DKI Genjot Normalisasi Ciliwung Tanpa Calo, Target Atasi Banjir 2027
JAKARTA, DETIK INI JUGA — Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memulai babak baru pengendalian banjir dengan mengakselerasi normalisasi Kali Ciliwung. Strategi pembebasan lahan langsung, tanpa melibatkan...
JAKARTA, DETIK INI JUGA — Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memulai babak baru pengendalian banjir dengan mengakselerasi normalisasi Kali Ciliwung. Strategi pembebasan lahan langsung, tanpa melibatkan pihak ketiga, menjadi tulang punggung percepatan proyek yang dicanangkan tuntas paling lambat tahun 2027.
Langkah ini ditegaskan sebagai koreksi fundamental atas molornya proyek serupa di masa lalu. Dengan memangkas rantai birokrasi dan meniadakan perantara, Pemprov optimistis tidak akan ada lagi sandera lahan yang menghambat alat berat bekerja. Normalisasi tidak hanya menyasar Ciliwung, tetapi juga menyapu Kali Krukut dan Kali Cakung Lama sebagai satu paket penanganan terpadu.
Pola Baru: Eksekusi Tanpa Perantara
Pembebasan tanah selama ini kerap menjadi titik macet lantaran negosiasi berbelit yang melibatkan pihak ketiga. Kali ini, tim gabungan dari Dinas Sumber Daya Air dan Badan Pertanahan Nasional bergerak langsung mendatangi pemilik lahan. Pendekatan door to door dipilih untuk memastikan setiap bidang tanah yang masuk jalur normalisasi bisa dibebaskan dalam hitungan pekan, bukan bulan.
Data sementara yang dihimpun di lapangan menunjukkan setidaknya 12,4 kilometer bantaran Ciliwung di lima wilayah administrasi akan menjadi prioritas pembebasan tahap pertama. Anggaran telah dialokasikan melalui mekanisme dana siap pakai, sehingga pencairan kompensasi bagi warga bisa dilakukan paling lambat tujuh hari kerja setelah kesepakatan ditandatangani.
Target Rampung dan Lintasan Proyek
Kepala Dinas Sumber Daya Air mengonfirmasi bahwa target penyelesaian menyeluruh dipatok pada triwulan ketiga 2027. Sementara itu, untuk segmen Ciliwung di kawasan Bidara Cina dan Kampung Melayu—yang selama ini menjadi langganan banjir kiriman—dijanjikan sudah berfungsi normal pada penghujung 2026.
Tiga sungai menjadi tumpuan: Kali Ciliwung sebagai arteri utama, Kali Krukut yang membelah Jakarta Selatan dan Pusat, serta Kali Cakung Lama di sisi timur. Normalisasi Ciliwung akan memperlebar penampang sungai hingga 35 meter, sementara Krukut dan Cakung Lama masing-masing ditambah kapasitas tampungnya sebesar 40 persen dari kondisi eksisting.
Antisipasi Banjir Musiman
Percepatan ini bukan tanpa alasan. Catatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah menunjukkan bahwa genangan di bantaran Ciliwung meningkat 22 persen dalam tiga musim hujan terakhir. Tanpa normalisasi, debit air dari hulu Bogor berpotensi melumpuhkan jalur ekonomi utama di timur Jakarta.
Untuk menjaga akurasi, Pemprov memasang 78 titik sensor tinggi muka air yang terhubung langsung ke pusat komando. Data ini akan menjadi dasar pengerukan sedimen yang dijadwalkan berlangsung setiap tiga bulan sekali, bahkan di tengah proyek berjalan. “Kami tidak ingin ada dusta di atas peta; semua progres bisa dipantau warga secara waktu nyata,” ujar seorang pejabat teknis di lapangan.
Lapangan Kerja dan Relokasi
Efek domino proyek ini juga menyentuh sektor tenaga kerja. Tahap awal konstruksi menyerap sekitar 2.100 pekerja lokal yang direkrut dari kelurahan sekitar bantaran. Sementara itu, proses relokasi bagi 340 kepala keluarga di zona sempadan sudah mulai berjalan dengan menyiapkan tiga lokasi rumah susun sederhana sewa yang bisa ditempati tanpa uang muka.
Dengan pola langsung dan tanpa calo, Pemprov DKI berharap tidak hanya mempercepat infrastruktur, tetapi juga menutup celah kebocoran anggaran yang kerap muncul di proyek-proyek terdahulu. Hingga berita ini diturunkan, alat berat sudah mulai beroperasi di dua titik di Jakarta Timur, menandai bahwa hitung mundur Jakarta bebas banjir kian nyata.
Baca juga:
Comments (0)