London, Beritatercepat.com — Pemerintah Inggris kembali menegaskan komitmennya untuk mempertahankan Kepulauan Falkland di Atlantik Selatan, menyusul eskalasi klaim kedaulatan yang dilayangkan Argentina. Menteri Pertahanan Inggris, Wes Streeting, menyatakan bahwa negaranya memiliki kemampuan penuh untuk melindungi wilayah tersebut jika Argentina mencoba mengambil alih kepulauan yang oleh Buenos Aires disebut Malvinas itu.
Pernyataan tersebut disampaikan Streeting dalam wawancara dengan The Sun on Sunday yang diterbitkan pada Sabtu lalu. Ia menegaskan bahwa Inggris tidak akan tinggal diam menghadapi ancaman apa pun terhadap wilayah yang telah dikelola London sejak 1833 tersebut.
Ketegangan Lama yang Kembali Memanas
Perselisihan kedaulatan atas Kepulauan Falkland sebenarnya bukan perkara baru. Inggris telah mengadministrasikan kepulauan di Atlantik Selatan itu sejak 1833, sementara Argentina bersikeras bahwa wilayah tersebut merupakan bagian tak terpisahkan dari teritorinya. Kedua negara bahkan pernah berperang pada 1982, ketika pasukan Argentina menduduki kepulauan itu dan Inggris mengirim satuan tugas angkatan laut untuk merebutnya kembali.
Pada 2013, penduduk Falkland menggelar referendum dan mayoritas besar memilih tetap menjadi bagian dari teritorial Inggris. Namun Argentina menolak mengakui hasil jajak pendapat tersebut dan terus mempertahankan klaimnya hingga kini.
"Inggris sepenuhnya mampu mempertahankan Kepulauan Falkland jika Argentina mencoba menginvasi dan mengambil kendali atas wilayah itu."
— Wes Streeting, Menteri Pertahanan Inggris
Milei Tingkatkan Tekanan di Panggung Internasional
Ketegangan terbaru dipicu oleh Presiden Argentina, Javier Milei, yang meningkatkan klaim kedaulatan negaranya. Milei bahkan mengecam pengembangan minyak yang disetujui Inggris di sekitar kepulauan sebagai tindakan melanggar hukum. Ia menyampaikan isu tersebut dalam Sidang Umum PBB di New York pekan ini, dengan menyoroti proyek minyak lepas pantai Sea Lion.
Milei memperingatkan bahwa Argentina dapat "mengambil tindakan sendiri" jika PBB gagal bertindak menyelesaikan sengketa tersebut. Ancaman itu menjadi sinyal bahwa Buenos Aires tidak akan tinggal diam menunggu jalur diplomatik yang selama ini buntu.
Ketidakpastian Dukungan Amerika Serikat
Yang memperkeruh situasi, Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya meragukan apakah Washington akan membantu Inggris jika terjadi konflik lain terkait wilayah tersebut. Pernyataan itu memunculkan pertanyaan besar soal solidaritas aliansi Barat di kawasan Atlantik Selatan.
Sejumlah pengamat menilai pernyataan Trump dapat mendorong Argentina untuk lebih agresif dalam menekan Inggris. Di sisi lain, London menegaskan bahwa pertahanan Falkland tidak bergantung pada pihak ketiga.
Poin-Poin Kunci Sengketa Falkland/Malvinas
- 1833 — Inggris mulai mengadministrasikan Kepulauan Falkland di Atlantik Selatan.
- 1982 — Perang Falkland meletus setelah Argentina menduduki kepulauan, Inggris merebutnya kembali.
- 2013 — Referendum menunjukkan mayoritas warga memilih tetap menjadi teritorial Inggris; Argentina menolaknya.
- 2026 — Milei meningkatkan klaim kedaulatan dan mengecam proyek minyak Sea Lion.
Dampak pada Stabilitas Kawasan
Eskalasi ini menempatkan kembali Atlantik Selatan sebagai salah satu titik panas geopolitik dunia. Bagi Inggris, Falkland bukan sekadar wilayah terpencil, melainkan simbol kedaulatan nasional dan kepentingan strategis, termasuk potensi sumber daya minyak di sekitarnya. Bagi Argentina, klaim Malvinas telah lama menjadi isu identitas nasional yang sensitif secara politik.
Sejauh ini belum ada tanda-tanda kedua negara akan menempuh jalur militer dalam waktu dekat. Namun retorika yang meningkat di kedua kubu, ditambah ketidakpastian dukungan Amerika Serikat, membuat situasi semakin sulit diprediksi. Inggris menegaskan akan terus memperkuat pertahanan Falkland, sementara Argentina berjanji membawa perjuangan diplomatiknya ke forum internasional.
Comments (0)