Eddy Soeparno: Pengelolaan Sampah Butuh Perubahan Dasar
Wakil Ketua MPR RI dari Fraksi PAN, Eddy Soeparno, mengungkapkan keprihatinannya atas musibah kebakaran yang melanda Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatiwaringin. Dalam keterangan yang diterima media k
Wakil Ketua MPR RI dari Fraksi PAN, Eddy Soeparno, mengungkapkan keprihatinannya atas musibah kebakaran yang melanda Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatiwaringin. Dalam keterangan yang diterima media kami, ia menekankan bahwa insiden tersebut menjadi alarm bagi bangsa untuk segera mengubah paradigma pengelolaan sampah yang selama ini bergantung pada penimbunan terbuka.
Kebakaran TPA Jadi Tonggak Evaluasi
Eddy menegaskan, kebakaran yang terjadi di TPA Jatiwaringin bukanlah yang pertama dan tidak akan menjadi yang terakhir jika sistem pengelolaan sampah konvensional terus dipertahankan. Sistem open dumping, yang menumpuk sampah begitu saja tanpa pengolahan, tidak hanya berpotensi menimbulkan kebakaran akibat gas metana yang terperangkap, tetapi juga memicu pencemaran air tanah dan udara. “Kita tidak bisa lagi menutup mata. Setiap tahun kita membuang jutaan ton sampah ke TPA, dan sebagian besar hanya menjadi gunungan yang rawan bencana. Ini harus segera diakhiri,” ujar politikus asal Jawa Barat tersebut. Data Kementerian Lingkungan Hidup menunjukkan, lebih dari 60 persen sampah di Indonesia diangkut ke TPA tanpa pengolahan berarti, menimbulkan beban lingkungan yang terus menumpuk.
Waste-to-Energy Jadi Solusi Mendesak
Alih-alih terus menimbun, Eddy Soeparno mendorong implementasi teknologi Waste-to-Energy (WTE) secara masif. Ia menjelaskan, WTE tidak hanya mengurangi volume sampah hingga 90 persen, tetapi juga mengubahnya menjadi energi listrik atau panas yang bernilai ekonomi. “Pengelolaan sampah berbasis WTE adalah langkah yang tepat. Selain ramah lingkungan, kita bisa menghasilkan energi yang bermanfaat bagi masyarakat sekitar,” tegasnya. Beberapa negara seperti Swedia dan Jepang telah sukses mengadopsi teknologi ini, bahkan mengimpor sampah untuk memenuhi kebutuhan energi mereka. Menurut Eddy, Indonesia seharusnya tidak lagi terpaku pada paradigma lama. Dengan populasi besar dan laju urbanisasi yang tinggi, potensi sampah sebagai sumber energi sangat besar, dan investasi pada WTE akan menjadi lompatan signifikan untuk kemandirian energi sekaligus penyelesaian krisis sampah.
Ia berharap, musibah TPA Jatiwaringin menjadi titik balik kesadaran kolektif. Pemerintah pusat dan daerah harus segera menyatukan langkah untuk mendorong regulasi dan investasi di sektor WTE. “Kita sudah terlalu banyak berwacana, sekarang saatnya bertindak,” pungkasnya.
Comments (0)