Bocah 7 Tahun Diduga Disiksa Bibinya di Dairi, Polisi Selidiki Kasus
Seorang bocah laki-laki berusia tujuh tahun di Kabupaten Dairi, Sumatera Utara, kini menjalani perawatan medis di rumah sakit. Ia diduga menjadi korban kekerasan fisik yang dilakukan oleh bibinya send...
Seorang bocah laki-laki berusia tujuh tahun di Kabupaten Dairi, Sumatera Utara, kini menjalani perawatan medis di rumah sakit. Ia diduga menjadi korban kekerasan fisik yang dilakukan oleh bibinya sendiri. Kasus ini terungkap setelah bocah tersebut ditemukan warga dalam kondisi memprihatinkan.
Ditemukan Warga dalam Kondisi Luka-luka
Bocah berinisial AGP itu ditemukan di Jalan Merdeka, Kecamatan Sidikalang, Kabupaten Dairi. Warga yang menemukannya langsung melaporkan kejadian tersebut kepada polisi. Petugas dari Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Dairi segera bergerak ke lokasi setelah menerima laporan.
Kasi Humas Polres Dairi, AKP Syahril Ramadhan, membenarkan penemuan itu. Menurutnya, saat ditemukan, AGP dalam keadaan luka-luka di sejumlah bagian tubuh. Luka terlihat mulai dari area wajah hingga bagian kaki.
Pengakuan Anak: Ayah Dipenjara, Ibu Tak Diketahui
Dalam video yang sempat beredar luas, AGP mengungkapkan bahwa ayahnya sedang menjalani hukuman di penjara terkait kasus narkoba. Sementara itu, keberadaan ibunya tidak diketahui hingga saat ini. Ia juga menceritakan bahwa dirinya telah disiksa di tempat tinggalnya.
Rekaman berisi pengakuan tersebut tersebar cepat di media sosial dan memicu reaksi luas dari warganet. Banyak pihak menyesalkan kondisi yang dialami anak itu. Dukungan pun mengalir, baik berupa doa maupun desakan agar aparat menuntaskan kasus ini hingga tuntas.
Sempat Dilarang Dibawa Petugas
Saat petugas hendak membawa AGP untuk mendapatkan pertolongan, seorang wanita berinisial RS (53) datang menghampiri. Wanita itu sempat melarang polisi membawa anak tersebut. Setelah memperkenalkan diri, RS akhirnya memberikan izin kepada petugas.
AGP kemudian dibawa ke RSUD Sidikalang untuk mendapatkan perawatan medis. Saat ini, kondisi anak tersebut dilaporkan mulai stabil. Ia masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit di bawah pengawasan tim medis.
Bibi Jadi Sosok yang Paling Ditakuti
Berdasarkan pemeriksaan dan pendekatan yang dilakukan petugas, AGP menceritakan bahwa RS merupakan bibinya. Anak itu mengaku bahwa RS kerap melakukan tindakan kekerasan fisik terhadap dirinya. Syahril menjelaskan bahwa RS adalah sosok yang paling ditakuti oleh AGP.
Ketakutan itulah yang membuat AGP selama ini enggan menceritakan apa yang dialaminya kepada orang lain. Anak tersebut takut untuk melapor terkait perlakuan yang sudah diterimanya. Pendekatan khusus dari penyidik akhirnya berhasil membuat AGP bersedia membuka suara.
Hasil Visum: Luka Infeksi hingga Bernanah
Hasil pemeriksaan visum mengungkapkan sejumlah luka pada tubuh AGP. Luka ditemukan di bagian bibir, lebam di tangan kiri, serta luka yang sudah mengalami infeksi atau bernanah. Selain itu, terdapat luka pada kaki kanan korban yang juga mengalami infeksi.
Kondisi luka yang telah terinfeksi tersebut menunjukkan bahwa kekerasan diduga telah berlangsung dalam waktu yang cukup lama. Hal ini memperkuat dugaan bahwa AGP mengalami perlakuan kasar secara berulang. Penanganan medis pun dilakukan secara serius agar luka-luka itu tidak semakin parah.
Dua Korban dalam Satu Kasus
Pengungkapan kasus ini semakin berkembang setelah AGP menceritakan bahwa adiknya berinisial AP (6) juga mengalami luka-luka serupa. Polisi menyatakan bahwa terdapat dua korban dalam kasus kekerasan ini. Keduanya diduga menjadi sasaran tindakan kekerasan yang dilakukan oleh RS.
Keberadaan AP kini menjadi perhatian tambahan bagi penyidik. Petugas akan memastikan kedua anak tersebut mendapatkan perlindungan dan pendampingan yang layak. Proses pemulihan fisik maupun psikis kedua korban menjadi prioritas utama.
Polisi Masih Mendalami Motif
Sampai saat ini, penyidik Unit PPA Polres Dairi masih melakukan penyelidikan secara mendalam. Motif dan kronologi lengkap kekerasan tersebut masih terus didalami oleh petugas. Polisi belum memberikan keterangan lebih lanjut terkait dugaan pemicu peristiwa ini.
Syahril menegaskan bahwa pihaknya akan memproses kasus ini sesuai ketentuan hukum yang berlaku. Polisi juga mengimbau masyarakat untuk aktif melaporkan dugaan kekerasan terhadap anak. Dengan adanya laporan dari warga, kasus serupa dapat segera ditangani sebelum korban mengalami dampak yang lebih parah.
Fokus utama petugas saat ini adalah pemulihan kondisi AGP dan AP serta pengumpulan alat bukti yang kuat untuk proses hukum selanjutnya. Perlindungan terhadap anak-anak yang rentan menjadi sorotan utama dalam penanganan kasus ini. Publik pun menanti perkembangan penyelidikan dari kepolisian Dairi dalam waktu dekat.
Comments (0)