Bentrokan Lahan Ulayat di Adonara Tewaskan Tiga Warga
Sengketa lahan adat antara dua desa di Kecamatan Adonara Timur, Nusa Tenggara Timur, berubah menjadi duel maut yang menewaskan tiga warga. Bentrokan pecah tiba-tiba pada Minggu pagi saat warga Desa Na...
Sengketa lahan adat antara dua desa di Kecamatan Adonara Timur, Nusa Tenggara Timur, berubah menjadi duel maut yang menewaskan tiga warga. Bentrokan pecah tiba-tiba pada Minggu pagi saat warga Desa Narasaosina dan Waeburak saling serang menggunakan senjata tradisional.
Lahan Ulayat Jadi Pemicu
Konflik ini bukan kali pertama. Kedua desa telah berselisih klaim atas sebidang lahan ulayat yang dianggap bernilai strategis. Meski sudah beberapa kali mediasi, ketegangan meledak setelah salah satu pihak diduga memasang patok di wilayah sengketa. Massa dari kedua kubu lantas bergerak ke lokasi dan bentrokan tak terhindarkan.
Kronologi Serangan Brutal
Menurut saksi mata, sekitar pukul 06.30 WITA, puluhan warga dari kedua desa bertemu di perbatasan. Mereka bersenjatakan parang, tombak, dan panah. Aksi saling lempar batu berlangsung selama hampir dua jam. Setelah itu, kelompok bersenjata mulai bergerak maju dan terjadi perkelahian jarak dekat. "Saya melihat tiga orang jatuh bersimbah darah. Dua di antaranya langsung tewas di tempat," ujar seorang saksi yang enggan disebutkan namanya.
Korban Jiwa dan Luka-luka
Data sementara dari Puskesmas setempat mencatat tiga orang meninggal dunia. Dua korban berasal dari Desa Narasaosina dan satu dari Desa Waeburak. Selain itu, sedikitnya enam orang dilarikan ke rumah sakit dengan luka bacok dan tusuk. Berikut identitas korban meninggal:
- Korban dari Narasaosina: dua laki-laki berusia 35 dan 42 tahun, keduanya terkena sabetan parang di kepala dan leher.
- Korban dari Waeburak: seorang pria berusia 29 tahun, tewas akibat tusukan tombak di dada.
Evakuasi dan Keamanan Diperketat
Personel Polres Adonara dan TNI tiba di lokasi sekitar pukul 09.00 WITA. Mereka langsung mengevakuasi korban dan mengamankan titik-titik rawan. "Kami mengerahkan 50 personel untuk meredam situasi. Saat ini kondisi mulai kondusif meski warga masih tegang," kata Kapolres setempat. Pihaknya juga menyita puluhan senjata tajam dan panah dari lokasi kejadian.
Mediasi Darurat Digelar
Pemerintah kecamatan bersama tokoh adat kedua desa langsung menggelar pertemuan darurat. Mereka bersepakat untuk menahan diri dan menarik massa dari perbatasan. "Kami berharap tidak ada lagi korban. Masalah lahan akan diselesaikan melalui jalur hukum adat dan negara," ujar Camat Adonara Timur. Sementara itu, keluarga korban meminta keadilan dan proses hukum yang transparan.
Langkah Hukum Selanjutnya
Polda NTT telah menurunkan tim investigasi untuk menyelidiki penyebab pasti bentrokan. Sejumlah saksi telah dimintai keterangan. Polisi belum menetapkan tersangka, namun mengantongi identitas sejumlah orang yang diduga sebagai provokator. "Kami akan memproses siapa pun yang terbukti melakukan kekerasan yang mengakibatkan hilangnya nyawa," tegas Kabid Humas Polda NTT.
Situasi di Adonara kini dalam pengawasan ketat. Aparat keamanan mendirikan pos pantau di titik perbatasan desa. Tokoh masyarakat juga berkeliling untuk menenangkan warga. Pemerintah daerah berjanji mempercepat penyelesaian sengketa lahan ulayat agar tragedi serupa tidak terulang.
Comments (0)