JAKARTA — Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung akhirnya menjatuhkan perintah tegas: Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) yang dijuluki warga 'love-hate relationship' di Jalan Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, resmi dibongkar.
Keputusan itu disampaikan usai peninjauan lapangan. Eksekusi pembongkaran akan dilakukan Dinas Bina Marga DKI Jakarta dalam waktu dekat.
Perintah pembongkaran ini langsung menjadi perhatian publik. Kawasan Rasuna Said merupakan salah satu jalan protokol tersibuk di Ibu Kota.
Informasi ini dikonfirmasi jajaran Pemprov DKI. Belum ada rincian resmi soal anggaran dan jadwal teknis pembongkaran.
Langkah ini mengakhiri perdebatan panjang soal jembatan tersebut. Selama bertahun-tahun, JPO itu jadi sorotan karena desainnya yang dinilai unik sekaligus menyusahkan pejalan kaki.
Fakta Cepat Pembongkaran
- Lokasi: Jalan Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan
- Perintah: Langsung dari Gubernur Pramono Anung
- Julukan: 'Love-hate relationship' dari warga pengguna jalan
- Eksekutor: Dinas Bina Marga Provinsi DKI Jakarta
- Status: Menunggu jadwal teknis pembongkaran
Kenapa Dibongkar?
Pramono menegaskan fasilitas publik harus berpihak pada warga. JPO yang rumit dan tidak ramah justru membuat pejalan kaki enggan memakainya.
Akibatnya, banyak warga nekat menyeberang di badan jalan. Kondisi itu sangat berbahaya mengingat arus lalu lintas Rasuna Said padat setiap jam kerja.
"Fasilitas pejalan kaki harus mudah diakses, aman, dan nyaman. Kalau justru menyulitkan, lebih baik ditata ulang," kata Pramono.
Pemprov DKI juga menilai JPO itu tidak lagi sejalan dengan penataan kawasan Kuningan sebagai koridor bisnis modern.
Kondisi di Lapangan
Saksi mata di lokasi menyebut JPO itu memang sepi pemakaian. Banyak pejalan kaki memilih menunggu celah lalu lintas ketimbang menaiki tangga.
Kondisi anak tangga dan atap jembatan juga mulai menua. Sebagian fasilitas dilaporkan kurang terawat.
Asal-usul Julukan 'Love-Hate Relationship'
Julukan unik itu lahir dari perasaan campur aduk warga. Di satu sisi, jembatan ini dibutuhkan untuk menyeberang dengan aman. Di sisi lain, desainnya kerap dikeluhkan.
Pejalan kaki harus menaiki anak tangga panjang yang melelahkan. Lansia, ibu hamil, dan penyandang disabilitas menjadi kelompok paling terdampak.
Di media sosial, JPO ini berkali-kali viral. Warganet membagikan pengalaman naik-turun jembatan yang dianggap bak olahraga dadakan di tengah kota.
Reaksi Warga
Sejumlah pejalan kaki menyambut positif keputusan ini. Mereka berharap fasilitas penggantinya jauh lebih manusiawi.
"Selama ini capek naik tangganya. Semoga nanti ada pelican crossing atau zebra cross yang aman," ujar seorang karyawan yang berkantor di Kuningan.
Namun ada pula yang cemas. Tanpa jembatan, penyeberangan di Rasuna Said bisa makin berisiko jika penggantinya tidak segera dibangun.
Komunitas pejalan kaki turut angkat suara. Mereka menilai pembongkaran harus dibarengi solusi nyata, bukan sekadar merobohkan.
"Yang penting ada penggantinya. Jangan sampai warga justru kesulitan menyeberang," kata seorang anggota komunitas pejalan kaki.
Rencana Pengganti
Pemprov DKI menyiapkan sejumlah opsi pengganti. Salah satunya pelican crossing dengan lampu lalu lintas khusus pejalan kaki.
Opsi lain adalah penataan trotoar dan zebra cross yang lebih aman. Semua akan dikaji bersama Dinas Perhubungan dan kepolisian.
Usulan lain yang mengemuka adalah JPO baru dengan lift dan ramp. Desainnya akan melibatkan masukan publik.
Pramono meminta jajarannya bergerak cepat. Ia tidak ingin ada kekosongan fasilitas penyeberangan yang membahayakan warga.
Bagian dari Penataan Besar
Pembongkaran ini bagian dari agenda besar Pramono menata ulang fasilitas pejalan kaki di Ibu Kota. Sejumlah JPO lain turut dievaluasi.
Kriteria evaluasi meliputi keselamatan, aksesibilitas, dan tingkat penggunaan. JPO yang jarang dipakai karena desain buruk akan ditata ulang atau diganti.
Data pemerintah kota menyebut tingkat penggunaan sejumlah JPO terus menurun. Banyak warga memilih menyeberang sejajar karena lebih cepat.
Kondisi itu menimbulkan risiko kecelakaan. Karena itu, penataan ulang dianggap mendesak dilakukan.
Pemprov menegaskan komitmen menjadikan Jakarta ramah pejalan kaki. Visi ini sejalan dengan pengembangan transportasi umum massal.
Update Selanjutnya
Jadwal resmi pembongkaran diumumkan dalam hitungan hari. Rekayasa lalu lintas akan diberlakukan selama proses berlangsung.
Warga diimbau mengikuti arahan petugas di lapangan. Perkembangan terbaru disampaikan begitu ada konfirmasi resmi.
Beritatercepat akan terus memantau perkembangan langsung dari lokasi.
Comments (0)