Warga Lampung Swadaya Bangun Sekolah: Atap Nipah, Dinding Kayu
BREAKING — Sebuah bangunan sekolah dasar berdiri dari hasil patungan petani di pelosok Tanggamus, Lampung. Kondisinya saat awal berdiri jauh dari standar: beratap nipah, bertiang kayu bulat. Lokasi...
BREAKING — Sebuah bangunan sekolah dasar berdiri dari hasil patungan petani di pelosok Tanggamus, Lampung. Kondisinya saat awal berdiri jauh dari standar: beratap nipah, bertiang kayu bulat.
Lokasi tepatnya di Pedukuhan Batu Nyangka, Pekon Tanjung Raja, Kecamatan Cukuh Balak. Akses pendidikan yang nyaris mustahil dijangkau memicu aksi kolektif para orang tua. Mereka menolak menyerah pada keadaan.
Inisiatif Kolektif di Tengah Keterbatasan
Selama bertahun-tahun, anak-anak di pedukuhan itu belajar di rumah warga yang dipinjamkan. Tidak ada bangunan permanen. Tidak ada ruang kelas yang memadai. Situasi ini mendorong warga—mayoritas petani—mengumpulkan dana secara sukarela.
Hasil patungan digunakan membeli sebidang lahan kecil. Pada tahun 2000, bangunan sekolah swadaya itu akhirnya berdiri. Material yang digunakan sangat sederhana. Atapnya dari daun nipah. Tiang penyangganya kayu bulat hasil gotong royong.
- Lokasi: Pedukuhan Batu Nyangka, Cukuh Balak, Tanggamus
- Tahun berdiri: 2000
- Material awal: Atap nipah, tiang kayu bulat
- Jumlah murid pertama: 6 anak
- Harga lahan: Rp1.500.000 (hasil patungan)
Seorang tokoh masyarakat setempat menuturkan bahwa lahan tersebut dibeli dari warga, kemudian dihibahkan kepada pemerintah. Prosesnya panjang. Semangatnya tunggal: anak-anak harus sekolah.
Atap Seng dan Langit-langit yang Tak Kunjung Ada
Atap nipah bertahan beberapa waktu. Namun, saat siang hari, suhu di dalam kelas meningkat tajam. Para murid kepanasan. Belum ada plafon. Belum ada asbes. Warga kembali bergerak. Atap nipah diganti seng secara swadaya.
Meski demikian, kondisi bangunan masih jauh dari kata layak dibandingkan sekolah pada umumnya. Dinding kayu tetap dipertahankan. Lantai masih beralas tanah. Proses belajar-mengajar terus berjalan di tengah keterbatasan.
Gaji Guru Ditanggung Orang Tua
Tak hanya bangunan, tenaga pengajar pun dicari secara mandiri. Pada masa awal, dua guru didatangkan dari wilayah Gunungsari. Mereka mengajar dengan penghasilan yang ditanggung penuh oleh iuran warga.
Besaran gaji saat itu sekitar Rp100.000 per bulan per guru. Angka yang kecil, namun menjadi bukti keseriusan masyarakat dalam mendidik anak-anak mereka. Salah satu guru pertama yang tercatat adalah Hayani, yang mengabdi di tengah minimnya fasilitas.
Enam murid menjadi angkatan perdana sekolah itu. Jumlah yang terus bertambah seiring waktu. Kini, bangunan tersebut telah mengalami berbagai perbaikan meski belum sepenuhnya ideal.
UPDATE: Sekolah ini kemudian menjadi bagian dari SDN 1 Tanjung Raja Kelas Jauh. Statusnya telah diakui pemerintah. Namun, perjuangan warga dalam merintis pendidikan dari nol tetap menjadi catatan penting. Dari atap nipah, dinding kayu, hingga guru swadana—semua bermula dari patungan petani yang menolak anak-anak mereka putus sekolah.
Baca juga:
Comments (0)