Monday, 24 August 2026 | 11:52 WIB

FTSE Russell Coret 29 Emiten RI dari Indeks Global

BREAKING — FTSE Russell mencoret 29 emiten Indonesia dari indeks globalnya. Keputusan diumumkan Jumat, 21 Agustus 2026, selepas perdagangan bursa berakhir.Pencoretan ini bagian dari FTSE Global Equi...

Aug 22, 2026 - 01:56
0 0
FTSE Russell Coret 29 Emiten RI dari Indeks Global

BREAKING — FTSE Russell mencoret 29 emiten Indonesia dari indeks globalnya. Keputusan diumumkan Jumat, 21 Agustus 2026, selepas perdagangan bursa berakhir.

Pencoretan ini bagian dari FTSE Global Equity Index Series (GEIS) Semi-Annual Review September 2026. FTSE Russell menjalankan evaluasi konstituen secara berkala, biasanya dua kali setahun.

Hasil review diumumkan melalui keterangan resmi penyedia indeks. FTSE Russell merupakan salah satu penyedia indeks global terbesar di dunia, bagian dari London Stock Exchange Group.

Indeks buatan FTSE Russell dipakai banyak manajer investasi dunia. Dana-dana itu menjadikannya patokan untuk menempatkan alokasi di pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Jadwal Efektif dan Rebalancing

Perubahan konstituen baru berlaku efektif Senin, 21 September 2026. Acuan yang dipakai adalah harga pembukaan perdagangan hari itu.

Sebelumnya, FTSE Russell menetapkan Jumat, 18 September 2026 sebagai tanggal rebalancing. Perhitungan ulang dilakukan menggunakan harga penutupan.

FTSE Russell memberi masa tenggang untuk revisi. Daftar yang diumumkan hari ini masih bisa berubah sampai penutupan perdagangan Jumat, 4 September 2026.

Setelah tanggal itu, perubahan dinyatakan final. Ketentuan resmi mulai berlaku Senin, 7 September 2026. Pelaku pasar diminta mencermati daftar terbaru.

Tak Ada Saham RI yang Naik Kelas

Dalam review September ini, tidak ada saham Indonesia yang masuk kategori Large Cap maupun Mid Cap. Padahal, kenaikan kelas biasanya jadi kabar baik bagi emiten.

Yang terjadi justru sebaliknya. Sejumlah saham Indonesia mengalami penurunan kelas kapitalisasi sebelum akhirnya dikeluarkan dari indeks.

Salah satu yang mencolok adalah PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE). Pengembang properti itu sebelumnya berada di kategori Mid Cap.

Pada review kali ini, BSDE dikeluarkan dari Mid Cap. Sahamnya dipindahkan ke kategori Micro Cap. Setelah itu, BSDE masuk jajaran emiten yang dicoret.

Sepuluh Saham Turun ke Micro Cap

Sepuluh saham lain juga diturunkan kelas dari Small Cap ke Micro Cap. Mayoritas berasal dari sektor perbankan, properti, media, hingga kesehatan.

Berikut daftar lengkapnya:

PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB), PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk (BJBR), PT Bank BTPN Syariah Tbk (BTPS), PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR), PT MDS Retailing Tbk (LPPF), PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN), PT Panin Financial Tbk (PNLF), PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO), PT Summarecon Agung Tbk (SMRA), dan PT Surya Citra Media Tbk (SCMA).

Dari sepuluh nama itu, SILO menjadi kasus khusus. Emiten rumah sakit ini tercatat sebagai eksklusi di Small Cap.

SILO juga tidak muncul dalam daftar inklusi Micro Cap. Karena itu, SILO menjadi satu-satunya saham yang benar-benar keluar total dari indeks FTSE. Sembilan emiten lain masih tercatat di Micro Cap.

Apa Itu FTSE Global Equity Index Series?

FTSE GEIS adalah rangkaian indeks saham global yang disusun berdasarkan kapitalisasi pasar. Indeks ini membagi emiten dalam empat lapisan: Large Cap, Mid Cap, Small Cap, dan Micro Cap.

Konstituen dihitung menggunakan nilai kapitalisasi yang disesuaikan free float. Saham dengan kapitalisasi besar dan likuiditas tinggi umumnya masuk lapisan atas.

Sebaliknya, emiten dengan nilai kapitalisasi kecil ditempatkan di lapisan bawah. Penurunan harga yang berkepanjangan bisa membuat saham turun kelas.

Indeks ini menjadi acuan bagi dana global, reksa dana, dan produk investasi lain. Banyak produk keuangan internasional meniru komposisi indeks FTSE.

Dampak bagi Pasar Modal Indonesia

Pencoretan 29 emiten berpotensi menimbulkan tekanan jual. Dana asing yang mengikuti indeks biasanya menyesuaikan portofolio menjelang tanggal efektif.

Namun, perlu digarisbawahi bahwa review ini bersifat rutin. Keluarnya saham dari indeks tidak otomatis mencerminkan fundamental perusahaan.

Sebagian emiten yang dicoret masih tercatat di bursa dan tetap bisa diperdagangkan. Likuiditas saham juga masih didukung pelaku pasar domestik.

Yang perlu dicermati investor adalah pergerakan harga di sekitar tanggal rebalancing, 18-21 September 2026. Volatilitas jangka pendek bisa terjadi.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari Bursa Efek Indonesia maupun emiten terkait. Daftar final akan diumumkan FTSE Russell setelah 7 September 2026.

Perkembangan akan terus diupdate.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
lina-marlina

Reporter Daerah. Koordinator jaringan kontributor di 34 provinsi.

Comments (0)

User