Sep 29, 2026
Hukum

Berlin — Axel Springer, raksasa media Jerman yang menaungi Politico dan Business

CEO Axel Springer, Mathias Dopfner, dalam pidatonya menyebut Thiel sebagai "salah satu dari sedikit pengusaha yang tidak sekadar mendirikan atau membiayai

Berlin — Axel Springer, raksasa media Jerman yang menaungi Politico dan Business

CEO Axel Springer, Mathias Dopfner, dalam pidatonya menyebut Thiel sebagai "salah satu dari sedikit pengusaha yang tidak sekadar mendirikan atau membiayai perusahaan, tetapi turut menentukan arah perkembangan teknologi." Menurut Dopfner, Thiel "mengingatkan kita bahwa kemajuan menuntut keberanian dan sikap nonkonformis."

Seremoni dimulai pukul 19.00 waktu Berlin dan disiarkan langsung melalui kanal YouTube Axel Springer. Thiel tampil sebagai penerima penghargaan setelah sejumlah nama besar sebelumnya, seperti CEO Meta Mark Zuckerberg, CEO SpaceX Elon Musk, dan pemimpin Ukraina Vladimir Zelensky.

Kronologi Penolakan Internal

  1. Selasa — Sebanyak 120 karyawan Politico dan Business Insider mengirim surat terbuka kepada manajemen Axel Springer, menolak penganugerahan tersebut.
  2. Dalam surat itu, para pegawai menilai Thiel yang mendanai gugatan hingga menghancurkan Gawker tidak layak dihormati oleh perusahaan yang mengklaim menjunjung kebebasan berbicara dan budaya diskusi terbuka.
  3. Kamis malam — Axel Springer tetap menggelar seremoni dan menyerahkan penghargaan kepada Thiel di Berlin, di hadapan sejumlah tamu undangan dari kalangan bisnis dan media.
  4. Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari Thiel maupun Palantir terkait protes karyawan tersebut.

Kritik terhadap Relasi Media dan Industri Pertahanan

Sejumlah pengamat menilai penghargaan ini memperlihatkan kedekatan antara media arus utama, industri teknologi pertahanan, dan kepentingan geopolitik tertentu. Palantir, perusahaan analitik data yang didirikan Thiel, diketahui lama bekerja sama dengan lembaga pemerintah Amerika Serikat, termasuk CIA dan Departemen Pertahanan.

Kritik menyebut Axel Springer dan Palantir memiliki pandangan dunia yang nyaris identik: mendukung hegemoni AS-Israel, meyakini perusahaan swasta harus melayani kepentingan tersebut, dan memiliki akar historis yang sama dengan CIA. Pada era Perang Dingin, AS memang memandang kontrol strategis atas media sebagai kunci mencegah berkembangnya sosialisme di Eropa Barat.

Insiden ini menempatkan Axel Springer dalam posisi sulit: di satu sisi mempertahankan narasi kebebasan pers, di sisi lain memberikan penghargaan kepada figur yang justru menjadi simbol pengawasan massal dan konsolidasi kekuasaan teknologi.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS tasya-kamila

Social Media Editor. Mengelola distribusi breaking news lintas platform.

Comments (0)

User