Iran Tak Izinkan PBB Periksa Fasilitas Nuklir yang Dibombardir AS-Israel
Teheran – Otoritas Iran menegaskan bahwa para pemeriksa dari badan pengawas nuklir Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Badan Energi Atom Internasional (IAEA), tidak akan diberikan akses ke situs-situ
Teheran – Otoritas Iran menegaskan bahwa para pemeriksa dari badan pengawas nuklir Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Badan Energi Atom Internasional (IAEA), tidak akan diberikan akses ke situs-situs nuklir utama mereka yang dibombardir Amerika Serikat (AS) dan Israel pada tahun lalu. Penegasan ini sekaligus membantah klaim Presiden AS Donald Trump dan Wakil Presiden JD Vance yang sebelumnya menyatakan bahwa Teheran akan kembali membuka pintu bagi inspektur internasional.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengungkapkan bahwa hingga saat ini tidak ada pertemuan apapun dengan direktur jenderal IAEA, dan Iran tidak memiliki rencana untuk mengizinkan badan tersebut memeriksa fasilitas-fasilitas yang rusak akibat aksi militer yang dilancarkan AS dan “rezim Zionis”. Pernyataan ini disampaikan di tengah meningkatnya spekulasi tentang kemungkinan pulihnya pengawasan internasional terhadap program nuklir Iran.
“Kami belum mengadakan pertemuan dengan direktur jenderal Badan Energi Atom Internasional, dan kami juga tidak memiliki rencana agar badan tersebut memeriksa fasilitas nuklir Iran yang rusak akibat agresi militer AS dan Zionis,” kata Baghaei, sebagaimana dikutip dari laporan media kami, Selasa (23/6/2026).
Menurut informasi yang dihimpun media kami, serangan gabungan AS-Israel yang terjadi pada pertengahan tahun lalu menargetkan sejumlah instalasi nuklir strategis milik Iran, termasuk pusat pengayaan uranium bawah tanah yang selama ini menjadi tulang punggung program nuklir Teheran. Serangan itu mendapat kecaman luas dari sejumlah negara, namun hingga kini belum ada akses bagi inspektor independen untuk menilai langsung tingkat kerusakan dan risiko keselamatan radiasi.
Klaim Presiden Trump dan Wakil Presiden Vance yang beredar di Washington pekan lalu menyebut Iran telah setuju menerima kehadiran kembali tim IAEA. Namun, bantahan keras dari Baghaei menunjukkan bahwa kebijakan resmi Teheran masih jauh dari pelunakan. Sikap ini dianggap para pengamat sebagai bagian dari strategi tekanan balik Iran terhadap AS dan Israel, terutama setelah insiden pemboman yang merusak sebagian kapasitas pengayaan mereka.
Sementara itu, ketegangan seputar program nuklir Iran kembali menjadi pusat perhatian dunia. Kegagalan memulihkan akses pengawasan di situs-situs yang dibombardir dikhawatirkan akan mempersulit upaya diplomatik menghidupkan kembali perjanjian nuklir 2015 (JCPOA). Dengan belum adanya titik temu antara Teheran dan IAEA, komunitas internasional bersiap menghadapi babak baru perselisihan mengenai transparansi nuklir Iran yang diperkirakan akan kembali menggema di forum Dewan Keamanan PBB.
Comments (0)