Gempa M 5,1 Hantam Kepulauan Sangihe, Warga Panik Berhamburan
BARU SAJA — Gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 5,1 mengguncang wilayah Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, pada Sabtu dini hari (12/7/2026). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG...
BARU SAJA — Gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 5,1 mengguncang wilayah Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, pada Sabtu dini hari (12/7/2026). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) langsung merilis pernyataan resmi dalam hitungan menit setelah kejadian.
Kronologi dan Parameter Gempa
Berdasarkan data yang dihimpun, getaran kuat terjadi sekitar pukul 02.47 WITA. Episentrum gempa teridentifikasi berada di laut, tepatnya pada koordinat 3.98 Lintang Utara dan 125.67 Bujur Timur. Pusat getaran berlokasi sekitar 68 kilometer arah tenggara Melonguane, Kepulauan Sangihe, dengan kedalaman mencapai 12 kilometer di bawah permukaan laut.
BMKG menegaskan bahwa mekanisme sumber gempa merupakan aktivitas subduksi lempeng. Hasil analisis menunjukkan pergerakan sesar naik atau thrust fault sebagai pemicu utama pelepasan energi seismik tersebut. Meski berkekuatan signifikan, hasil pemodelan oseanografi memastikan tidak ada potensi tsunami yang mengancam wilayah pesisir.
Dampak dan Kepanikan Warga
Getaran dirasakan cukup keras oleh warga di sejumlah titik permukiman. Laporan awal menyebutkan:
- Skala intensitas III-IV MMI terdeteksi di Melonguane dan Tahuna — warga merasakan goyangan seperti truk besar melintas, benda-benda ringan bergoyang
- Skala II-III MMI dilaporkan di wilayah Kepulauan Talaud — getaran dirasakan oleh sebagian orang yang sedang beristirahat
- Belum ada laporan kerusakan bangunan atau korban jiwa hingga 30 menit pascalonjakan
Saksi mata di Tahuna, ibu kota Kabupaten Kepulauan Sangihe, menggambarkan situasi mencekam. Sejumlah penghuni rumah dan apartemen langsung berhamburan keluar gedung begitu guncangan pertama terasa. Kepanikan sempat terjadi selama beberapa menit sebelum warga kembali tenang setelah BMKG mengumumkan status nihil tsunami.
Pihak BPBD setempat telah menerjunkan tim reaksi cepat ke titik-titik rawan. Proses asesmen masih berlangsung untuk memastikan tidak ada dampak susulan yang terlewat dari pemantauan awal. Jalur komunikasi dan listrik dilaporkan tetap berfungsi normal tanpa gangguan berarti.
Respons dan Imbauan Resmi
BMKG mengimbau masyarakat tetap tenang namun waspada. Potensi gempa susulan dengan magnitudo lebih kecil tetap ada, kendati tidak perlu dikhawatirkan secara berlebihan. Masyarakat pesisir diminta tidak mudah terpancing isu tsunami yang tidak jelas sumbernya.
Informasi resmi hanya bersumber dari kanal BMKG dan lembaga terkait. Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG menyatakan seluruh sensor seismik di Sulawesi Utara dalam kondisi siaga penuh. Tim monitoring terus memperbarui data setiap 10 menit untuk mendeteksi aktivitas gempa susulan yang mungkin terjadi.
Kepulauan Sangihe merupakan wilayah dengan aktivitas seismik tinggi mengingat posisinya di jalur subduksi aktif pertemuan Lempeng Filipina dan Lempeng Eurasia. Catatan historis menunjukkan kawasan ini beberapa kali mengalami gempa signifikan, termasuk gempa M 6,8 pada tahun 2009 dan M 7,2 pada tahun 2014. Kewaspadaan struktural dan kesiapsiagaan warga dinilai menjadi faktor kunci dalam meminimalkan risiko bencana di masa mendatang.
Baca juga:
Comments (0)