Golkar Ungkap Kesenjangan: Biaya Pendidikan per Siswa Seharusnya Rp18 Juta

JAKARTA — Partai Golkar melontarkan desakan keras kepada pemerintah untuk segera merevisi besaran dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) setelah melakukan perhitungan internal bahwa biaya pendidikan...

Jul 14, 2026 - 21:47
0 0
Golkar Ungkap Kesenjangan: Biaya Pendidikan per Siswa Seharusnya Rp18 Juta

JAKARTA — Partai Golkar melontarkan desakan keras kepada pemerintah untuk segera merevisi besaran dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) setelah melakukan perhitungan internal bahwa biaya pendidikan ideal per siswa mencapai Rp18 juta per tahun. Angka itu 20 kali lipat dibandingkan alokasi BOS saat ini yang hanya sekitar Rp900.000 per siswa.

Kesenjangan yang Terlalu Lebar

Data yang dihimpun oleh tim kebijakan partai menunjukkan bahwa kebutuhan nyata di lapangan, mulai dari honor guru honorer, pemeliharaan sarana, hingga penyediaan buku dan alat tulis, membutuhkan dana yang jauh di atas apa yang selama ini digelontorkan. Ketimpangan ini dinilai sebagai akar dari banyak persoalan mutu pendidikan di Indonesia, terutama di daerah terpencil.

"Kami melihat ada gap yang sangat besar antara kebutuhan operasional riil dengan dana yang diterima sekolah," ujar salah satu fungsionaris Golkar dalam paparan yang disampaikan secara tertutup. Meskipun tidak ada pernyataan resmi terbuka, partai tersebut kini gencar mendorong agar dana BOS dinaikkan secara bertahap hingga minimal Rp5 juta per siswa dalam jangka pendek, dengan target jangka panjang mendekati angka ideal Rp18 juta.

Perbandingan dengan Anggaran Negara Lain

Pengeluaran per siswa di Indonesia masih tertinggal dibandingkan negara tetangga. Sebagai contoh, Malaysia rata-rata mengalokasikan lebih dari Rp24 juta per siswa per tahun untuk pendidikan dasar. Golkar menekankan bahwa tanpa investasi signifikan, target Indonesia Emas 2045 sulit tercapai karena kualitas sumber daya manusia tidak akan kompetitif.

Dana BOS sendiri sudah lama menjadi sorotan. Sejak diluncurkan pada 2005, kenaikannya tidak sebanding dengan inflasi dan kenaikan biaya hidup. Bahkan, di beberapa sekolah, nilai Rp900.000 per siswa hanya cukup untuk membayar listrik dan kebutuhan administrasi dasar, sehingga kegiatan ekstrakurikuler dan pengembangan bakat terpaksa dihentikan.

Skema Baru dan Dukungan Fraksi

Partai Golkar mengusulkan agar kenaikan dana BOS dibarengi dengan reformasi birokrasi penyaluran. Mereka menginginkan mekanisme block grant yang lebih fleksibel, memungkinkan sekolah mengelola dana sesuai prioritas masing-masing. Selain itu, mereka mendorong pengawasan ketat untuk mencegah kebocoran yang selama ini kerap terjadi.

Beberapa anggota Fraksi Golkar di DPR sudah menyiapkan draf revisi Peraturan Pemerintah tentang Standar Pembiayaan Pendidikan. Jika draf ini lolos, pemerintah diwajibkan merealokasi anggaran pendidikan yang selama ini sebagian besar masih terserap untuk gaji aparatur sipil negara.

Pernyataan ini memicu reaksi beragam. Pengamat pendidikan menyambut baik wacana tersebut, tetapi skeptis terhadap kemampuan fiskal negara. "Kenaikan yang fantastis itu harus dipikirkan sumber dananya dari mana. Jangan sampai hanya retorika," ujar seorang pengamat yang enggan disebutkan namanya.

Tahapan Realistis dan Target Ambisius

Menanggapi keraguan publik, Golkar merilis peta jalan bertahap. Tahap pertama, dalam APBN 2027, mereka menargetkan dana BOS naik menjadi Rp2 juta per siswa. Tahap berikutnya, setiap tahun terjadi penambahan sekitar Rp500.000 hingga akhirnya mencapai Rp18 juta dalam 15 tahun ke depan. Strategi ini diklaim masih dalam koridor defisit yang aman.

"Kami tidak mungkin langsung menaikkan 20 kali lipat dalam setahun. Tapi pemerintah harus punya komitmen," tandas sumber internal partai yang dekat dengan dewan pimpinan.

Dengan adanya pernyataan ini, publik menunggu respons resmi dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah serta Kementerian Keuangan. Apakah kebutuhan pendidikan sebesar Rp18 juta per siswa akan diakomodasi dalam rancangan APBN mendatang, atau hanya menjadi wacana politik menjelang tahun politik.

Yang pasti, perbandingan Rp900.000 berbanding Rp18 juta telah membuka mata banyak pihak bahwa investasi pendidikan di Indonesia masih jauh dari kata layak.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
irwan-setiawan

Reporter Foto. Visual storyteller dengan 12 tahun pengalaman.

Comments (0)

User