Bau Gas Maut Tercium dari Gorong-gorong Tempat 3 Pekerja Tewas di Jaktim
JAKARTA, detikini juga – Bau menyengat menyerupai gas beracun kembali tercium dari gorong-gorong di Jakarta Timur yang menjadi lokasi tewasnya tiga pekerja, pagi tadi. Saksi mata yang masih berada d...
JAKARTA, detikini juga – Bau menyengat menyerupai gas beracun kembali tercium dari gorong-gorong di Jakarta Timur yang menjadi lokasi tewasnya tiga pekerja, pagi tadi. Saksi mata yang masih berada di sekitar lokasi langsung melaporkan aroma tajam tersebut, memicu respons darurat dari tim penanganan bahan berbahaya.
Kronologi Singkat
- Pukul 10.00 WIB: Tiga pekerja ditemukan tewas di dalam gorong-gorong saat membersihkan saluran tanpa alat keselamatan.
- Beberapa menit setelah evakuasi: Bau menyengat, diduga hidrogen sulfida (H2S), tercium oleh warga sekitar.
- Lokasi: gorong-gorong di kawasan padat penduduk Jakarta Timur, alamat lengkap masih dirahasiakan untuk kepentingan penyelidikan.
- Radius pengamanan: 150 meter, garis polisi terpasang, evakuasi warga dilakukan.
Ketiga korban, yang hingga kini belum diungkap identitasnya, diduga kuat meninggal akibat keracunan gas akut. Mereka bekerja tanpa alat pelindung diri standar, seperti masker respirator dan detektor gas portabel. Hal ini menimbulkan tanda tanya besar soal pengawasan keselamatan kerja.
Kesaksian Mengejutkan
Sapto (52), warga yang tinggal 30 meter dari gorong-gorong, menuturkan detik-detik mencekam. “Bau itu seperti telur busuk bercampur karet terbakar. Saya langsung pusing dan mata perih. Anak saya muntah-muntah. Kami langsung lari menjauh,” ceritanya dengan suara bergetar. Sapto dan keluarganya kini mengungsi sementara ke rumah kerabat.
Kesaksian serupa datang dari Nur (29), pemilik warung di dekat lokasi. “Sebelumnya tidak ada bau. Begitu para pekerja diangkat, tiba-tiba hembusan bau itu keluar. Saya takut itu racun yang bisa menyebar,” ujarnya. Beberapa warga lain melaporkan gejala serupa: sakit kepala, mual, dan iritasi tenggorokan.
Tindakan Darurat
Tim Hazmat dari Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Jakarta Timur tiba di lokasi 15 menit setelah laporan masuk. Mereka langsung mengukur konsentrasi gas dan mendeteksi adanya hidrogen sulfida dalam kadar berbahaya, melebihi ambang batas aman (10 ppm). “Kami masih melakukan penyedotan dan ventilasi paksa untuk menurunkan kadar gas. Area ini belum aman,” ungkap Komandan Regu Hazmat, Kapten Dito.
Polisi mengevakuasi seluruh warga dalam radius 150 meter. Belum ada laporan korban jiwa tambahan, namun dua warga dilarikan ke Puskesmas terdekat karena sesak napas. Arus lalu lintas di sekitar lokasi dialihkan. Pihak kepolisian berjanji akan terus memperbarui informasi setiap perkembangan.
Ancaman Gas di Ruang Terbatas
Hidrogen sulfida adalah gas sangat beracun yang sering ditemukan di saluran pembuangan, sumur, dan gorong-gorong. Gas ini dapat melumpuhkan sistem pernapasan dalam hitungan menit pada konsentrasi tinggi. Kematian tiga pekerja ini diduga akibat paparan langsung tanpa deteksi dini. Pakar K3 dari Universitas Indonesia, Dr. Ratna, menekankan pentingnya prosedur “uji gas, izin masuk, dan pantau terus-menerus” sebelum pekerja memasuki ruang terbatas. “Ini kecelakaan yang seharusnya bisa dicegah,” tegasnya. Penggunaan gas detector portabel menjadi kewajiban mutlak.
Sementara itu, Dinas Tenaga Kerja akan memeriksa kontraktor yang mempekerjakan para korban. Sanksi tegas mengancam jika terbukti ada kelalaian dalam penyediaan alat keselamatan.
Kasus ini menjadi peringatan keras bagi semua pihak yang berkecimpung di pekerjaan berisiko tinggi. Publik menanti hasil investigasi menyeluruh dan langkah konkret pencegahan.
(detikini juga / tim cepat)
Baca juga:
Comments (0)