JEMBER — Puluhan siswa Sekolah Rakyat sukses mencatatkan sejarah. Mereka menggebrak panggung Jember Fashion Carnaval 2026 dengan penampilan yang memukau dan sarat makna.
Aksi mereka langsung menyedot perhatian ribuan penonton yang memadati rute karnaval di pusat kota, Sabtu sore. Di bawah sorotan kamera, para siswa itu bergerak lincah mengenakan kostum daur ulang berdesain futuristik.
Kostum dari Limbah Plastik
Kreasi busana yang dikenakan seluruhnya dibuat dari sampah plastik rumah tangga. Botol bekas, kantong keresek, dan sedotan disulap menjadi gaun megah serta ornamen kepala yang artistik.
Koordinator program Sekolah Rakyat, Siti Nurhaliza, menyebut proyek ini sebagai wujud nyata pemberdayaan. "Anak-anak kami terbiasa hidup dengan keterbatasan. Tapi malam ini mereka menjadi bintang," ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
Persiapan selama empat bulan terakhir dilakukan dengan dukungan penuh dari komunitas relawan dan desainer lokal. Setiap akhir pekan, mereka berlatih koreografi dan menyempurnakan detail kostum.
Semangat yang Tak Terbendung
Tercatat 30 siswa usia 10–15 tahun ambil bagian dalam defile bertajuk "Harmoni Nusantara." Sebagian besar dari mereka berasal dari keluarga prasejahtera yang selama ini kesulitan mengakses pendidikan formal berkualitas.
"Ini bukan sekadar fashion show. Ini adalah panggung untuk membuktikan bahwa mimpi tidak boleh dibatasi oleh latar belakang," tegas Rudi Hartono, salah satu pelatih yang mendampingi proses kreatif para siswa.
Para penonton pun berdecak kagum. Tepuk tangan membahana saat mereka melewati panggung utama. Beberapa tamu undangan tampak mengabadikan momen dengan ponsel masing-masing.
Harapan Baru bagi Pendidikan Inklusif
Pengamat sosial budaya, Dr. Andini Pratiwi, menilai partisipasi Sekolah Rakyat di ajang internasional ini sebagai terobosan penting. Ia menyebutnya sebagai langkah konkret mengikis stigma dan membuka ruang ekspresi bagi anak-anak marginal.
"Ini pesan kuat bahwa potensi besar ada di mana-mana. Tinggal bagaimana kita memfasilitasi," katanya.
Pihak penyelenggara JFC pun menyambut antusias. Mereka berkomitmen untuk terus melibatkan lembaga pendidikan alternatif dalam edisi mendatang.
Sementara itu, Siti berharap pencapaian ini menjadi pemicu semangat bagi siswa Sekolah Rakyat lainnya. "Kami ingin mereka berani mengekspresikan potensi terbaiknya, karena setiap anak berhak mendapatkan panggung untuk bersinar," pungkasnya.
Comments (0)