BEIRUT — Ratusan pengungsi asal Lebanon selatan menggelar aksi demonstrasi di depan kantor Perwakilan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Beirut, Kamis (26/9/2026), menuntut dihentikannya serangan militer Israel yang telah menghancurkan rumah, kota, dan desa di kawasan selatan negara itu. Aksi tersebut menjadi puncak dari rangkaian protes yang menuntut perlindungan internasional bagi warga sipil yang terusir dari kampung halaman mereka.
Demonstrasi ini berlangsung di tengah eskalasi besar di Lebanon yang dimulai pada awal Maret 2026, setelah Amerika Serikat dan Israel meluncurkan serangan terhadap Iran. Serangan itu memicu pembalasan dari kelompok Hizbullah, yang kemudian dibalas Israel dengan serangkaian serangan udara dan perluasan kehadiran militer di Lebanon selatan.
Israel Kuasai 600 Kilometer Persegi Lebanon Selatan
Menurut laporan yang beredar, Israel telah menduduki sekitar 600 kilometer persegi wilayah di Lebanon selatan, memaksa ratusan ribu warga sipil meninggalkan sekitar 57 kota dan desa yang berada di dalam zona pendudukan tersebut. Angka ini menggambarkan skala pengungsian yang belum pernah terjadi dalam beberapa dekade terakhir di kawasan itu.
Para pengungsi yang hadir dalam aksi di Beirut datang dari berbagai lapisan masyarakat. Mereka tidak hanya membawa cerita kehilangan rumah dan tempat usaha, tetapi juga menuntut keadilan dari komunitas internasional. Banyak dari mereka menyatakan bahwa bantuan kemanusiaan yang tersedia masih jauh dari cukup untuk menopang kehidupan sehari-hari.
"Kami adalah orang-orang penyandang disabilitas, pemilik rumah, dan pemilik usaha dari selatan yang telah mengalami kerugian serta menghadapi kesulitan berat," ujar seorang demonstran kepada RT.
"Hari ini akan menjadi hari internasional menentang pengusiran, pembombardiran, dan penghancuran, terutama mengingat Israel, musuh brutal itu, telah menghancurkan fondasi kehidupan di selatan."
Pernyataan tersebut menggambarkan kemarahan dan keputusasaan warga yang merasa ditinggalkan oleh dunia internasional. Mereka menilai PBB belum mengambil langkah tegas untuk menghentikan operasi militer Israel maupun memulihkan wilayah yang telah hancur.
Krisis Kemanusiaan yang Semakin Dalam
Eskalasi konflik di Lebanon selatan telah menciptakan krisis kemanusiaan berlapis. Berikut sejumlah dampak utama yang dihadapi warga sipil:
- Pengungsian massal: Ratusan ribu orang kehilangan tempat tinggal dan terpaksa mengungsi ke Beirut serta wilayah lain yang lebih aman.
- Kerusakan infrastruktur: Rumah, sekolah, fasilitas kesehatan, dan jalan di puluhan desa dilaporkan hancur atau rusak berat.
- Kelumpuhan ekonomi: Banyak pengungsi kehilangan mata pencaharian karena usaha mereka berada di zona konflik.
- Akses bantuan terbatas: Jalur distribusi bantuan kemanusiaan terganggu oleh ketidakstabilan keamanan di lapangan.
Pengamat menilai bahwa tanpa tekanan internasional yang signifikan, situasi di Lebanon selatan berpotensi semakin memburuk. Aksi protes di depan kantor PBB menjadi sinyal bahwa warga sipil menuntut tindakan nyata, bukan sekadar pernyataan keprihatinan.
Sejauh ini belum ada pernyataan resmi dari pihak PBB maupun otoritas Lebanon terkait tuntutan para demonstran. Namun, tekanan publik diprediksi akan terus meningkat seiring bertambahnya jumlah pengungsi dan kerusakan yang ditimbulkan oleh konflik berkepanjangan tersebut.
Comments (0)