Sep 18, 2026
Nasional

BP BUMN Arahkan Perhutani Fokus pada Bisnis Perdagangan Karbon

JAKARTA — Badan Pengelola BUMN (BP BUMN) secara resmi mengarahkan Perum Perhutani untuk melakukan transformasi bisnis mendasar dengan mengalihkan fokus uta

BP BUMN Arahkan Perhutani Fokus pada Bisnis Perdagangan Karbon

JAKARTA — Badan Pengelola BUMN (BP BUMN) secara resmi mengarahkan Perum Perhutani untuk melakukan transformasi bisnis mendasar dengan mengalihkan fokus utama dari industri kayu konvensional menuju perdagangan karbon (carbon trading). Langkah strategis ini diambil sebagai bentuk adaptasi terhadap isu perubahan iklim global sekaligus mengoptimalkan potensi nilai ekonomi karbon (NEK) dari kawasan hutan yang dikelola oleh negara.

Direktur Pengelolaan Perusahaan Umum (Perum) BP BUMN, Muhammad Khoerur Roziqin, menegaskan bahwa perubahan paradigma ini sangat krusial agar BUMN sektor kehutanan mampu bertahan, meningkatkan profitabilitas, dan memberikan kontribusi maksimal bagi pencapaian target Net Zero Emission (NZE) Indonesia pada tahun 2060.

Pergeseran Paradigma: Memaksimalkan Nilai Hutan Tanpa Menebang

Selama berpuluh-puluh tahun, model bisnis Perhutani bergantung pada hasil hutan kayu dan non-kayu. Namun, tren ekonomi hijau global memaksa terjadinya pergeseran strategi bisnis. Perdagangan karbon menawarkan skema di mana kawasan hutan yang terjaga mampu menghasilkan pendapatan finansial yang signifikan tanpa harus melakukan pemanenan pohon secara komersial.

"Transformasi ini bukan sekadar mengubah produk yang dijual, melainkan mengubah cara kita menghargai ekosistem hutan. Hutan yang tetap berdiri kini memiliki nilai ekonomi yang jauh lebih tinggi melalui kredit karbon dibandingkan hasil kayu tebangan," tegas Muhammad Khoerur Roziqin.

Dengan mengelola lebih dari 2,4 juta hektar kawasan hutan di Pulau Jawa, Perhutani memegang peranan kunci dalam ekosistem perdagangan karbon nasional. Potensi penyerapan karbon dari kawasan ini diperkirakan mencapai 10 hingga 15 juta ton CO2e per tahun, yang dapat dikonversi menjadi instrumen keuangan hijau.

Komparasi Model Bisnis Konvensional vs Berbasis Karbon

Transformasi bisnis ini membawa dampak finansial dan lingkungan yang signifikan bagi operasional Perhutani di masa depan:

Indikator Bisnis Model Konvensional (Kayu) Model Perdagangan Karbon
Sumber Utama Pendapatan Penjualan kayu tebangan & getah Sertifikat Kredit Karbon (SPE-GRK)
Dampak Lingkungan Risiko deforestasi & degradasi lahan Preservasi ekosistem & sekuestrasi karbon
Jangkauan Pasar Domestik & ekspor kayu terbatas Bursa Karbon IDX & Pasar Global
Proyeksi Pertumbuhan Stagnan (3–5% per tahun) Eksponensial (>15% per tahun)

Tahapan Strategis dan Roadmap Transformasi Perhutani

Proses pergeseran menuju bisnis perdagangan karbon memerlukan persiapan teknis dan regulasi yang matang. BP BUMN telah menyiapkan empat langkah strategis untuk memastikan Perhutani siap berpartisipasi aktif di Bursa Karbon Indonesia (IDX Carbon) maupun pasar internasional:

  1. Inventarisasi dan Pemetaan Baseline Karbon: Melakukan penghitungan akurat terhadap kapasitas penyerapan karbon di seluruh petak hutan lindung dan hutan produksi yang dikelola Perhutani.
  2. Sertifikasi Standar Nasional dan Global: Mengajukan pendaftaran kredit karbon ke Sistem Registri Nasional Pengendalian Perubahan Iklim (SRN-PPI) serta lembaga sertifikasi internasional seperti Verra (VCS).
  3. Pengembangan Kemitraan Strategis: Menggaet investor global dan perusahaan multinasional yang membutuhkan offset karbon melalui skema off-taker jangka panjang.
  4. Implementasi Digital Monitoring: Menggunakan teknologi penginderaan jauh (remote sensing) berbasis satelit dan drone guna memantau kondisi hutan secara real-time untuk mencegah kebocoran karbon (carbon leakage).

Dampak Ekonomi dan Komitmen Iklim Nasional

Pemerintah menargetkan nilai pasar perdagangan karbon Indonesia dapat mencapai lebih dari USD 300 miliar (sekitar Rp4.500 triliun) dalam beberapa dekade mendatang. Dengan mengarahkan Perhutani sebagai pemain utama, BP BUMN optimistis Indonesia tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga pemimpin pasar karbon di Asia Tenggara.

Langkah ini sekaligus memperkuat posisi BUMN dalam mendukung komitmen Nationally Determined Contribution (NDC) Indonesia untuk mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 31,89% secara mandiri atau 43,2% dengan dukungan internasional pada tahun 2030.

Direktur Pengelolaan Perum BP BUMN Muhammad Khoerur Roziqin mengarahkan Perhutani bertransformasi dari industri kayu ke penyerapan karbon (carbon offset). Dengan potensi penyerapan 10-15 juta ton CO2e/tahun, Perhutani siap menjadi pemain utama di Bursa Karbon Indonesia. Simak analisis selengkapnya di Beritatercepat.com!

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS pandu-rangga

Reporter Bencana. Spesialisasi mitigasi bencana dan tanggap darurat.

Comments (0)

User