepat untuk mengejar ketertinggalan. Vaksin influenza bukan hanya melindungi diri sendiri, tapi mencegah beban tambahan di fasilitas kesehatan yang baru saja pulih dari tekanan COVID-19," tambahnya. Alergi telur yang kerap menjadi momok, menurutnya, kini bisa diatasi dengan ketersediaan vaksin berbasis sel mamalia dan dosis khusus yang sudah teruji keamanannya pada pasien imunokompromais.
Kalkulasi Biaya dan Dampak: Satu Suntikan, Keuntungan Berlipat
Dari sisi farmakoekonomi, Prof Iris memaparkan bahwa setiap rupiah yang diinvestasikan untuk imunisasi influenza menghemat biaya perawatan hingga tiga kali lipat. Berdasarkan studi Kementerian Kesehatan, rawat inap akibat komplikasi influenza—terutama pneumonia bakterial sekunder—menelan rata-rata Rp18-25 juta per episode, sementara harga vaksin di fasilitas kesehatan swasta berkisar Rp350 ribu hingga Rp750 ribu. "Lihat selisihnya. Belum lagi kehilangan produktivitas karena cuti sakit akibat flu bisa mengguncang sektor informal yang tidak memiliki jaring pengaman sosial," tegasnya.
Rekomendasi dari Prof Iris kini mengerucut pada strategi "targeted high-risk vaccination"—menyasar lansia di atas 65 tahun, penderita diabetes melitus, penyakit jantung kronik, gagal ginjal, dan ibu hamil trimester kedua hingga ketiga. Ia mengutip riset yang menunjukkan penurunan kejadian kardiovaskular akut sebesar 34 persen pada pasien penyakit jantung koroner yang rutin menjalani vaksinasi influenza tahunan. "Ini bukan sekadar mencegah pilek. Vaksin flu mengurangi peradangan sistemik yang bisa memicu serangan jantung dan stroke," urai guru besar ilmu penyakit dalam itu.
| Indikator | Vaksin Telur Standar | Vaksin Berbasis Sel | Vaksin Rekombinan | Vaksin Dosis Tinggi (Lansia) |
|---|---|---|---|---|
| Efektivitas Umum (18-64 th) | 62% | 68% | 71% | - |
| Efektivitas Lansia (>65 th) | 43% | 52% | 58% | 67% |
| Perlindungan Hospitalisasi | 48% | 54% | 60% | 73% |
| Kecocokan Strain H3N2 | Rentan mutasi adaptasi | Minim penyimpangan | Stabil | Minim penyimpangan |
| Harga di Indonesia | Rp350-450rb | Rp550-750rb | Rp700-900rb | Rp650-800rb |
Kesiapan Nasional dan Celah Distribusi
Prof Iris tidak menutupi adanya kesenjangan infrastruktur yang membuat distribusi vaksin influenza tidak merata. Dari 2.600 puskesmas yang direncanakan menjadi sentra vaksinasi dewasa di bawah program integrasi layanan primer, baru sekitar 30 persen yang memiliki rantai dingin memadai untuk menyimpan vaksin pada suhu 2-8 derajat Celsius secara kontinyu. "Ini problem klasik. Kita punya vaksin, tapi rantai distribusinya bolong di titik-titik kritis," kritiknya.
Meski demikian, ia mengapresiasi langkah strategis pemerintah yang telah memasukkan vaksin influenza ke dalam paket manfaat Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) secara bertahap. Uji coba di provinsi dengan populasi lansia besar seperti DI Yogyakarta dan Jawa Timur mulai menunjukkan hasil—cakupan imunisasi lansia naik dari 8 persen di tahun sebelumnya menjadi 24 persen dalam setahun pelaksanaan pilot project. "Ini sinyal baik. Tinggal bagaimana mempercepat replikasi model ini dengan melibatkan klinik swasta dan apotek sebagai frontline pemberi vaksin," ujarnya optimistis.
Menutup pemaparannya, Prof Iris kembali mengingatkan bahwa influenza bukanlah musuh yang bisa diabaikan. Dengan virus yang terus berevolusi, Organisasi Kesehatan Dunia memperbaharui komposisi vaksin setiap tahun melalui Global Influenza Surveillance and Response System. "Jadi anggapan bahwa 'vaksin tahun lalu masih ampuh' adalah mitos berbahaya. Kekebalan menurun drastis setelah enam bulan, dan strain virus berubah. Vaksinasi tahunan itu kemestian, bukan pilihan," pungkasnya.
[TAGS]: vaksin influenza, Prof Iris Rengganis, cakupan imunisasi, WHO, efektivitas vaksin, JKN, lansia, alergi telur, farmakoekonomi, pneumonia [SOCIAL_TWEET]: "Vaksin flu sering dianggap remeh, padahal 4.500 nyawa melayang per tahun akibat komplikasi influenza di Indonesia. Prof Iris: vaksinasi tahunan bukan pilihan, tapi kemestian. #VaksinInfluenza #CegahFlu #ImunisasiDewasa #KesehatanPernapasan" [SOCIAL_FB]: "Flu bukan sekadar batuk pilek biasa—data terbaru tunjukkan biaya rawat inap komplikasinya bisa 30 kali lipat harga vaksin. Prof Iris bongkar fakta mengejutkan tentang pentingnya vaksinasi tahunan, plus solusi buat yang alergi telur. Ada rencana pemerintah tanggung lewat BPJS juga, lho. Klik selengkapnya!" [SOCIAL_TG]: "📊 Cakupan vaksin flu di Indonesia baru 11%— jauh dari rekomendasi WHO. 💉 Harga vaksin Rp350-900rb vs biaya rawat pneumonia Rp18-25jt. 🔬 Prof Iris: vaksin tahunan bukan pilihan, melainkan kemestian. Cek perbandingan efektivitasnya di sini." [SOCIAL_THREADS]: "nggak nyangka sih ternyata rawat inap gara-gara komplikasi flu bisa habisin puluhan juta. sementara harga vaksinnya cuma beberapa ratus ribu. Prof Iris ngingetin vaksin flu itu mesti diulang tiap tahun, bukan cuma sekali seumur hidup. mumpung ada pilot project BPJS buat lansia nih, siapa tau nanti meluas. jangan tunggu sakit ya gengs."
Comments (0)