Sep 29, 2026
Hukum

Hackers Curi Rp5,7 Triliun dari Bursa Kripto Bitget

JAKARTA — Dunia cryptocurrency kembali diguncang skandal keamanan berskala besar. Bursa kripto terkemuka, Bitget, mengumumkan bahwa pihaknya menjadi korban

Hackers Curi Rp5,7 Triliun dari Bursa Kripto Bitget

JAKARTA — Dunia cryptocurrency kembali diguncang skandal keamanan berskala besar. Bursa kripto terkemuka, Bitget, mengumumkan bahwa pihaknya menjadi korban peretasan yang mengakibatkan dana senilai hampir US$352 juta atau setara Rp5,7 triliun (asumsi kurs Rp16.200 per dolar AS) raib dari dompet digital perusahaan. Insiden ini memaksa Bitget untuk menghentikan sementara seluruh aktivitas penarikan dana (withdrawal) milik pengguna.

Serangan tersebut terdeteksi pada Kamis malam waktu setempat. CEO Bitget, Gracy Chen, dalam pernyataan resminya mengonfirmasi adanya transfer tidak sah dari sejumlah dompet perusahaan. Meski demikian, ia menegaskan bahwa dana milik pelanggan tetap aman dan seluruh kerugian akan ditanggung oleh User Protection Fund yang dimiliki perusahaan.

Dana Perlindungan Pengguna Jadi Penjamin

Menurut Gracy Chen, dana perlindungan pengguna yang dikelola Bitget saat ini memiliki saldo lebih dari US$464 juta. Nilai tersebut diklaim lebih dari cukup untuk menutupi seluruh kerugian akibat peretasan. Langkah ini diambil untuk menjaga kepercayaan publik di tengah industri kripto yang sedang menghadapi tekanan besar.

"Dana pelanggan aman. Kerugian sepenuhnya ditanggung oleh User Protection Fund kami yang memiliki saldo lebih dari US$464 juta," ujar Gracy Chen dalam pernyataan resminya, Jumat (waktu setempat).

Chen menjelaskan bahwa aset yang dicuri berasal dari dompet "hot" dan "warm" milik Bitget — jenis dompet yang memang terhubung ke internet untuk memproses transaksi harian dan menyimpan dana yang siap dipindahkan. Sementara itu, dompet "cold" atau dompet offline yang menyimpan mayoritas cadangan aset perusahaan dipastikan tidak tersentuh oleh peretas.

Investigasi dan Dugaan Keterlibatan Pihak Tertentu

Hingga saat ini, Bitget belum mengidentifikasi secara pasti siapa dalang di balik serangan tersebut. Namun, Gracy Chen memberikan sinyal kuat bahwa perusahaannya menduga ada keterlibatan aktor dari Korea Utara. Ia tidak merinci lebih jauh dasar dari dugaan tersebut, tetapi pola serangan yang menyasar bursa kripto global memang kerap dikaitkan dengan kelompok peretas yang didukung negara.

Platform analitik blockchain, Lookonchain, melaporkan bahwa para penyerang diduga telah mengonversi sekitar US$183 juta dari aset curian tersebut menjadi token Ether. Konversi cepat ini bertujuan untuk menyamarkan jejak transaksi dan mempersulit proses pelacakan oleh otoritas maupun perusahaan keamanan siber.

Saat ini, Bitget masih mengizinkan aktivitas deposit dan perdagangan berjalan seperti biasa, namun penarikan dana ditangguhkan hingga proses investigasi tuntas. Langkah ini diambil untuk mencegah terjadinya arus penarikan massal yang berpotensi memperparah kondisi likuiditas bursa.

Ancaman Siber Berbasis AI Semakin Nyata

Insiden di Bitget menambah panjang daftar peretasan besar yang menimpa industri kripto dalam beberapa tahun terakhir. Yang membuat situasi semakin mencemaskan, muncul kekhawatiran bahwa kemajuan kecerdasan buatan (AI) telah membuat serangan siber menjadi jauh lebih mudah, cepat, dan sulit dideteksi.

AI memungkinkan pelaku kejahatan untuk mengotomatisasi pencarian celah keamanan, menyusun strategi phishing yang lebih meyakinkan, hingga merekayasa transfer dana lintas dompet dalam hitungan detik. Hal ini menuntut bursa kripto untuk terus meningkatkan lapisan pertahanan mereka.

  • Total kerugian: sekitar US$352 juta (Rp5,7 triliun)
  • Status penarikan: ditangguhkan sementara untuk semua pengguna
  • Dana perlindungan: lebih dari US$464 juta, diklaim menutup kerugian
  • Dompet terdampak: hot wallet dan warm wallet, bukan cold wallet
  • Dugaan pelaku: indikasi keterlibatan Korea Utara

Kasus ini menjadi pengingat keras bahwa adopsi kripto yang semakin masif harus diimbangi dengan sistem keamanan yang berlapis. Para investor pun diimbau untuk lebih waspada dalam memilih platform penyimpanan aset digital mereka.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS tasya-kamila

Social Media Editor. Mengelola distribusi breaking news lintas platform.

Comments (0)

User