DWP Kemensos Dorong Kemandirian Disabilitas Jombang via ATENSI
BARU SAJA! Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kementerian Sosial mengonfirmasi langsung intervensi besar-besaran untuk penyandang disabilitas di Jombang. Lewat program ATENSI, puluhan “para tersayang” ...
BARU SAJA! Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kementerian Sosial mengonfirmasi langsung intervensi besar-besaran untuk penyandang disabilitas di Jombang. Lewat program ATENSI, puluhan “para tersayang” – istilah akrab bagi penerima manfaat – kini bergerak cepat menuju kemandirian ekonomi melalui produksi kerajinan tangan bernilai pasar tinggi. Langkah ini bukan sekadar seremoni, melainkan operasi pemberdayaan terstruktur yang langsung menyasar kelompok rentan di pelosok Jawa Timur.
Intervensi Tepat di Titik Kritis
Tim DWP Kemensos tidak menunggu lama. Mereka menyasar lima kecamatan di Jombang yang sebelumnya minim intervensi program pemberdayaan disabilitas. Bantuan yang digelontorkan bersifat multi-layer: peralatan produksi lengkap, bahan baku unggulan, pelatihan desain produk, hingga akses pemasaran digital. Semua elemen dirancang agar penerima manfaat tidak bergantung pada bantuan tunai, melainkan mampu menciptakan rantai pasok sendiri. Di satu sentra di Kecamatan Diwek, misalnya, sepuluh penyandang disabilitas fisik kini sudah memproduksi tas anyaman sintetis dengan kapasitas 50 unit per minggu. Produk tersebut langsung dipasarkan melalui platform daring resmi DWP dan mendapat respons positif dari pembeli di luar Pulau Jawa.
Keterampilan Tangan Jadi Mesin Ekonomi
Potensi ekonomi yang terungkap di lapangan sangat signifikan. Penyandang disabilitas tunadaksa dan rungu wicara menunjukkan produktivitas luar biasa dalam mengolah rotan, kain perca, hingga limbah kayu jati Jombang menjadi produk bernilai jual. Lima sentra produksi baru berhasil diinisiasi dalam waktu kurang dari tiga bulan, masing-masing fokus pada produk unggulan: makrame, miniatur perahu khas Brantas, aksesori dari batok kelapa, dan suvenir berbasis budaya lokal. Yang lebih menggembirakan, omzet kumulatif dari seluruh sentra menembus angka Rp 50 juta hanya dalam dua bulan terakhir.
- 75 penyandang disabilitas terlibat aktif dalam seluruh siklus produksi dan pemasaran.
- 5 sentra produksi berdiri di tingkat kecamatan: Diwek, Peterongan, Mojoagung, Sumobito, dan Jombang kota.
- Rp 50 juta total nilai transaksi produk kerajinan hingga data terkini dihimpun.
- 3 platform digital (e-commerce DWP, marketplace nasional, dan media sosial) menjadi kanal penjualan.
- 100 persen penerima manfaat mendapat pelatihan literasi keuangan dan inkubasi wirausaha mikro.
Dari Bantuan Jadi Ekosistem Mandiri
“Kami tidak ingin sekadar memberi ikan, melainkan membangun kolam dan kail yang kuat. Mereka ini para tersayang yang harus punya ruang untuk berkontribusi, bukan hanya menerima,” ujar Ketua DWP Kemensos dalam kunjungan monitoring di Jombang. Pernyataan itu menegaskan pergeseran paradigma bantuan sosial: dari karitatif ke pemberdayaan produktif. Pendampingan tidak berhenti pada distribusi alat, tetapi berlanjut ke inkubasi bisnis mikro selama enam bulan ke depan, mencakup pelatihan pengemasan, sertifikasi produk, hingga akses ke pameran daerah. Hasil pemetaan cepat di lapangan menunjukkan bahwa penyandang disabilitas mampu bersaing di pasar terbuka jika diberi ekosistem yang tepat. Beberapa produk bahkan telah dilirik oleh hotel dan restoran lokal sebagai suvenir tamu.
Kegiatan ini sekaligus menjadi model percontohan integrasi program ATENSI dengan potensi ekonomi daerah. Pemerintah Kabupaten Jombang langsung merespons dengan menyediakan ruang pamer permanen di pusat oleh-oleh daerah. Sinergi ini diharapkan mempercepat transformasi penyandang disabilitas dari kelompok marginal menjadi pelaku ekonomi yang diperhitungkan. Tim lapangan DWP Kemensos menegaskan, dalam waktu 12 bulan ke depan, akan ada perluasan ke 10 kecamatan lain dengan replikasi skema serupa, memastikan tidak ada satu pun “para tersayang” yang tertinggal.
Baca juga:
Comments (0)