Jakarta — D-8 Halal Expo Indonesia Resmi Dibuka, RI Pimpin Kekuatan Halal Global

Gong ekonomi halal dunia resmi ditabuh dari jantung ibu kota. D-8 Halal Expo Indonesia (HEI) 2026 membuka gerbangnya hari ini di Tennis Indoor Senayan, Jak

Jul 08, 2026 - 13:35
0 0
Jakarta — D-8 Halal Expo Indonesia Resmi Dibuka, RI Pimpin Kekuatan Halal Global

Gong ekonomi halal dunia resmi ditabuh dari jantung ibu kota. D-8 Halal Expo Indonesia (HEI) 2026 membuka gerbangnya hari ini di Tennis Indoor Senayan, Jakarta Pusat, menandai langkah agresif Indonesia menggenggam kendali industri halal global. Acara yang berlangsung 8-12 Juli 2026 ini bukan pameran biasa — ia adalah panggung pembuka bagi Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) D-8, di mana Indonesia duduk sebagai nahkoda tahun ini.

Ribuan pengunjung memadati area pameran sejak pagi. Deretan stan berkilau menampilkan produk halal dari delapan negara anggota D-8: mulai dari fesyen muslim premium, kosmetik bersertifikasi, farmasi syariah, hingga makanan dan minuman yang mengantongi label halal internasional. Energinya terasa berbeda. Ini bukan sekadar pamer dagang—ini deklarasi kekuatan ekonomi Islam yang selama ini terfragmentasi.

Sinyal Kuat dari Pemerintah: Halal Bukan Cuma Label, tapi Mesin Ekonomi

Wakil Menteri Luar Negeri, Anis Matta, hadir langsung membuka expo dengan pernyataan yang tak main-main. Di tengah hiruk-pikuk arena pameran, ia menyampaikan visi besar Indonesia kepada wartawan.

“Acara rangkaian Expo ini adalah rangkaian dari acara Summit dari D-8. Indonesia tidak hanya menjadi tuan rumah, tapi menjadi motor penggerak kerja sama ekonomi halal antarnegara D-8.” — Anis Matta, Wakil Menteri Luar Negeri RI, Rabu (8/7/2026)

Nada bicaranya tegas. Ada urgensi yang tak disembunyikan. Indonesia memegang tiga prioritas utama selama keketuaan D-8 tahun ini: penguatan industri halal, pemberdayaan generasi muda, dan penanggulangan bencana alam. Tiga pilar yang, jika dijalankan serius, bisa mengubah wajah kerja sama Selatan-Selatan.

Yang paling menyita perhatian jelas yang pertama: industri halal. Bukan tanpa alasan. Nilai pasar halal global diproyeksikan menembus US$ 7,7 triliun pada 2030, naik drastis dari US$ 2,3 triliun pada 2023. Indonesia, dengan populasi Muslim terbesar di dunia, selama ini lebih sering menjadi konsumen daripada pemain utama. Kini, arah angin berubah.

Delapan Negara, Satu Ambisi: Dari Produsen ke Pemimpin Pasar

D-8 — organisasi kerja sama pembangunan delapan negara berkembang berpenduduk mayoritas Muslim — beranggotakan Indonesia, Malaysia, Bangladesh, Pakistan, Iran, Turki, Mesir, dan Nigeria. Total populasi mereka lebih dari 1,2 miliar jiwa. Jika kedelapan negara ini menyatukan standar halal, rantai pasok, dan strategi promosi bersama, mereka bukan lagi pemain pinggiran. Mereka bisa menjadi poros baru ekonomi halal dunia yang selama ini didominasi oleh pemain non-Muslim di negara-negara Barat.

Di lantai expo, optimisme itu terasa. Delegasi dari Turki memamerkan tekstil halal berteknologi tinggi. Nigeria membawa produk daging bersertifikasi yang siap menembus pasar Timur Tengah. Indonesia sendiri unjuk gigi dengan ratusan UMKM binaan yang produknya sudah berstandar global. Ini adalah panggung showcase terbesar yang pernah diselenggarakan di bawah bendera D-8.

Dari Pameran ke Kebijakan Konkret: Agenda yang Dinanti

Namun, ekspektasi publik tak berhenti pada seremonial pembukaan. Para pelaku industri yang hadir haus akan kebijakan konkret. Harmonisasi standar sertifikasi halal antarnegara D-8 masih menjadi pekerjaan rumah raksasa. Hari ini, satu produk yang sudah bersertifikat halal di Indonesia bisa saja harus mengulang seluruh proses sertifikasi jika ingin masuk ke pasar Iran atau Nigeria. Biayanya membengkak, waktu terbuang, dan momentum hilang.

Agenda KTT D-8 yang akan berlangsung dalam beberapa hari ke depan diharapkan menghasilkan kesepakatan strategis yang memangkas hambatan-hambatan ini. Mutual recognition agreement untuk sertifikasi halal menjadi salah satu isu yang paling dinantikan. Jika terwujud, dampaknya akan langsung dirasakan oleh pelaku UMKM di seluruh negara anggota—bukan hanya korporasi besar.

“Kami ingin ini bukan sekadar seremoni. Harus ada output yang bisa langsung digunakan oleh pelaku usaha, terutama UMKM yang selama ini kesulitan menembus pasar ekspor karena terkendala regulasi halal yang berbeda-beda.” — sumber dari Kementerian Luar Negeri yang enggan disebutkan namanya.

Tiga agenda besar lain yang akan dibahas di KTT juga tak kalah krusial: pelibatan generasi muda dalam rantai nilai industri halal — mulai dari desainer muda, startup teknologi pangan halal, hingga logistik; serta penanggulangan bencana alam berbasis solidaritas D-8, mengingat banyak negara anggota yang rawan gempa dan banjir. Indonesia, dengan pengalaman panjang mengelola bencana, siap berbagi praktik terbaik.

D-8 Halal Expo Indonesia 2026 bukan sekadar acara pembuka. Ia adalah tembakan pistol start. Delapan negara, satu visi. Dan Indonesia, tuan rumah sekaligus pemimpin, kini memikul tanggung jawab untuk membuktikan bahwa retorika tidak berhenti di panggung konferensi. Pasar halal global sedang menanti — dan waktu berbicara sudah habis.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User