India Bahas Adopsi QRIS, Teknologi Pembayaran Indonesia Kian Mendunia

Di sebuah sudut Pasar Kombongan, Kemayoran, Jakarta, seorang pedagang sayur menyodorkan secarik kertas bertuliskan kode QR kepada pembeli. Suara notifikasi

Jul 11, 2026 - 09:22
0 0
India Bahas Adopsi QRIS, Teknologi Pembayaran Indonesia Kian Mendunia

Di sebuah sudut Pasar Kombongan, Kemayoran, Jakarta, seorang pedagang sayur menyodorkan secarik kertas bertuliskan kode QR kepada pembeli. Suara notifikasi dari ponsel menandakan transaksi selesai dalam hitungan detik, tanpa uang tunai berpindah tangan. Adegan sederhana ini kini bukan lagi pemandangan langka di Indonesia—tetapi akan segera menjadi rutinitas yang sama di anak benua Asia Selatan. Kabar dari lobi-lobi diplomasi ekonomi menyebutkan bahwa India tengah mengkaji kemungkinan mengadopsi Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS), standar pembayaran digital yang lahir dari rahim Bank Indonesia.

Dari Pasar Tradisional ke Panggung Dunia

QRIS bukan sekadar sistem pembayaran; ia adalah cerita tentang bagaimana sebuah negara berkembang berhasil menyatukan berbagai platform ke dalam satu kanal interoperabel. Diluncurkan pada 2019, QRIS lahir dari kebutuhan mendesak untuk menyederhanakan transaksi nontunai yang kala itu terfragmentasi. Setiap penyedia jasa pembayaran memiliki kode QR sendiri, membuat pedagang harus menyediakan belasan stiker di meja mereka. Kini, satu kode QR mampu menerima pembayaran dari 97 dompet digital dan aplikasi perbankan, sebuah lompatan efisiensi yang langsung dirasakan oleh lebih dari 30 juta merchant di seluruh nusantara.

"Ketika kami merancang QRIS, kami tidak hanya berpikir tentang pasar domestik. Kami ingin menciptakan standar yang bisa diadopsi secara luas," ujar seorang pejabat Bank Indonesia dalam sebuah diskusi tertutup awal tahun ini.

"Kami percaya bahwa interoperabilitas adalah kunci utama inklusi keuangan. Jika standar ini bisa kami bagikan ke negara-negara sahabat, itu adalah bentuk kontribusi Indonesia untuk ekonomi digital global yang lebih terhubung."

India Melirik QRIS: Bukan Sekadar Rumor

Yang terjadi saat ini lebih dari sekadar wacana. Pemerintah India melalui Reserve Bank of India (RBI) disebut telah melakukan pembicaraan teknis dengan Bank Indonesia. Fokus diskusi meliputi integrasi arsitektur QRIS ke dalam lanskap pembayaran India yang sudah lebih dulu memiliki Unified Payments Interface (UPI). Namun, alih-alih menjadi pesaing, QRIS justru dipandang sebagai lapisan tambahan yang memperkaya interoperabilitas lintas batas, khususnya untuk memfasilitasi wisatawan dan pekerja migran antara kedua negara.

Seorang analis kebijakan pembayaran digital yang enggan disebut namanya memberikan perspektif menarik:

"India memiliki UPI yang sangat kuat di dalam negeri, tetapi ketika warganya bepergian ke Asia Tenggara, mereka sering kesulitan karena keterbatasan akses transaksi. QRIS yang sudah hadir di Thailand, Malaysia, dan Singapura menjanjikan pengalaman transaksi yang tanpa hambatan bagi turis India. Jadi, adopsi ini lebih tentang membangun jembatan, bukan membangun tembok."

