Bima Arya Serukan Keberlanjutan, Hapus Ego Sektoral demi Kemajuan

JAKARTA — Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya menyerukan agar setiap lini kepemimpinan, dari pusat hingga daerah, menempatkan keberlanjutan sebagai fondasi utama. Ia menegaskan bahwa pembangunan ja...

Jul 16, 2026 - 08:53
0 0
Bima Arya Serukan Keberlanjutan, Hapus Ego Sektoral demi Kemajuan

JAKARTA — Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya menyerukan agar setiap lini kepemimpinan, dari pusat hingga daerah, menempatkan keberlanjutan sebagai fondasi utama. Ia menegaskan bahwa pembangunan jangka panjang mustahil terwujud jika setiap pergantian pemimpin justru memutus rantai program yang sudah berjalan.

Mengapa Keberlanjutan Menjadi Krusial

Dalam berbagai kesempatan, Bima Arya kerap menyoroti fenomena proyek-proyek strategis yang mangkrak hanya karena perbedaan visi antar rezim. Menurutnya, siklus kepemimpinan lima tahunan sering kali diwarnai euforia membuat gebrakan baru, namun abai terhadap fondasi yang telah dibangun pendahulu. “Keberlanjutan bukan berarti anti-perubahan, melainkan memastikan setiap langkah maju tidak dimulai dari titik nol lagi,” begitu inti pesan yang ia sampaikan.

Ia mencontohkan sektor infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan yang memerlukan konsistensi kebijakan lebih dari satu periode. Tanpa adanya kesinambungan, alokasi anggaran menjadi tidak efisien dan kepercayaan publik terhadap pemerintah bisa tergerus. Maka, Bima Arya mendorong agar dokumen perencanaan daerah—yang sering kali diabaikan saat kepala daerah baru terpilih—kembali dijadikan acuan mutlak.

Ego Sektoral: Penghambat Utama

Selain keberlanjutan, Wamendagri ini juga menyoroti bahaya laten dari ego sektoral. Ia mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk meninggalkan sikap kedaerahan yang sempit dan mentalitas “proyekku, wilayahku”. “Kita tidak bisa membangun Indonesia hanya dengan berlomba-lomba menunjukkan siapa yang paling berkuasa di sektornya masing-masing,” tegasnya dalam forum koordinasi pemerintah daerah.

Ia merujuk pada masih maraknya disharmoni antar dinas di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota yang berujung pada tumpang tindih program. Akibatnya, dana pembangunan terserap untuk birokrasi yang tidak efektif, sementara target kesejahteraan masyarakat belum tercapai secara maksimal. Bima Arya menyerukan perlunya sinergi lintas sektor yang diikat oleh satu visi besar: kemajuan kolektif, bukan pencapaian institusi semata.

Panggilan untuk Pemimpin Masa Depan

Melalui refleksi kepemimpinannya, Bima Arya mengajak generasi pemimpin saat ini dan yang akan datang untuk membangun budaya politik yang matang. “Pemimpin sejati adalah mereka yang rela meletakkan batu pertama, meskipun belum tentu ia yang akan memotong pitanya.” Kalimat ini menjadi pengingat bahwa kemajuan sejati tidak diukur dari seremoni peresmian, melainkan dari dampak berkelanjutan yang dirasakan rakyat lintas generasi.

Ke depan, ia berharap agar proses kaderisasi kepemimpinan di birokrasi dan partai politik turut menanamkan nilai keberlanjutan. Dengan demikian, pergantian jabatan tidak lagi disertai kecemasan akan lenyapnya program-program prioritas. Masyarakat pun akan yakin bahwa setiap pemimpin memiliki andil mewujudkan Indonesia yang lebih maju, tanpa terjebak rivalitas sektoral yang sempit.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User