St. Louis, Beritatercepat.com — Puluhan ribu umat Katolik dari berbagai penjuru Amerika Serikat berkumpul di Stadion Dome at America's Center, St. Louis, Missouri, pada Kamis sore waktu setempat untuk menyaksikan prosesi beatifikasi mendiang Uskup Agung Fulton John Sheen, figur penginjil Katolik paling berpengaruh abad ke-20. Upacara bersejarah ini menandai langkah pertama menuju kanonisasi bagi uskup yang wafat pada 1979 silam.
Misa beatifikasi dipimpin langsung oleh perwakilan Vatikan dan disiarkan secara langsung melalui kanal resmi Gereja Katolik. Siaran dimulai pukul 14.00 waktu St. Louis atau 21.00 Waktu Eropa Tengah, memungkinkan jutaan umat di seluruh dunia menyaksikan momen sakral tersebut secara real-time. Penyelenggara memperkirakan sekitar 50.000 orang hadir langsung di stadion, angka yang membuat panitia sempat menunda acara selama beberapa tahun karena kesulitan mencari venue yang memadai.
Jejak Sang Penginjil Televisi
Fulton Sheen bukanlah tokoh gereja biasa. Selama beberapa dekade, ia dikenal luas sebagai pembawa acara televisi mingguan bertajuk Life Is Worth Living yang mampu menarik hingga 30 juta penonton setiap pekan. Pada puncak popularitasnya di era 1950-an, programnya bahkan bersaing ketat dengan acara hiburan legendaris milik Frank Sinatra. Prestasi itu mengantarkannya meraih penghargaan Emmy Award, sebuah pencapaian langka bagi seorang rohaniwan Katolik.
Kemampuan Sheen mengemas pesan iman dengan gaya komunikasi yang hangat dan intelektual membuatnya dijuluki sebagai "uskup televisi" pertama di dunia.
Ia lahir di El Paso, Illinois pada 1895 dan ditahbiskan sebagai imam untuk Keuskupan Peoria sebelum akhirnya menjabat sebagai Uskup Rochester. Sepanjang hidupnya, Sheen menulis lebih dari 60 buku dan memandu berbagai program radio serta televisi yang menyentuh jutaan rumah tangga Amerika.
Dukungan Paus Leo XIV
Paus Leo XIV, yang tumbuh besar sekitar 100 mil dari Keuskupan pertama Sheen di Peoria, memberikan pujian khusus dalam pidatonya di Vatikan pada Rabu. Menurutnya, sosok Sheen layak menjadi teladan bagi generasi modern dalam memanfaatkan media sebagai sarana menyebarkan pesan Injil.
"Semoga teladan dan perantaraan uskup suci ini, yang dikenal karena karya penginjilannya melalui media, menginspirasi banyak orang lain untuk menemukan cara baru menyebarkan pesan Injil dengan antusiasme yang penuh sukacita," ujar Paus Leo XIV dalam pernyataan resminya.
Rangkaian Prosesi Beatifikasi
- Penyambutan relik — Relik Uskup Sheen dibawa masuk ke stadion dalam prosesi khidmat yang diiringi nyanyian liturgi.
- Pembacaan riwayat hidup — Biografi singkat dan mukjizat yang diakui Gereja dibacakan di hadapan umat.
- Deklarasi beatifikasi — Perwakilan Vatikan membacakan dekrit resmi yang mengangkat Sheen sebagai Beato atau "Yang Terberkati".
- Misa syukur — Perayaan ekaristi bersama seluruh umat yang hadir dan penutupan dengan doa bersama.
Gelar Beato berarti Sheen kini dapat diberi penghormatan liturgis di tingkat lokal, meski belum diakui sebagai santo untuk seluruh dunia. Untuk mencapai status santo, Vatikan masih memerlukan bukti mukjizat kedua yang terverifikasi secara medis dan teologis. Proses ini biasanya memakan waktu bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun.
Relevansi di Era Digital
Warisan Sheen dinilai semakin relevan di tengah lanskap media modern. Banyak pengamat menilai pendekatannya mendahului zamannya, jauh sebelum istilah "dakwah digital" populer di kalangan gereja kontemporer. "Sheen membuktikan bahwa iman bisa hadir di ruang tamu masyarakat tanpa kehilangan kedalaman teologisnya," kata seorang pengamat komunikasi keagamaan dari Universitas St. Louis.
Dengan beatifikasi ini, Gereja Katolik berharap sosok Sheen dapat menjadi jembatan antara tradisi lama dan generasi milenial yang terbiasa mengonsumsi konten keagamaan lewat layar ponsel.
Comments (0)