Sep 29, 2026
Nasional

Harga Minyak Brent Tembus US$105,91 Imbas Kekhawatiran Pasokan

JAKARTA — Harga minyak mentah dunia kembali menguat pada Selasa (29/9/2026) seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan dari kawasan

Harga Minyak Brent Tembus US$105,91 Imbas Kekhawatiran Pasokan

JAKARTA — Harga minyak mentah dunia kembali menguat pada Selasa (29/9/2026) seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah. Ketegangan geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran membuat pelaku pasar mewaspadai potensi terganggunya aliran minyak mentah dari kawasan penghasil terbesar di dunia.

Mengutip data Reuters, harga minyak patokan Brent untuk kontrak berjangka naik 63 sen atau 0,6 persen menjadi US$105,91 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) asal Amerika Serikat juga terangkat, naik 72 sen atau 0,8 persen ke posisi US$93,32 per barel.

Konflik AS-Iran Pacu Kecemasan Pasar

Kenaikan harga kedua kontrak utama itu terjadi di tengah perang yang telah berlangsung sejak tujuh bulan terakhir. Konflik bermula akhir Februari lalu setelah serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Situasi tersebut langsung mengangkat kembali risiko terhadap Selat Hormuz, jalur pelayaran kritis yang menjadi rute utama pengiriman minyak dan gas dunia.

Para analis menilai, gangguan apa pun di Selat Hormuz dapat memengaruhi pasar energi global secara luas, mengingat sebagian besar pasokan minyak dari Timur Tengah melewati jalur sempit tersebut.

"Harapan tercapainya kesepakatan menjadi salah satu faktor yang menahan harga Brent agar tidak bergerak secara berkelanjutan di atas US$110 per barel dalam waktu dekat."

Pernyataan itu disampaikan Analis Utama KCM Trade, Tim Waterer, yang menyebut pasar masih mencerna perkembangan diplomasi terbaru di New York.

Ekspor Naik, Metode Pengiriman Dinilai Mahal

Di tengah kenaikan harga, sebenarnya terlihat lonjakan volume ekspor minyak dari kawasan Teluk. Berdasarkan data awal penyedia data Kpler, ekspor minyak mentah dari produsen utama Timur Tengah meningkat menjadi 12,8 juta barel per hari sepanjang September, angka tertinggi sejak Februari.

Peningkatan itu didorong oleh melonjaknya pengiriman dari Arab Saudi dan Uni Emirat Arab. Namun demikian, sebagian peningkatan volume masih mengandalkan metode transfer minyak dari kapal ke kapal. Metode tersebut dinilai kurang efisien dan lebih mahal dibanding operasi normal, sehingga tekanan biaya tetap menopang harga di level tinggi.

  • Brent naik 0,6 persen ke US$105,91 per barel.
  • WTI menguat 0,8 persen ke US$93,32 per barel.
  • Ekspor Timur Tengah menyentuh 12,8 juta barel per hari.
  • Selat Hormuz tetap menjadi titik rawan pengiriman minyak.

Perundingan dan Kebijakan Energi AS

Pejabat Amerika Serikat dan Iran secara terpisah dikabarkan tengah berbicara dengan mediator dalam upaya baru mengakhiri perang. Pembicaraan lanjutan diperkirakan berfokus pada proposal tujuh hari yang diajukan Iran pekan lalu di sela-sela Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Sementara itu, di dalam negeri, pemerintah Amerika Serikat sedang mempertimbangkan pelonggaran aturan untuk memperluas penjualan diesel merah guna menekan harga. Kebijakan itu berpotensi memungkinkan sebagian pembeli menghindari pajak bahan bakar federal, sebagai alternatif dari rencana larangan ekspor diesel.

Bagi Indonesia, pergerakan harga minyak dunia yang bertahan di atas US$100 per barel berpotensi menekan neraca perdagangan sekaligus menambah beban subsidi energi. Pemerintah pun dipantau ketat untuk memastikan kebijakan harga bahan bakar tetap terkendali.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS fitri-handayani

Reporter Breaking News. Siap siaga 24/7 untuk peristiwa besar.

Comments (0)

User