Jejak QRIS di Mancanegara: Bukti Sebelum Janji

Sebelum India masuk dalam radar, QRIS telah memperluas sayap ke berbagai negara. Thailand adalah negara pertama yang menjalin kerja sama penuh QRIS, memungkinkan transaksi langsung menggunakan aplikasi perbankan Indonesia di 7-Eleven, restoran, hingga pusat perbelanjaan di Bangkok dan Phuket. Kemudian, Malaysia, Singapura, dan Filipina menyusul—menciptakan koridor pembayaran digital ASEAN yang semakin solid.

Yang membuat langkah ini berbeda adalah posisinya sebagai standar nasional. Tidak banyak negara berkembang yang berhasil mengekspor skema pembayaran domestiknya untuk diterima di luar negeri. China memiliki Alipay dan WeChat Pay, tetapi kekuatan itu bersandar pada korporasi raksasa. QRIS justru lahir dari kebijakan bank sentral, memberikannya legitimasi sebagai infrastruktur publik yang bisa direplikasi dan diadopsi oleh negara-negara lain tanpa ketergantungan pada satu entitas swasta tertentu.

Dukungan Regulator dan Masa Depan

Pemerintah Indonesia tentu menyambut baik prospek ini. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian melihat adopsi QRIS oleh India sebagai kemenangan diplomasi ekonomi yang mendorong citra Indonesia bukan hanya sebagai konsumen teknologi, tetapi juga produsen standar global. Berbagai pertemuan tingkat tinggi, termasuk pada KTT G20 dan ASEAN Summit, menjadi panggung promosi keunggulan standar pembayaran nasional ini.

Jika India benar-benar mengimplementasikan QRIS—bahkan dalam skala terbatas di kawasan wisata seperti Goa, Mumbai, dan New Delhi pada tahap awal—hal itu akan menjadi batu loncatan besar menuju pengakuan yang lebih luas. Bayangan tentang satu kode QR yang bisa digunakan di lebih dari lima negara besar Asia bukan lagi impian; itu adalah peta jalan yang sedang ditulis hari ini.

Sementara itu, Bank Indonesia terus menyempurnakan infrastruktur QRIS agar semakin tahan, aman, dan mampu menangani volume transaksi yang melonjak. Kapasitas sistem, keamanan siber, serta perlindungan data pribadi menjadi pilar-pilar yang diperkuat. Dengan semua itu, warisan paling berharga dari QRIS mungkin bukan sekadar transaksi digital semata, melainkan keyakinan bahwa teknologi kebanggaan bangsa memang pantas berdiri di panggung dunia, menjadi arsitek dari cara baru yang lebih inklusif dalam bertransaksi.

[SOCIAL_FB]: Bayangkan: dari pasar tradisional di Kemayoran, teknologi QRIS melangkah ke bazar-bazar di Mumbai. Kabar bahwa India tengah mengkaji adopsi QRIS menegaskan bahwa standar pembayaran digital Indonesia bukan sekadar solusi domestik, melainkan infrastruktur global yang layak diadopsi. Setelah sukses di Thailand, Malaysia, Singapura, dan Filipina, kini India—raksasa teknologi dengan UPI-nya sendiri—melihat nilai interoperabilitas yang ditawarkan QRIS. Inilah kisah bagaimana inovasi anak bangsa menjadi jembatan transaksi lintas negara. Baca selengkapnya tentang perkembangan terbaru QRIS di sini.[SOCIAL_THREADS]: Dari Pasar Kombongan ke pembicaraan dengan India—QRIS terus menulis sejarahnya sendiri. Teknologi yang lahir dari kebutuhan menyederhanakan transaksi di dalam negeri kini menjadi standar yang dipertimbangkan untuk diadopsi oleh salah satu ekonomi digital terbesar dunia. Bagi saya, ini bukan hanya tentang kode QR, tapi tentang bagaimana negara berkembang bisa menjadi penentu standar, bukan sekadar pengguna. Apa langkah selanjutnya? Mungkin melihat satu QR diterima di Goa seperti halnya di Gambir. 🌏✨

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User